TIPS KEHAMILAN : Rileks Menjelang Persalinan dengan Babymoon

Ilustrasi wanita hamil (Pregnancy.lovetoknow.com)
22 Juli 2017 16:00 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Tips kehamilan ini terkait menjalani babymoon bagi pasangan suami istri.

Solopos.com, SOLO -- Beberapa pasangan suami istri memanfaatkan kesempatan merancang perjalanan sekaligus bulan madu tambahan (babymoon) saat sang istri menjalani kehamilan.

Seperti dilakukan Nia Maharani, 26, dan Daniel Kery, 36. Pasangan yang baru dikaruniai bayi laki-laki pada empat bulan lalu ini, sempat babymoon ke Bali saat usia kandungan Nia menginjak enam bulan berjalan.

“Empat bulan pertama masa kehamilan, aku teler banget. Sehari mual bisa sampai empat atau enam kali. Usia kehamilan antara lima bulan sampai tujuh bulan itu yang paling enak. Trimester akhir mual lebih parah lagi dibandingkan trimester awal. Kami sempatkan jalan pas badanku merasa nyaman itu,” terang Nia, Selasa (4/7/2017).

Ibu Davin Kenan Abishai ini mengutarakan sebelum pelesiran dia sempat berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk memastikan kondisinya beserta sang jabang bayi aman.

Setelah mendapatkan lampu hijau berikut surat keterangan dari dokter, pasangan yang menikah Mei 2016 lalu itu baru mantap memutuskan babymoon.

“Pertimbangan kami pilih destinasi babymoon waktu itu yang lokasinya gampang diakses. Soalnya kalau posisi hamil gede, duduk kelamaan enggak enak, jadi gampang pegal dan enggak nyaman. Terus aku juga suka pantai dan sunset. Pilihan akhirnya jatuh ke Bali,” tutur dia.

Nia bersama Daniel lantas memilih pelesiran mandiri yang bisa menyesuaikan ritme berlibur keduanya. Mereka memilih liburan santai yang tidak terlalu menguras energi. “Kami jalan ke kafe kopi luwak, main ke monkey forest, mengunjungi Museum Antonio Blanco, jalan-jalan ke pantai, dan berenang di rooftop hotel,” jelasnya.

Menurut Nia, perjalanan babymoon bareng pasangan walaupun singkat tapi tetap berkesan untuk menyambut datangnya buah hati pertama. Selain itu, liburan saat perut membuncit dalam kondisi sehat juga bisa membantu mengurangi stres menjelang persalinan.

“Bisa mengurangi stres banget. Selain itu juga bisa bakar kalori dan siap-siap buat pemanasan olahraga sebelum masuk trimester akhir. Tapi jangan lupa juga disiapkan, peralatan yang pas buat bikin nyaman kita. Salah satunya, pereda nyeri atau krim untuk mengatasi pegal-pegal. Terkadang saat traveling, susah menemukan obat yang pas di destinasi liburan,” kata Nia.

Pengalaman babymoon lain diceritakan Dynar Widhy, 29, dan Akbar, 32. Pasangan yang kini dikaruniai putri berusia 1,5 tahun ini tidak merasakan ngidam dan morning sickness laiknya beberapa ibu hamil lainnya.

Kondisi kehamilan Dynar yang prima tersebut membuat pasangan ini doyan babymoon paling tidak dua kali sebulan. “Biasanya kami jalan dan menginap di kota tetangga kayak Jogja atau Semarang pas sama-sama libur bekerja pada akhir pekan,” tutur Dynar.

Dia mengatakan masa kehamilannya yang sama sekali tidak merepotkan membuatnya nyaman untuk tetap aktif berpergian. Pasangan ini memilih untuk naik kendaraan pribadi untuk traveling.

Dynar bersama Akbar pernah babymoon naik mobil ke Malang saat usia kehamilannya baru menginjak usia dua bulan. Perjalanan Solo-Malang selama sekitar tujuh jam mereka lalui tanpa hambatan berarti.

“Pengalaman memang aku enggak mual sama sekali. Tapi rasanya badan pas hamil gampang banget pegal. Pas jalan berdua ke Malang naik mobil, aku siasatin bikin tempat duduk senyaman mungkin. Bagian pinggang banyak diganjal dengan bantal. Kami juga usahakan setiap tiga jam sekali berhenti untuk istirahat sejenak atau rebahan,” kata dia.

Menurut Dynar, santainya dalam menjalani kehamilan juga memacunya aktif berolahraga selama berbadan dua. Dia rutin mengikuti kelas senam kehamilan, yoga, dan tidak malas naik dan turun tangga di kantonya.

“Kondisi ibu hamil mungkin beda-beda. Tapi sepengalamanku hamil tetap aktif dan rileks, efeknya terasa pas persalinan. Bersyukur anakku bisa lahir normal spontan. Setelah dua jam kontraksi langsung keluar dengan sehat,” kata dia.

Tokopedia