TIPS KELUARGA : Ingin Harmonis, Bantu Pasangan Menghilangkan Kebiasaan Buruk

Foto ilustrasi: Jangan hanya menuntut, sebaiknya bantulah pasangan untuk menghilangkan kebiasaan buruknya. (talksme.com)
29 Juli 2017 01:00 WIB Iskandar Lifestyle Share :

Tips keluarga bagi Anda yang menginginkan pernikahan harmonis.

Solopos.com, SOLO -- Ada banyak tantangan dalam pernikahan salah satunya adalah kebiasaan buruk suami misal tidak mau mengembalikan barang ke tempat semula atau bersendawa keras-keras setelah makan. Lantas bagaimana menyikapi hal ini?

Salah seorang dosen Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran UNS, Rin Widya Agustin mengatakan agar hidup rumah tangga bisa harmonis tanpa gangguan kebiasaan buruk, ada beberapa tips yang harus dilakukan. Di antaranya pasangan suami istri harus mau berubah.
Selain itu mereka diharapkan tak hanya menutut, tetapi istri membantu membiasakan hal yang baru. “Menurut saya ini menjadi suatu yang menarik dan unik justru bisa mengikat hubungan,” papar dia kepada Solopos.com, belum lama ini.

Hal lain yang bisa dilakukan mungkin dengan cara yang lebih santai, misalnya, jika sang suami tak menempatkan pakaian kotor yang harus dicuci di keranjang cucian, istri hanya mau mencium sekali dan sebagainya. Dia menilai berbagai cara tersebut bisa membantu pasangan untuk mencapai pembiasaan baru.

Jadi dalam hal ini istri tidak hanya menuntut kepada suami. Dengan begitu istri membantu suami untuk belajar disiplin dengan berbagai cara. Sebaiknya, lanjut Rin, orang membina rumah tangga memanfaatkan kesempatan untuk saling belajar. Belajar bisa terjadi antara anggota keluarga seperti antara anak, suami, dan istri.

Yang repot, papar dia, ketika masing-masing pihak sudah menutup diri dan berjalan sendiri-sendiri. Kondisi ini dinilai akan menyulitkan pembelajaran sehingga proses pembelajaran tidak jalan.

Menurut Rin, keinginan agar suami atau istri agar tak merokok, tidak menaruh cucian sembarangan dan sebagainya, sebaiknya tak hanya sekadar menuntut agar mereka berubah. Tapi, tegas dia, sebaiknya salah satu pasangan membantu pasangannya untuk berubah.

Namun hal itu dinilai harus ada kemauan dan kesadaran seseorang untuk berubah lebih dulu. Karena seandainya dalam satu keluarga, istri mau membantu suami tapi kalau suami tak mau berubah akan sia-sia. Sehingga mereka harus ada kesepakatan dan ini diakui butuh proses.

“Kalau masing-masing pihak sudah ada dorongan memahami, perbedaan macam apapun akan mudah diatasi,” kata dia.

Namun bagaimana jika pasangan bermental mutungan (gampang menyerah)? Dia menilai bisa berdampak negatif. Hal ini karena orang seperti ini ketika beda pendapat dengan orang lain sering kali tak mau mendengarkan.

“Ini memang kebiasaan buruk. Kalau dalam keluarga, pola perlakuan yang dibiasakan akhirnya menjadi karakter. Pola perlakuan di mana misalnya kebiasaan mudah menyerah itu diikuti akhirnya akan menjadi karakter,” papar Rin.

Kalau hal itu terjadi pada pasangan suami istri, ujar dia, hendaknya dicari solusi yang tepat. Karena pada dasarnya suatu pasangan itu untuk hidup bersama sehingga harus saling menyesuaikan diri.

Dia menjelaskan dalam mengarungi kehidupan, manusia harus berubah ke arah lebih baik sehingga sehat dan adaptif. Untuk itu perlu ada kesepakatan, pemahaman untuk perubahan perkembangan pribadi.

Dia mengakui hal itu tidak mudah, namun jika ingin menuju kebaikan hal itu harus dilandasi kesadaran dan kemauan untuk berubah yang kuat. Kalau dalam pasangan ada yang berprinsip tak mau berubah segala sesuatunya akan repot.

“Kalau ada yang berprinsip bahwa aku ya begini jangan mengubah aku. Aku adalah aku dan sebagainya, itu namanya manusia yang tidak berkembang,” ungkap dia.

Padahal kata Rin, manusia harus berkembang ke arah lebih baik. Karena kondisi saat ini belum tentu yang terbaik. Yang terbaik adalah ketika ada persoalan seseorang itu berubah lebih baik lagi, sehingga kompetensi orang itu naik.