Begini Pendapat Dokter Soal Bahaya Skip Challenge

Skip Callenge yang sedang ngetren di Indonesia. (Istimewa - Instagram)
11 Maret 2017 17:30 WIB Jafar Sodiq Assegaf Lifestyle Share :

Dokter Eni mengatakan ada banyak sel-sel otak yang mati akibat pasokan oksigen berkurang drastis.

Solopos.com, SOLO – Permainan berbahaya http://solopos.com/?p=800296">Skip Challenge viral di media sosial. Menteri Pendidikan dan Kebudayan RI Prof Muhadjir Effendy telah mengeluarkan instruksi kepada guru/wali kelas untuk melarang siswa atau peserta didiknya permainan baru tersebut.

"Kepala guru, terutama wakil kepala sekolah kesiswaan untuk memantau dan melarang anak-anak untuk melakukan itu [bermain Skip Challenge]," kata Mendikbud Muhadjir saat memberikan kuliah umum bertajuk Strategi Penguatan LPTK Dalam Menyiapkan Guru Masa Depan, Jumat (10/3/2017), di UPI Kota Bandung.

(Baca Juga: http://m.solopos.com/2017/03/10/skip-challenge-tren-berbahaya-yang-kembali-ngetop-di-indonesia-800296">Skip Challenge Ngetop Lagi di Indonesia)

Dihimpun Solopos.com dari laman Wikipedia dan Nobullying.com, Jumat (10/3/2017), skip challenge memiliki banyak sekali sebutan, selain dua sebutan di atas, aktivitas tersebut juga disebut choking game dan space monkey challenge.

Meski dilakukan dengan beberapa cara berbeda, skip Challenge dan nama-nama lain tersebut memiliki tujuan sama, yakni secara sengaja dan sementara memotong pasokan oksigen ke otak. Orang yang melakukan aktivitas tersebut akan pingsan selama beberapa saat dan merasakan euforia. Laman nobullying menyebut skip challenge sebagai cara merasakan sensasi mengganja tanpa memasukan obat terlarang itu.

Tidak ada catatan pasti kapan pertama kali tantangan ini muncul, catatan terjauh mengenai skip challenge sudah ada sejak 1995. Di kalangan remaja, alasan mereka mau melakukan skip challenge pun beragam. Ada yang melakukan itu karena tekanan teman sebaya, keinginan untuk menjadikan masa sekolah memiliki kenangan yang tak terlupakan, demi popularitas, dan demi mengikuti apa yang dilakukan teman-teman dekat.

Skip challenge nyatanya sangat berbahaya karena berpotensi menyebabkan hipoksia, kejang, pingsan, kerusakan otak, bahkan kematian. Saat melakukan skip challenge mereka meniru kondisi kekurangan napas. Itu menghentikan otot dada bergerak, sehingga oksigen minim di otak.

Meski kesadaran bisa kembali, namun ada risiko lain dari skip challenge, yakni terjatuh atau cedera setelah siuman dari pingsan. Di samping itu, jika otak kekurangan oksigen lebih dari tiga menit maka bisa mengakibatkan kerusakan, bila lebih dari 5 menit akibatnya jauh lebih fatal. Cukup menahan napas dengan dada dipukul oleh orang lain, orang tersebut merasakan pingsan sesaat.

Melihat fenomena yang beredar, dr Eni Gustina, MPH, Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI, angkat bicara mengenai soal ini. "Ini isu baru dan anak-anak kadang-kadang punya inovasi yang aneh-aneh. Padahal otak kita dalam waktu 8 detik tidak mendapatkan oksigen, bisa terjadi kerusakan pada sel-sel otaknya," jelas dr. Eni di Gedung Kemenkes RI, Kuningan, Jakarta Selatan, dikutip Solopos.com dari Okezone, Sabtu (11/3/2017).

Ia menambahkan, ketika dada ditekan, maka tubuh tidak mendapatkan pasokan oksigen. Hal ini bisa berakibat kematian pada sel-sel otak dan berpengaruh pada kemampuan berpikirnya. "Ketika dada ditekan, otak tidak mendapatkan oksigen. Ada berapa banyak sel-sel otaknya yang mati. Bisa jadi intelegensinya berkurang, daya pikirnya juga berkurang," jelasnya.

(Baca Juga: http://m.solopos.com/2017/03/10/begini-cara-mendeteksi-bocah-yang-pernah-lakukan-skip-challenge-800294">Cara Mendeteksi Bocah yang Pernah Melakukan Skip Out Challenge)

Anak perlu mendapatkan pengertian baik dari pihak sekolah maupun orangtuanya. Meskipun anak menghabiskan waktunya di sekolah, Eni menegaskan bukan berarti orangtua menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah. Harus tetap ada komunikasi antara anak dan orangtua.

Tokopedia