KULINER SOLO : Kisah Nyai Lenggi Asal Desa Duwet Sentra Pembuat Nasi Liwet

Sukirman (kanan) bersama istrinya meracik bahan utama nasi liwet di kediamannya Desa Duwet, Baki, Sukoharjo, Jumat (23/6/2017). (Bony Eko Wicaksono/JIBI - Solopos)
22 Juli 2017 21:14 WIB R Bony Eko Wicaksono Lifestyle Share :

Desa Duwet, Kecamatan Baki, Sukoharjo, dikenal sebagai desa sentra pembuatan nasi liwet.

Solopos.com, SUKOHARJO -- Dua dandang besar terlihat di dalam ruangan berukuran lima meter kali tujuh meter. Uap putih tipis mengepul berasal dari dandang berisi nasi itu.

Tepat di sebelah dandang, terdapat belasan labu siam atau jipan dan kelapa di meja kayu. Bentuknya bulat agak lonjong dengan warna kulit hijau. Sesekali, terdengar suara pisau pemotong yang beradu dengan talenan kayu.

Nasi, labu siam, dan kelapa merupakan bahan utama memasak nasi liwet. Saat Lebaran, nasi liwet menjadi salah satu kuliner yang diburu para pemudik yang pulang kampung ke Kota Solo dan sekitarnya. Mereka ingin menikmati sensasi serbagurih dan lezat dari kombinasi nasi dengan sambal goreng jipan atau labu siam.

Tak heran jika warung-warung kali lima yang menyajikan nasi liwet di emperan toko di Solo disesaki pembeli saat libur Lebaran.

”Para pemudik ingin bernostalgia menikmati kuliner khas Solo. Saya menambah porsi nasi liwet saat libur Lebaran. Bisa lebih dari 200 porsi habis dalam sehari. Pada hari biasa hanya separuhnya,” kata seorang pembuat nasi liwet asal Desa Duwet, Kecamatan Baki, Sukirman, saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (23/6/2017).

Dibantu istrinya, Sukirman berjualan nasi liwet di sekitar Perempatan Warung Pelem, Solo. Mereka harus menempuh perjalanan lebih dari 30 menit dari Desa Duwet, Baki, menuju Kota Solo setiap hari.

Sukirman dan istrinya memasak bahan utama nasi liwet pada malam hari. Saat subuh, mereka membawa beberapa panci berisi nasi liwet, sambal goreng jipan, telur, dan daging ayam ke mobil. Mereka lantas menuju Kota Bengawan untuk menjual barang dagangannya.

Desa Duwet dikenal sebagai desa sentra industri nasi liwet di Sukoharjo. Hampir sebagian besar warga setempat bekerja sebagai pembuat nasi liwet.

”Kendati sentra industri nasi liwet di Sukoharjo namun mayoritas warga memilih berjualan di Kota Solo lantaran lokasinya cukup strategis dan banyak pelanggan,” papar dia.

Minimnya perhatian khusus dari Pemkab Sukoharjo juga menjadi salah satu alasan utama pemilihan lokasi berjualan. Instansi terkait tak pernah menyentuh ratusan pembuat nasi liwet di Desa Duwet. Terlebih, tak ada lokasi strategis yang menjadi magnet utama untuk berjualan kecuali kawasan Solo Baru.

”Satu porsi nasi liwet dijual Rp7.000. Kami tak pernah menaikkan harga nasi liwet saat libur Lebaran,” tutur Sukirman.

Nasi liwet sejatinya memiliki sisi histori cukup menarik. Konon, nasi liwet merupakan makanan favorit di lingkungan Keraton Solo yang dipimpin Paku Buwana (PB) VIII.

Makanan Keraton Solo

PB VIII meminta juru masak Keraton, Nyai Lenggi, memasak ratusan porsi nasi liwet untuk para abdi dalem. Nasi liwet itu dibagikan kepada para abdi dalem untuk sarapan.

Dahulu, para penjual nasi liwet berjalan kaki belasan kilometer menuju Kota Solo. Mereka menggendong panci berisi nasi liwet dan sambal goreng jipan.

”Nyai Lenggi merupakan warga Desa Duwet. Dia dimakamkan di sini [Desa Duwet], masih ada kok petilasannya di tengah permukiman,” ujar seorang tokoh masyarakat Desa Duwet, Mujiyono.

Nasi liwet tak sekadar makanan favorit di lingkungan Keraton, ada makna terpendam yang berkaitan erat dengan kultur Jawa. Sepincuk nasi liwet menggambarkan kedekatan masyarakat Jawa dengan nasi atau sega.

Biasanya, para abdi dalem Keraton menyantap nasi liwet tanpa beralas piring dengan duduk bersila sebagai simbol kesederhanaan. Manusia harus senantiasa rendah hati dan sederhana dalam melakoni kehidupan di dunia fana.

”Sampai sekarang masih ada pembeli yang memakai suruh [daun pisang] saat makan nasi liwet. Ini tradisi budaya Jawa yang harus dijaga dan dipelihara,” tutur dia.

Patung Nasi Liwet

Pria yang akrab disapa Muji ini mengusulkan agar Pemerintah Desa Duwet membangun patung nasi liwet di gapura Desa Duwet. Patung nasi liwet itu merupakan bentuk apreasiasi kepada para pembuat nasi liwet yang telah menjaga tradisi budaya Jawa. Usulan ini pernah dilontarkan pada beberapa tahun lalu. Namun, hingga kini belum terealisasi.

Pengembangan industri nasi liwet memang butuh konsistensi dari berbagai pihak termasuk Pemerintah Desa Duwet dan Pemkab Sukoharjo.

Bantuan berupa modal dan strategi pemasaran yang jitu menjadi bagian dari solusi jangka panjang. Tak menutup kemungkinan, para pembuat nasi liwet bakal meramaikan wisata kuliner malam di city walk yang menjadi public space di Kabupaten Jamu.

“Saya akan melobi Pemkab agar ada lokasi khusus di Sukoharjo untuk berjualan para pedagang nasi liwet. Mungkin city walk atau sekitar Alun-alun Satya Negara Sukoharjo,” tutur Kepala Desa Duwet, Suparno.

Selama ini, belum ada kelompok atau paguyuban yang menjadi wadah bagi para pembuat nasi liwet di Desa Duwet. Hal ini menjadi batu sandungan saat instansi terkait berencana memberikan bantuan kepada para pembuat nasi liwet. Suparno bakal berkomunikasi dengan para pembuat nasi liwet agar segera membentuk paguyuban.

Tokopedia