KULINER KLATEN : Duri Nila, Kuliner Ponggok yang Layak Dicoba

Anggota PKK Ponggok membuat camilan berbahan nila, Rabu (8/3/2017). (Ponco Suseno/JIBI - Solopos)
09 Maret 2017 04:30 WIB Ponco Suseno Lifestyle Share :

Kuliner Klaten yang satu ini layak dicoba.

Solopos.com, KLATEN -- Umumnya, pencinta kuliner ikan nila membuang duri sewaktu menyantap ikan tawar tersebut. Di Ponggok, duri ikan nila justru menjadi bahan dasar camilan yang kemriuk. Berkat sentuhan puluhan anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Ponggok Kecamatan Polanharjo,duri ikan nila justru menjadi camilan yang bernilai ekonomis.

Duri ikan nila di Ponggok dibuat menjadi stik yang digemari pencinta kuliner di Ponggok dan sekitarnya. Gagasan membuat camilan stik dari duri ikan nila itu berawal dari melimpahnya stok ikan nila di Ponggok. Produksi ikan nila dalam satu bulan mencapai puluhan ton.

Saking banyaknya produksi ikan nila di Ponggok menginspirasi anggota PKK Ponggok untuk memodifikasi cara menikmati ikan tawar tersebut. Hal ini sekaligus untuk menambah daya guna berbagai ikan nila, termasuk bagian durinya.

“Kegiatan mengolah duri ikan nila menjadi stik ini sudah dimulai tahun 2014. Dengan memanfaatkan duri ikan, kami bisa meningkatkan harga ikan nila itu sendiri. Biasanya, ikan nila dijual dengan harga Rp27.000 per kilogram. Sewaktu diolah menjadi berbagai camilan, termasuk stik duri ikan nila, harganya bisa berlipat-lipat [hingga Rp240.000 per kilogram setelah ditambahi bahan lainnya, seperti gandum, minyak, dan lain sebagainya],” kata Ketua PKK Ponggok, Ratnasari Irawati Sugiarto, 36, saat ditemui wartawan di Ponggok, Rabu (8/3/2017).

Ratnasari mengatakan pembuatan stik dari duri ikan nila cukup mudah. Semula, duri ikan dipresto sampai hancur dan diblender dengan campuran tepung. Setelah itu dicampur bumbu, seperti bawang, garam, dan aneka bumbu lainnya. Terakhir, campuran ikan dan tepung yang mirip adonan itu dipotongi panjang-panjang agar menjadi stik sebelum dimasak.

“Perbandingan bahan dasarnya, biasanya 25 persen duri ikan, 75 persen bahan lainnya, seperti tepung, minyak, aneka bumbu, dan lain sebagainya. Stik duri ikan nila ini kami pasarkan di Umbul Ponggok setiap harinya,” katanya.

Lima Kelompok

Ratnasari mengatakan jumlah anggota PKK Ponggok mencapai 50-an orang. Dari jumlah tersebut, terbagi dalam lima kelompok, yakni Nila Murni 1 yang mengolah nugget ikan nila, otak-otak ikan nila, stik duri ikan nila; Nila Murni 2 mengolah abon ikan nila, abon ikan lele, keripik kulit lele, pastel; Nila Murni 3 mengolah cipir; Nila Murni 4mengolah pangsit ikan nila, rambak kulit ikan nila; Nila Murni 5 mengolah egg rollikan nila, rengginang ikan nila. Hasil pembuatan camilan berbahan utama ikan nila itu berkisar Rp3.000-Rp17.500 per bungkus. Untuk nugget ikan nila senilai Rp70.000 per kilogram. Seluruh pengolahan camilan tersebut tidak menggunakan bahan pengawet.

“Pembuatan aneka camilan dari ikan nila itu memberdayakan ibu-ibu di Ponggok. Setiap harinya, ibu-ibu itu dibayar Rp30.000 per hari. Dalam sehari, bisa mengolah 25 kilogram ikan nila. Camilan ini kami pasarkan di toko desa di Ponggok dan Umbul Ponggok [pengunjung Umbul Ponggok memperoleh camilan khas Ponggok berbahan utama ikan nila setelah membeli tiket masuk umbul senilai Rp15.000. Berat camilan berbahan utama ikan nila sekitar empat ons per bungkus]. Ke depan, kami akan pasarkan juga ke online. Omzet per bulan berkisar Rp100 juta-Rp125 juta,” katanya.

Salah satu anggota PKK Ponggok, Ngatini, 55, mengatakan pengolahan ikan nila menjadi berbagai macam camilan memberikan dampak positif ke ibu rumah tangga di Ponggok. Ngatini bertugas menggoreng stik duri ikan nila setiap harinya.

“Yang bertugas menggoreng stik duri ikan nila saya dan Mbah Fatimah. Kami berdua bergantian menggoreng. Saat bertugas [menggoreng], harus diolak-alik terus agar tidak gosong. Jadi, harus fokus,” kata Ngatini.

 

Tokopedia