WISATA KLATEN : Selfie Asyik di Air Terjun Gemulai nan Aduhai

Warga ber-selfie di air terjun Gemulai, Dukuh Banyusri, Desa Krajan, Kecamatan Jatinom, Klaten, Minggu (14/5/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI - Solopos)
16 Mei 2017 10:10 WIB Taufik Sidik Prakoso Lifestyle Share :

Wisata Klaten, warga Krajan Jatinom mengembangkan potensi wisata setempat.

Solopos.com, KLATEN -- Warga Desa Krajan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, bergotong royong membersihkan kawasan perbukitan dan sungai Dukuh Banyusri guna membuka akses menuju potensi alam di kawasan Gunung Dele. Salah satu potensi yang belakangan ramai pengunjung yakni air terjun Gemulai.

Kawasan itu berjarak sekitar 12 km dari pusat pemerintahan Klaten. Untuk menuju lokasi air terjun, para pengunjung harus menyusuri jalan setapak melewati tepi jurang hingga sungai sejauh 300 meter dari lokasi parkir. Setelah menyeberangi sungai dengan menapaki bebatuan, pengunjung disuguhkan pemandangan air terjun Gemulai yang seakan keluar dari pohon nyamplung turun dari bukit bertingkat setinggi 12 meter.

Bebatuan yang berada di dasar bukit belakangan menjadi tempat selfie favorit. Seperti yang dilakukan beberapa pengunjung tempat tersebut, Minggu (14/5/2017). Dewi Wulandari, 21, dan Widaningsih, 32, adalah dua pengunjung yang siang itu mendatangi air terjun Gemulai.

“Saya tahunya dari media sosial. Lokasinya bagus banget. Untuk menuju lokasi juga mudah. Di Jatinom memang potensi alamnya banyak,” kata Dewi wanita asal Desa Bulusan, Kecamatan Karangdowo, Klaten.

Ia mengatakan air terjun Gemulai tak kalah menarik jika dibandingkan air terjun Grojogan Sewu di Karanganyar. “Saya pribadi senang di sini. Kalau harapan saya aksesnya dibikin lebih bagus lagi. Saya yakin ini menjadi tempat wisata yang keren,” katanya.

[caption id="attachment_816833" align="aligncenter" width="370"]http://images.harianjogja.com/2017/05/air-terjun-gemulai-1.jpg">http://images.harianjogja.com/2017/05/air-terjun-gemulai-1-370x247.jpg" alt="Anak-anak bermain di Sendang Gunung Dele, Dukuh Banyusri, Desa Krajan, Kecamatan Jatinom, Minggu (14/5/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)" width="370" height="247" /> Anak-anak bermain di Sendang Gunung Dele, Dukuh Banyusri, Desa Krajan, Kecamatan Jatinom, Minggu (14/5/2017). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)[/caption]

Salah satu warga Dukuh Banyusri, Arifin Wahyu Nugroho, 31, mengatakan penggalian potensi alam dilakukan sekitar dua pekan lalu. Awalnya, tak banyak yang mengetahui di wilayah Dukuh Banyusri terdapat air terjun. Kondisi sekitar kawasan berupa semak belukar dengan alur sungai kerap digunakan warga untuk memancing.

Lantaran kepincut ingin menggali potensi alam seperti yang dilakukan warga desa lainnya, para pemuda karang taruna dukuh setempat mulai melakukan pencarian. “Kemudian kami cek ternyata aliran serta tempatnya masih bagus. Akhirnya kami bersihkan,” ungkapnya.

Melihat potensi yang menjanjikan, Karang Taruna Bina Remaja, Dukuh Banyusri, bersama warga lainnya secara swadaya melakukan pembersihan serta membuat akses jalan. “Karena juga keterbatasan dana, kami lakukan secara bertahap,” urai Wakil Ketua Karang Taruna Bina Remaja itu.

Curug Gandul

Arifin menjelaskan sejak potensi alam di Desa Krajan diunggah melalui media sosial, warga dari berbagai daerah mendatangi tempat tersebut. Jumlah pengunjung bisa mencapai 500 orang/hari. Kawasan yang dulunya hanya didatangi segelintir warga kini ramai hampir saban hari.

Untuk menuju kawasan air terjun Gemulai, para pengunjung cukup mengeluarkan biaya parkir sepeda motor Rp2.000 dan mobil Rp5.000. Kawasan itu kini dikelola warga setempat. “Kami memasang pon bagi para pengunjung. Bisa diisi seikhlasnya. Dana-dana yang diperoleh digunakan untuk membiayai pembenahan-pembenahan di kawasan ini,” kata dia.

Arifin menuturkan selain air terjun Gemulai, terdapat air terjun lain di kawasan itu yang disebut Curug Gandul, Sendang Gunung Dele, Pleret Brunyah, serta sumber mata air Maduan.

“Untuk air terjun Gemulai itu sebenarnya namanya Gemuling. Karena kesepakatan dengan teman-teman kemudian diberikan nama agak alay menjadi Gemulai. Sementara, Curug Gandul diberikan nama itu karena air terjunnya seperti menggantung,” kata Arifin.

Saat ini, para pengunjung bisa menikmati keindahan air terjun Gemulai serta Sendang Gunung Dele. Warga setempat masih melakukan pembersihan guna membuat akses menuju Curug Gandul, Pleret Brunyah, serta sumber mata air Maduan.

“Hari ini [Minggu], para pemuda dan warga membersihkan kawasan sekitar Curug Gandul. Nanti akan dibuatkan jembatan bambu agar pengunjung bisa menyeberang. Kami juga akan membuka akses menuju sumber mata air Maduan yang berada di antara dua air terjun. Sumber mata air itu dipercaya bisa untuk penyembuhan penyakit. Mungkin karena kandungan mineralnya yang cukup tinggi,” ungkapnya.

Arifin menjelaskan pembenahan terus dilakukan agar kawasan yang kaya potensi alam itu semakin nyaman dikunjungi. Pengggalian potensi kawasan itu juga sudah disampaikan ke pemerintah desa setempat. “Dari kepala desa ada rencana membantu dengan memberikan wahana flying fox. Ada usulan juga dibuat wahana bermain anak-anak,” kata dia.