WISATA SOLORAYA : Bertualang Naik Jip dan Paralayang di Ngargoyoso Karanganyar

Peserta Travel Mart (BTM) 2017 menjajal paralayang tandem di Landasan Pacu Paralayang di Desa Segorogunung, Ngargoyoso, Karanganyar, Sabtu (27/8/2017). (Danur Lambang Pristiandaru/JIBI - Solopos)
28 Agustus 2017 13:15 WIB Rohmah Ermawati Lifestyle Share :

Wisata Soloraya, peserta BTM 2017 diajak bertualang ke Ngargoyoso Karanganyar.

Solopos.com, KARANGANYAR -- Deru mesin mobil jip memecah keheningan hamparan kebun teh Kemuning, Ngargoyoso, Sabtu (26/8/2017) pagi. Serombongan jip tersebut tengah menaklukkan jalanan kebun teh yang curam dan sempit.

Keseluruhan jip yang berjumlah 30 unit tersebut bertolak dari Terminal Wisata Karangpandan menuju Landasan Pacu Paralayang di Desa Segorogunung, Ngargoyoso, Karanganyar. Masing-masing jip berisi tiga sampai lima penumpang.

Para penumpang jip yang terdiri atas peserta dan panitia Bengawan Travel Mart (BTM) 2017 tersebut tampak menikmati perjalanan tersebut. Salah seorang penumpang jip, Farrah Nurulaishah, yang merupakan CEO Sri Knz Travel and Tours dari Malaysia, tersenyum melihat pemandangan yang terhampar di sepanjang perjalanan.

Sesampainya di Landasan Pacu Paralayang, satu persatu penumpang turun. Sejumlah atlet paralayang rupanya telah menunggu kedatangan mereka di landasan pacu. Ya, para peserta BTM 2017 diajak menjajal paralayang tandem setelah sebelumnya diajak menikmati perjalanan offroaddengan jip

Mereka terkesima dengan pemandangan yang disuguhkan oleh tempat tersebut. Terletak di puncak salah satu bukit di Gunung Lawu, tempat tersebut menyajikan lanskap hamparan kebun teh yang luas lengkap dengan permukiman penduduknya. Di antara dari mereka langsung mengeluarkan kamera dan gawai mereka untuk berfoto-foto.

Sebagian lagi mempersiapkan diri untuk berparalayang tandem. Mereka mengenakan perlengkapan yang telah dipersiapkan seperti helm, harness, dan lain-lain. “Yang tahu Gopro [salah satu merk kamera aksi] saya siapa, ya?” celetuk salah satu peserta.

Tak lama kemudian, satu persatu dari mereka pun siap. Mulanya, hanya 20 orang dari 80 peserta BTM yang mendaftar untuk berparalayang tandem. Namun, sesampainya di landasan pacu, jumlah pendaftarnya bertambah banyak. Sistem kelompok terbang (kloter) pun diadopsi. Mereka akhirnya terbang satu persatu beserta seorang atlet paralayang.

Satu parasut paralayang diisi oleh dua orang masing-masing atlet paralayang dan peserta BTM 2017. Sisanya atau peserta yang enggan terbang berfoto dan berswafoto di sekitar landasan pacu. Sebagian lagi menikmati pemandangan di sebuah warung di atas landasan pacu. Panitia BTM 2017 bekerjasama dengan Paguyuban Jeep dan Paralayang Karanganyar dalam acara tersebut.

“Ini pertama kalinya saya datang ke Soloraya dan mencoba paralayang. Rasanya sungguh gembira. Acara-acaranya juga bagus dan mantab,” kata Aishah, sapaan Farrah Nurulaishah, Sabtu.

Dia mengaku kerap membawa wisatawan dari Malaysia ke Indonesia seperti ke Bukittinggi, Medan, Lombok, dan Surabaya. Menurutnya, warga Malaysia memiliki keyakinan jika mereka tidak berpelesir ke luar negeri, mereka tidak dianggap berpelesir.

Kedatangannya ke Solo tersebut memenuhi undangan dari panita BTM 2017 untuk mencari destinasi wisata baru yang bisa digarap. “Saya rasa Soloraya potensial sekali untuk dijual. Tempat wisatanya bagus-bagus, alamnya indah, penginapannya juga bagus. Saya kira saya akan bikin paket wisata tiga hari dua malam,” sambung dia.

Senada dengan Aishah, pendiri Artha van Uden Travel Belanda, D.S. Mardi, mengaku ingin sekali mendatangkan wisatawan dari Belanda ke Solo. Pasalnya, solo merupakan tempat kelahirannya sebelum pindah ke Belanda saat duduk di bangku kelas II SD.

“Sekarang biro wisata saya dipegang oleh anak saya sedangkan saya sekarang menggarap cruise tradisional di Indonesia Timur. Kebanyakan, biro wisata yang dipegang anak saya sekarang tujuannya ke Jogja. Saya akan membantu memindah turis-turis Belanda dari Jogja ke Solo,” kata dia.

Oleh sebab itu, dia membutuhkan diskusi lebih lanjut tentang paket wisata dan destinasi wisata dengan bio wisata Soloraya. Menurutnya, Solo memiliki kesamaan dengan Jogja seperti bangunan Keraton. Contoh lainnya adalah Candi Borobudur yang selama ini di-bundling dengan paket wisata di Jogja. Menurutnya hal itu bisa di-bundling dengan paket wisata di Solo.

Koordinator Perjalanan BTM 2017, Gatot Budi Karyono, mengatakan aktivitas berparalayang tandem merupakan kegiatan kali pertama yang diangkat selama gelaran BTM. “Berparalayang sangat jarang di tempat lain. Ini potensi wisata yang sangat menarik dan potensial. Ke depan bisa jadi berparalayang menjadi ikon wisata Karanganyar maupun Soloraya,” ujarnya.

Ketua Panitia BTM 2017, Dyah Ratna Heryati, betutur kegiatan tersebut merupakan hasil dari perundingan pantia BTM dalan merumuskan destinasi wisata apa saja yang menarik dan potensial untuk dijual.

“Kegiatan lintas alam dan berparalayang baru digelar tahun ini. Ini karena kami melihat objek wisata tersebut potensial dan menjual sekali. Dari para buyer sendiri mengikuti BTM 2017 karena melihat trailler yang kami kirim kepada mereka,” katanya.

Tokopedia