WISATA SOLORAYA : Pesona Unik Desa Wisata Organik Sragen

Wisata alam di Desa Jetis, Kecamatan Sambirejo, Sragen. (Mariyana Ricky/JIBI - Solopos)
10 Maret 2017 08:00 WIB Lifestyle Share :

Wisata Soloraya keunikan desa organik di Sragen menjadi daya tarik.

Solopos.com, SRAGEN -- Bumi Sukowati tak memiliki bentang alam yang luas. Namun, kabupaten yang baru berulang tahun ke-270 ini menyimpan puluhan objek wisata tersembunyi. Selasa (17/1/2017), Solopos.com berkesempatan menjelajah sebagian wilayah Kabupaten Sragen yang berada di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Kecamatan Sambirejo.

Solopos.com mengunjungi Air Terjun Teleng dan Pemandian Air Panas Sendang Panguripan di Dusun Sambilenguk, Desa Jetis. Berjarak sekitar 30 menit dari pusat Kota Sragen, dua objek wisata tersebut dapat dengan mudah ditempuh.

[caption id="attachment_800079" align="alignleft" width="370"]http://images.harianjogja.com/2017/03/Sungai-Sambilenguk-banjir-bandang-akibat-hujan-deras..jpg">http://images.harianjogja.com/2017/03/Sungai-Sambilenguk-banjir-bandang-akibat-hujan-deras.-370x242.jpg" alt="Sungai Sambilenguk Sragen (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)" width="370" height="242" /> Sungai Sambilenguk Sragen (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)[/caption]

Rute singkatnya dari Jl. Raya Sukowati, pengunjung dapat berbelok menuju Jl. Veteran atau Jl. Hos Cokroaminoto menuju Jl.RA Kartini lalu meneruskan perjalanan ke Jl.Sragen-Sambirejo hingga menemui papan petunjuk bertuliskan Pemandian Air Panas Ngunut.

Dari papan tersebut diarahkan untuk membelokkan kendaraan melintasi jalan makadam beton yang berukuran lebih sempit. Rute itu menjadi satu-satunya akses menuju pemandian air panas. Jalan panjang dan berkelok membuat sensasi perjalanan siang itu terasa menantang. Di samping kanan-kiri, didapati sawah terasing yang pesonanya memanjakan mata.

Lapisan pepadian yang menghijau berpadu apik dengan rimbun perbukitan di baliknya, beserta deretan pohon kelapa. Gemericik air sungai yang membentur batu kali menambah suasana pedesaan makin terasa. Tidak berapa lama kemudian, perjalanan 7 KM dari Jl. Sambirejo-Sragen tersebut berakhir. Spanduk melintang yang menandai lokasi Pemandian Air Panas Sambilenguk menyambut.

Ada dua kolam besar yang sudah lama ditinggalkan. Namun, bagi pengunjung yang berniat mandi air panas, tersedia empat kamar mandi tertutup. Masing-masing kamar mandi dilengkapi bak rendam berukuran 150x50 cm. Toilet bilas melengkapi objek wisata sederhana itu.

Sekitar 10 menit berada di lokasi, sejumlah pengunjung dari berbagai daerah mulai berdatangan. Dari plat nomor kendaraan, tersirat bahwa mereka berasal dari kabupaten tetangga.

“Saya sudah tiga kali berkunjung untuk menyembuhkan penyakit gatal yang diderita istri dan putri saya. Air panas belerang di tempat ini cukup berkhasiat menyembuhkan gatal-gatal,” kata Yatno, 50, warga Kecamatan Kerjo, Karanganyar, Selasa.

Belerang

[caption id="attachment_800077" align="alignleft" width="370"]http://images.harianjogja.com/2017/03/Empat-kamar-mandi-tertutup-tersedia-bagi-pengunjung-yang-ingin-menikmati-berendam-air-panas-alami..jpg">http://images.harianjogja.com/2017/03/Empat-kamar-mandi-tertutup-tersedia-bagi-pengunjung-yang-ingin-menikmati-berendam-air-panas-alami.-370x278.jpg" alt="Empat kamar mandi di Desa Wisata Organik Sragen (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)" width="370" height="278" /> Empat kamar mandi di Desa Wisata Organik Sragen (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)[/caption]

Yatno menyebut air belerang di Sambilenguk lebih panas dibanding  tempat pemandian lainnya di Sambirejo, yakni Bayanan. Setiap kali berkunjung, ia selalu berendam selama kurang lebihnya 30 menit. “Baru sekali datang gatalnya sudah berkurang. Makanya kami kembali dengan harapan sembuh total,” ujarnya.

Hal berbeda disampaikan, Mamo, 53, warga Kampung Mageru, Kelurahan Sragen Tengah, Sragen. Ia mengaku berendam air panas untuk menghilangkan pegal sekaligus berharap dapat meredakan penyakit asma yang dideritanya. “Rasanya setelah mandi itu di badan kaku. Jadi harus dibilas. Tapi saat berendam, saya merasa badan lebih enakan,” ucapnya.

Untuk menikmati sumber air panas alami tersebut dikenai tarif Rp5.000 per orang. Setiap orang diberi kesempatan maksimal 20 menit berendam saat kondisi ramai. Menurut warga Dusun Sambilenguk RT007 Desa Jetis, Kecamatan Sambirejo, Sularto, pemandian air panas tersebut telah ada sejak belum ada penduduk yang menghuni dusun. Sejumlah penelitian menyebut kompleks pemandian ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataran Kuno.

Hal tersebut dapat dilihat dari sejumlah arca bebatuan yang ditemukan di lokasi. Pada masa itu, arca yang berada di lokasi kerap digunakan untuk ngalap berkah. Sularto mengatakan pada 1970an, Kolam Pemandian Ngunut dibangun oleh Bupati Sragen saat itu, Srinardi. Arca yang ada diberi peneduh semacam rumah-rumahan kecil. Saat peresmian dilakukan penyembelihan seekor kerbau yang kepalanya ditanam di tengah kolam renang utama," ucapnya.

Grojogan

Destinasi tersebut ramai pada 1970an, namun tidak lagi beroperasi sekitar 1980an. Kompleks pemandian akhirnya dibuka kembali 5 tahun lalu atau pada 2011.Usai berbincang dengan Sularto, saya lantas berjalan kaki menuju Air Terjun Teleng. Namanya diambil dari bahasa Jawa, pusat, lantaran air terjun alias grojokan itu berada di aliran hulu Sungai Sambilenguk.

[caption id="attachment_800080" align="alignleft" width="370"]http://images.harianjogja.com/2017/03/Pesona-pematang-sawah-organik-di-Desa-Jetis-Kecamatan-Sambirejo-Sragen.jpg">http://images.harianjogja.com/2017/03/Pesona-pematang-sawah-organik-di-Desa-Jetis-Kecamatan-Sambirejo-Sragen-370x278.jpg" alt="Pematang sawah di desa organik Sragen (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)" width="370" height="278" /> Pematang sawah di desa organik Sragen (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)[/caption]

Objek wisata baru ini melengkapi ragam aktivitas seru yang bisa dilakukan di Desa Jetis. Desa tersebut terkenal sebagai penghasil padi organik dan kerap menjadi jujugan pencinta wisata edukasi, alam, dan pedesaan. Grojokan Teleng hanya berjarak 300 meter dari pemandian air panas. Dari jalan desa, akses ke air terjun wajib melewati jalan setapak tepi hutan.

Seterusnya perjalanan dilakukan menembus pematang sawah, lahan kunyit milik warga sekitar, dan Hutan Bulu. Menurut cerita masyarakat setempat, dulu hutan itu banyak ditumbuhi pohon bulu sehingga penduduk setempat memberi nama Alas Bulu.Perlu berhati-hati saat melintasi jalan setapak tersebut karena cukup licin dan berada di tepian tebing.

Dari lokasi itu, gemericik air mulai terdengar riuh. Lokasi air terjun tersebut dikelilingi bukit sehingga cukup tersembunyi. Untuk menyaksikan jatuhnya air dari ketinggian, pengunjung perlu menuruni batu di tepian sungai. Sayangnya, hujan deras semalaman membuat air sungai meluap sehingga saya tak bisa turun.

Menurut informasi, beberapa orang kerap memanfaatkan luweng tempat jatuhnya air tersebut untuk sekadar mandi atau berenang mendinginkan badan. Kedalaman luweng di Grojokan Teleng mencapai lima meter sehingga pengunjung sebaiknya hanya berenang di tepian. Lokasinya yang teduh cocok bagi siapapun yang ingin berburu kesejukan. Dikelilingi tebing dan rimbun pepohonan, Grojokan Teleng boleh dikatakan wisata alam yang masih perawan.