PELUANG USAHA : Lada Berharga Puluhan Juta dari Musuk Boyolali

Buah lada siap panen pada Agustus (Mariyana Ricky PD/JIBI - Solopos)
11 Maret 2017 03:00 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Lifestyle Share :

Peluang usaha tanaman lada ternyata menggiurkan.

Solopos.com, BOYOLALI -- Tanaman lada tumbuh merambat sampai ketinggian 5 meter yang melingkar di batang pohon tumpangsari maupun tiang. Komoditi bumbu dapur ini menjadi salah satu sumber pendapatan Harto Suwiryo, selama puluhan tahun.

[caption id="attachment_800496" align="alignleft" width="240"]http://images.harianjogja.com/2017/03/Harto-Suwiryo-berfoto-dengan-Peneliti-Balittro-Bogor-Endang-Hadipoentyanti-saat-kunjungan-beberapa-waktu-lalu.-Istimewa.jpg">http://images.harianjogja.com/2017/03/Harto-Suwiryo-berfoto-dengan-Peneliti-Balittro-Bogor-Endang-Hadipoentyanti-saat-kunjungan-beberapa-waktu-lalu.-Istimewa-240x320.jpg" alt="Harto Suwiryo berfoto dengan Peneliti Balittro Bogor, Endang Hadipoentyanti. (Istimewa)" width="240" height="320" /> Harto Suwiryo berfoto dengan Peneliti Balittro Bogor, Endang Hadipoentyanti. (Istimewa)[/caption]

Warga Dusun Suden RT007/RW003 Desa Dragan, Kecamatan Musuk, Boyolali itu merasakan manis getirnya budidaya laba, termasuk saat erupsi Merapi beberapa waktu lalu.

Di desa yang hanya berjarak 10 KM dari puncak Merapi itu, lahan ladanya berhasil melewati hujan abu. Padahal, tanaman lada milik warga lain hampir seluruhnya terbakar. “Di lahan sekira 400 m2, saya menanam 45 batang lada yang dirambatkan di pohon kliriside. Umurnya sudah 10 tahunan lebih. Mulai panen sejak tahun ke-3,” kata dia kepada Solopos.com, Kamis (2/3/2017).

Pria 60 tahun itu mengurai 45 batang lada itu sedikitnya menghasilkan Rp20an juta tiap tahun dengan kapasitas produksi menyampai 1,5 kuintal lada kering. Saat harga naik, lada putih panennya dihargai hingga Rp200.000 per kg. Sementara saat harganya rendah, paling hanya ditawar Rp120.000 per kg.

3 Kg

“Tiap pohon setidaknya menghasilkan 3 kg lada kering, meskipun tidak pasti karena tergantung cuaca. Saat musim penghujan seperti sekarang ini, ada tanaman yang kena busuk pangkal patang. Virus ini termasuk mematikan karena langsung membuat tanaman kering. Awalnya, daunnya menguning, buahnya tidak penuh, lambat laun mati,” jelasnya.

Harto mengingat harga lada sempat membumbung tinggi hingga Rp200.000 pada 2013-2014 lalu. Saat itu, ia mengaku panen raya dengan laba yang lumayan.

“Tanaman saya itu sampai sekarang enggak pernah disemprot pestisida. Bukannya tidak mau menyemprot, tapi saya, termasuk petani lain, enggak paham obatnya. Jadi, perawatannya sekadar pemupukan, penyiraman saat musim kemarau, dan pemangkasan,” tutur Harto.

[caption id="attachment_800497" align="alignleft" width="240"]http://images.harianjogja.com/2017/03/Tanaman-lada-berumur-hampir-10-tahun-milik-Harto-Suwiryo-Rabu-1-3.jpg">http://images.harianjogja.com/2017/03/Tanaman-lada-berumur-hampir-10-tahun-milik-Harto-Suwiryo-Rabu-1-3-240x320.jpg" alt="Tanaman lada berumur hampir 10 tahun milik Harto Suwiryo. (Mariyana RIcky/JIBI/Solopos)" width="240" height="320" /> Tanaman lada berumur hampir 10 tahun milik Harto Suwiryo. (Mariyana RIcky/JIBI/Solopos)[/caption]

Pemupukan lada dilakukan dua kali setahun. Kali pertama diberikan pasca panen, dan setelahnya pada fase generatif atau pembentukan tunas dan buah. Setiap batang sekurangnya membutuhkan pupuk kandang 15-25kg/tahun dan pupuk NPK 5kg/tahun.

“Pasca panen sampai muncul tunas buah itu panjang sekali, sampai 8 bulan. Hitungannya panen dilakukan pada Agustus, nah setelah itu dilakukan pemupukan dan diulangi lagi saat muncul tunas,” ungkap dia.

Untuk 45 batang lada milik Harto, biaya pupuk yang dibutuhkan sekitar Rp3 juta. Biaya lebih dikeluarkan untuk membeli air saat musim kemarau setiap dua pekan sekali selama enam bulan. Sehingga jika ditambah biaya pegawai, kebutuhan perawatannya berkisar Rp6 juta. “Kalau rata-rata panen sampai 1,5 kuintal dikalikan harga jual standar Rp160.000, maka pendapatan kotornya Rp24 juta,” tandasnya.