PELUANG USAHA : 8.000 Batang Krisan Desa Mriyan Boyolali

Krisan di Desa Mriyan, Boyolali ada yang dibatasi sampai berbatang tiga. (Mariyana Ricky/JIBI - Solopos)
29 Maret 2017 07:00 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Lifestyle Share :

Pertanian Boyolali, di kaki Gunung Bibi tengah dikembangkan budidaya krisan.

Solopos.com, BOYOLALI -- Desa Mriyan, Kecamatan Musuk, Boyolali yang berada di kaki Gunung Bibi, lereng sisi timur Gunung Merapi dikenal sebagai penghasil bunga mawar tabur.

[caption id="attachment_805389" align="alignleft" width="370"]http://images.harianjogja.com/2017/03/krisan-kuning.jpg">http://images.harianjogja.com/2017/03/krisan-kuning-370x278.jpg" alt="Krisan kuning di Desa Mriyan, Boyolali (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)" width="370" height="278" /> Krisan kuning di Desa Mriyan, Boyolali (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)[/caption]

Sejak akhir tahun lalu, desa ini merintis budidaya krisan, bunga potong yang memiliki nilai jual tinggi. Krisan yang bernama latin Chrysanthemum indicum itu rupanya cocok dibudidayakan di Desa Mriyan.

Hawa dingin di wilayah tersebut memungkinkan seruni, nama lain bunga itu, untuk bertumbuh. Kepala Desa Mriyan, Suwandi, mengatakan saat ini pihaknya baru memiliki kebun percontohan krisan dengan populasi 8.000 batang. Ribuan batang itu menjadi tanggungjawab kelompok wanita tani (KWT) Sekar Dewani.

“Budidaya krisan di Desa Mriyan merupakan wujud kerjasama sosial salah satu perusahaan air minum di Klaten. Selain kebun percontohan, bibit krisan juga dikembangkan oleh puluhan warga di rumah masing-masing. Ini baru proyek rintisan karena ke depan kami ingin mengembangkannya ke arah desa wisata,” kata dia, saat dijumpai Solopos.com di rumahnya, Selasa (21/3/2017).

Nilai Jual

Suwandi memaparkan warga memilih budidaya krisan karena tertarik dengan nilai jualnya yang tinggi. Mereka juga tak perlu bersusah mencari pengepul untuk memasarkan hasil panen karena sudah memiliki kontak dengan pengusaha bunga. “Per batang krisan nantinya dijual senilai Rp4.000 – Rp8.000,” ungkapnya.

[caption id="attachment_805390" align="alignleft" width="370"]http://images.harianjogja.com/2017/03/krisan-putih.jpg">http://images.harianjogja.com/2017/03/krisan-putih-370x278.jpg" alt="Krisan putih di Desa Mriyan, Boyolali (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)" width="370" height="278" /> Krisan putih di Desa Mriyan, Boyolali (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)[/caption]

Saat ini, ribuan batang krisan tersebut telah berumur 13 pekan. Dua pekan lagi atau pada pekan ke-15, tanaman itu sudah dapat dipanen.Suwandi mengatakan, selain krisan, warga juga mendapat bantuan bibit mawar potong. Berbeda dengan mawar tabur, mawar potong lebih tahan lama dan dimanfaatkan guna memenuhi kebutuhan karangan bunga maupun dekorasi.

“Ada 50an batang mawar potong berbagai warna yang baru berumur 7 pekan.Untuk mawar kami tidak memiliki tantangan berarti karena sudah menjadi santapan harian. Sedangkan krisan, karena belum berpengalaman, warga jadi banyak belajar,” papar dia.Suwardi berharap rintisan budidaya bunga tersebutbisa menjadi daya tarik tambahan saat menyambangi Desa Mriyan.

Desa yang berjarak 15 KM dari Boyolali kota ini memiliki potensi alam yang menjanjikan. Selain berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Merapi, terdapat destinasi menantang lain seperti tebing ekstrim dan grojogan indah Suroloyo. Deretan objek wisata itu masih ditambah bumi perkemahan dan instalasi bambu menarik di titik yang berjarak 4,5 KM dari puncak Merapi itu