Hati-Hati Pubertas Terlalu Dini, Ini Efeknya

Ilustrasi anak perempuan pubertas dini (Bbc.com - Thinkstock)
27 Mei 2017 08:00 WIB Lifestyle Share :

Pubertas terlalu dini bisa disebut sebagai kelainan dan memiliki efek bagi pertumbuhan remaja.

Solopos.com, JAKARTA -- Masa pubertas menjadi bagian penting dalam fase pertumbuhan anak. Masa ini, tak hanya perubahan hormonal, tapi banyak perubahan fisik yang juga terjadi. Termasuk menstruasi yang dialami oleh perempuan.

Menurut Satuan Tugas Remaja Ikatan Dokter Dokter Anak Indonesia, Frida Soesanti, normalnya anak mengalamai pubrtas adalah usia 8 tahun. Saat pubertas, bagi perempuan akan terjadi pertumbuhan payudara terlebih dahulu. Setelah itu, akan dilanjutkan dengan menstruasi yang normalnya pada usia 10 tahun.

“Kalau menstruasi sebelum 10 tahun, berarti tumbuh payudaranya lebih cepat dan itu tidak normal,” kata Frida saat menghadiri seminar tentang Manajemen Kebersihan Menstruasi di Kementerian Kesehatan, Jumat (26/5/2017).

Kasus pubertas dini (dalam ilmu kedokteran dikenal dengan istilah pubertas prekoks) adalah ketika tubuh anak mulai berubah menjadi yang orang dewasa (pubertas) terlalu cepat. Meski belum memiliki data yang jelas tentang pubertas prekoks, menurut Frida jumlahnya banyak. Dalam penelitian di luar negeri, 15 diantara 100.000 anak mengidap kelainan ini. “Lumayan banyak dan semakin hari semakin banyak.”

Pubertas prekoks salah satunya dapat disebabkan oleh polusi. Selain itu, ada faktor lain bernama endocrine disruptor, yaitu substansi yang mengganggu sistem kestabilan kelenjar endokrin dalam tubuh dan mengacau sistem atau fungsi hormon dalam tubuh manusia dan hewan.

“Seperti botol plastik air mineral, tidak boleh diisi ulang, apalagi dikasih air panas seperti teh dan kopi,” kata dia. “Selain itu, pemicu lainnya bisa karena kelainan hormonal. Tapi tiap hari makin banyak anak umur 6 tahun sudah tumbuh payudara,” tambahnya.

Kelainan ini dapat berakibat pada postur tubuh yang pendek. “Lebih awal pubertas berarti tinggi badannya akan nutup duluan, jadi bisa pendek karena proses peninggian badannya berhenti duluan,” jelasnya.

Dampak dari sisi psikologis, Frida menjelaskan, jika anak belum siap secara mental untuk mengalami pubertas, maka akan berpengaruh terhadap sang anak. ”Kalau anaknya belum siap secara psikologis untuk menstruasi, bisa anaknya merasa berbeda dan gampang dibully dan bisa depresi,” jelasnya.

Sebaliknya, jika waktu menstruasi perempuan terlambat juga patut diperhatikan. Normalnya, umur maksimal perempuan pubertas adalah 13 tahun dan maksimal di usia 15 tahun. Jika lebih dari itu, bisa dikatakan anak memiliki kelainan. “Sebabnya bisa karena kelainan kromosom, bisa juga karena terlalu kurus. Karena bahan baku hormonnya tetap lemak,” pungkasnya.

Tokopedia