PAMERAN LUKISAN SOLO : "Guru Sejati" Karya Ki Djoko Sutedjo Dibanderol Rp3 Miliar

Pengunjung mengamati lukisan karya Ki Djoko Sutedjo pada Pameran Lukisan Tokoh Wayang di Lobby Hotel Novotel Solo, Kamis (1/6/2017). (Nicolous Irawan/JIBI - Solopos)
03 Juni 2017 14:00 WIB Ika Yuniati Lifestyle Share :

Ki Djoko Sutedjo memamerkan puluhan lukisan di Hotel Novotel Solo.

Solopos.com, SOLO -- Puluhan lukisan Semar berbaur di antara keriuhan lobi Hotel Novotel, Jumat (2/6/2017). Tokoh punakawan yang juga disebut penasihat para kesatria dalam pementasan kisah Mahabharata dan Ramayana tersebut divisualisasikan perupa senior Ki Djoko Sutedjo, 67, dengan berbagai kanvas dan tampah.

Selain Semar, lukisan beberapa tokoh lainnya seperti Arjuna, Anoman, Bima, dan Pandhawa Lima juga ikut ambil bagian dalam acara pameran menyambut Hari Lahir Pancasila, Kamis-Rabu (1-7/6/2017).

Hampir setiap tahun perupa asal Boyolali ini menggelar pameran tunggal bertema wayang dari kota ke kota. Minimnya apresiasi masyarakat Solo dan sekitarnya terhadap dunia lukis tak membuatnya gentar. Djoko tetap memilih wayang sebagai jalan seninya mengaktualisasikan diri dan membantu nguri-uri tradisi.

“Saya memulai lukisan wayang sejak kecil suka melukis, lalu memutuskan menekuni wayang pada tahun 80an sampai sekarang,” terangnya saat berbincang dengan solopos.com di Novotel Solo, Jumat.

Melalui lukisan wayang ini, harapannya untuk generasi muda digantung tinggi-tinggi. Wayang lukis dianggapnya sebagai media paling efektif untuk mengenalkan tokoh tradisi tersebut kepada generasi muda. Tak sekadar melestarikan budaya tradisi, pemahaman anak muda tentang Pancasila sebagai lambang negara ia harapkan semakin diresapi melalui ilustrasi tokoh-tokoh pewayangan tersebut.

“Kenapa wayang karena wayang simbol budaya Indonesia, begitu juga dengan Pancasila. Melalui pameran ini generasi muda semakin menghayati dan mengamalkan pancasila. Juga mencintai tanah airnya,” kata dia.

Rp3 miliar

Sedikitnya ada 40 lukisan wayang tradisi yang ia pamerkan selama sepekan di lobi Hotel Novotel. Karya dengan beragam ukuran tersebut merupakan hasil eksplorasi mulai 2000an hingga sekarang. Beberapa lukisan digarap hanya dalam waktu tiga hari. Namun ada juga karya-karya terbaik yang diproses lebih dari satu tahun.

Salah satu karya masterpiece-nya berjudul Guru Sejati yang menggambarkan perjalanan Bima bertemu guru sejatinya ia garap hampir tujuh tahun. Dimulai dari peristiwa gempa tsunami Aceh pada 2006 hingga 2013. Lukisan yang menggambarkan perjalanan Bima di tengah ombak lautan ini dibanderol dengan harga paling tinggi Rp3 miliar.

Menyusul karya-karya terbaik keduanya berjudul Semar Muri 3 X 3 cm. Lukisan berbahan kanvas yang ia buat sekitar 1998 tersebut memecahkan Rekor Museum Dunia Indonesia pada waktu itu sebagai wayang Semar terkecil.

Ki Djoko berencana melepas karya tersebut dengan harga Rp1 miliar lengkap dengan piagam penghargaan yang sempat melambungkan namanya di era 90an.

Sementara harga terendah yang ia tawarkan sebesar Rp1 juta seperti Gareng Tampah, Sempar Tampah, dan Petruk Tampah. “Kalau terjual, hasil penjualan semua lukisan ini rencananya akan saya bagi untuk disumbangkan pada warga paling miskin di Solo,” kata dia.

Tokopedia