Autisme Bisa Disembuhkan, Begini Cara Penanganan yang Tepat

Psikiater dan motivator anak, dr. Kresno Mulyadi, SpKj, memberikan penejelasan kepada peserta saat Pelatihan Penatalaksanaan Gangguan Spektrum Autisme Bagi Tenaga Program Layanan Autis Kota Solo di Loji Hotel Solo, Selasa (25/7/2017). (Nicolous Irawan/JIBI - Solopos)
26 Juli 2017 13:15 WIB Septhia Ryantie Lifestyle Share :

Penyandang autisme menurut psikiater Kresno Mulyadi bisa disembuhkan.

Solopos.com, SOLO -- Penyandang autisme berpotensi bisa disembuhkan dengan penanganan dan terapi yang tepat. Mereka bahkan bisa mengenyam pendidikan tidak harus di sekolah inklusi melainkan di sekolah reguler.

Hal itu mengemuka dalam kegiatan Pelatihan Penanganan Anak Autis yang diselenggarakan UPT Pusat Layanan Autis (PLA) Kota Solo di Hotel Loji Solo, Selasa (25/7/2017). Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber psikiater, Kresno Mulyadi.

Dalam paparannya, motivator anak yang akrab disapa Kak Kresno tersebut menyampaikan ada lima kebutuhan anak penyandang autisme, yang perlu diperhatikan lebih ekstra oleh orang tua juga keluarganya. "Dalam mengasuh dan merawat anak dengan autisme, kunci utamanya adalah empati," katanya.

Kebutuhan pertama penyandang autis adalah komunikasi. Biasanya, yang terjadi pada pengasuhan anak dengan autisme adalah komunikasi yang tidak optimal antara anak autis dan orang tuanya.

"Ajak anak bicara pelan-pelan, beritahu anak apa maksud Anda. Saat berkomunikasi, bisa jadi anak sedang berimajinasi, sehingga ia tidak menangkap pesan Anda saat itu. Jadi, bersabarlah, dan pahami kondisinya saat itu, ajak lagi ia berbicara agar maksud Anda tersampaikan dan diterima anak dengan baik," jelasnya.

Kedua adalah sosialisasi. Pada anak dengan autisme berat ia cenderung menyendiri, sedangkan anak dengan autisme ringan cenderung memberi kesan ia pilih-pilih terhadap sesuatu.

Ketiga terkait emosi, Kresno mengatakan, anak penyandang autisme memiliki emosi yang labil. Sebagai orang tua, Kresno menilai pentingnya memperlakukan anak autis dengan lebih bijak. "Pahami emosinya," ungkap Kresno.

Jangan Dipaksa

Keempat adalah repetitif, di mana anak penyandang autisme cenderung melakukan sesuatu yang disenanginya secara berulang. "Perilaku repetitif ini dialami sejumlah anak penyandang autisme. Tugas orang tua adalah mengenalkan hal lain yang berbeda kepadanya. Kalau anak belum mau, tidak apa, jangan dipaksa, namun jangan juga memberikan labeling kepada anak atas perilaku repetitifnya," lanjutnya.

Kelima adalah persepsi. Dia menjelaskan, anak autis kerapkali tidak nyaman dengan penginderaannya. Ia tak menyukai suara tertentu yang didengarnya. Matanya tak nyaman saat memandang sinar tertentu. Orang tua perlu berempati dan memahami kondisi ini.

Kresno menyatakan autis dapat disembuhkan melalui terapi intensif terpadu, dan diet khusus bagi penyandangnya. Ia menerangkan terapi yang dapat dilakukan meliputi terapi prilaku di antaranya menggunakan metode yang dikembangkan Ivar Lovaas dari UCLA yaitu konsep Aplied behavior Analysis (ABA).

"Terapi ABA dilakukan intensif selama 40 jam per pekan dalam dua tahun di mana berdasar hasil penelitian terjadi peningkatan IQ yang besar pada penyandangnya," katanya.

Kemudian, penyandang autis harus melakukan diet tidak mengonsumsi terigu, coklat dan susu karena berdasarkan kajian terapi biomedik jenis makanan ini memperparah kondisinya.

Setelah itu jika diperlukan masih ada terapi lain sebagai penunjang berupa medikamentosa, okupasi dan fisik, wicara, bermain dan terapi khusus.

Sementara itu, Kepala UPT PLA Kota Solo, Hasto Daryanto, mengungkapkan, pelatihan yang diadakan selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis (26/7/2017) tersebut diikuti tidak hanya para terapis di PLA Kota Solo melainkan segenap yang terlibat di tempat tersebut.

"Karena semua berhadapan dengan anak-anak autis dan orang tua anak-anak autis sehingga harus memiliki pemahaman dan persepsi yang sama untuk menangani autisme ini," ungkap Hasto di sela-sela pelatihan.

Tokopedia