OBAT HERBAL : Jahe Kurangi Efek Kemoterapi Kanker

Ilustrasi jahe parut (Boldsky.com)
09 Mei 2017 18:35 WIB Iskandar Lifestyle Share :

Obat herbal manfaat jahe banyak khasiat.

Solopos.com, SOLO -- Jahe merah dan jahe wangi banyak bermanfaat untuk kesehatan manusia. Selain bisa mencegah perut kembung, masuk angin, meningkatkan imunitas, dan nafsu makan, jahe merah dan jahe wangi juga bisa meringankan efek kemoterapi penyakit kanker.

Saat meracik jamu, jahe wangi dan jahe merah ini biasanya dikombinasikan. Jahe wangi diperlukan untuk mendapatkan aromanya sementara jahe merah dimanfaatkan untuk mendapatkan rasa pedasnya.

Salah seorang dosen Program Studi Farmasi Universitas Sahid Solo, Ahwan, saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Sabtu (8/4/2017) lalu, mengatakan butuh banyak jahe manis jika ingin mendapatkan unsur pedasnya. Karenanya tidak efektif jika menggunakan jahe wangi untuk mendapatkan rasa pedas.

Guna mendapatkan rasa pedas pada minuman instan ini, Ahwan menyarankan mengombinasikannya dengan jahe merah. Di pasaran terkadang orang mencari jalan pintas dengan mencampurnya dengan cabai.

“Mereka tidak pakai jahe merah melainkan cabai untuk mendapatkan rasa pedas. Ya kalau memakai cabai tidak akan memperkuat efek pengobatan,” ujar dia.

Menurut Ahwan, jahe merah dalam pengobatan kanker berfungsi untuk membantu efek dari kemoterapi. Dalam dunia kedokteran biasanya jahe merah dibikin ekstrak dan dikemas dalam bentuk kapsul.

Rebusan Jahe

Nenak moyang bangsa Indonesia juga biasa mengonsumsi jahe geprek. Untuk mendapatkan manfaat jahe secara optimal, ambil satu ruas jahe atau satu jempol tangan orang dewasa.

Potongan jahe tersebut direbus dengan air 500 mililiter hingga airnya tersisa 200 mililiter. “Kalau orang awam mungkin kesulitan mencari takaran tepat. Bisa juga menggunakan gelas belimbing. Rebusan air satu gelas belimbing disisakan sampai kira-kira setengah gelas,” ujar dia.

Ahwan meminta jahe direbus secara hati-hati. Jangan menggunakan api yang terlalu besar. Bara api yang terlalu besar membuat suhu meninggi sehingga memengaruhi zat-zat kimia alami dalam jahe.

Dia menjelaskan di dalam jahe terdapat minyak atsiri seperti gingerol, zingiberol, dan sebagainya. Unsur-unsur itu mudah rusak jika terkena panas tinggi. Contohnya senyawa gingerol bisa berubah menjadi zingiberol.

Menurut Ahwan, menggodok jahe tidak perlu sampai mendidih, cukup dengan suhu 70 derajat celcius sampai 80 derajat celsius.

Dia menjelaskan produk-produk di pasaran yang mengklaim sebagai produk herbal dibuat dari jahe segar, diparut, dan diambil sarinya. Karena itu tidak heran aromanya terasa sekali.

Dibandingkan kapsul jelas berbeda karena ada zat tambahan pada kapsul seperti pati. Untuk pengobatan Ahwan menyarankan mengonsumsi air rebusan jahe merah sebanyak 3 kali dalam satu hari. Masing-masing setengah gelas dan sebaiknya diminum setelah makan.

Sementara itu, untuk pencegahan cukup satu gelas. Bagi mereka yang tidak tahan minyak atsiri, jahe bisa mengorosi lambung.