Desainer Solo Angkat Kemewahan Lukis Jepang dalam Kain Etnik Nusantara

Para model memperagakan rancangan busana terbaru Uzy Fauziah bertema Selaras di panggung Jogja Fashion Week akhir bulan lalu. Kali ini Uzy mengombinasikan ragam kain etnik dengan lukis tangan bernuansa Jepang karya warga Jebres, Yani Mardiyanto. (Istimewa - Dokumentasi Uzy Fauziah)
05 September 2017 21:53 WIB Ika Yuniati Lifestyle Share :

Desainer Solo Uzy Fauziah semakin memperdalam eksplorasi budaya Jepang-Indonesia.

Solopos.com, SOLO--Selesai dengan pentas Bali Japan Masturi di Pulau Dewata, Sabtu (22/7/2017), desainer Solo Uzy Fauziah semakin memperdalam eksplorasi budaya Jepang-Indonesia. Masih mengandalkan lembaran kain tradisional, ia menggandeng pelukis asal Jebres Yani Mardiyanto untuk membuat busana baru bertema Selaras.

Dalam rancangan terbarunya ini Uzy mengombinasikan ragam kain tradisional seperti goyor, dan lurik dengan lukisan di kain Nasrafa karya Yani yang kebanyakan bernuansa Jepang seperti gambar perempuan berkimono, rumah Jepang, kipas, dan mekaran Bunga Sakura. “Selaras ini diartikan bahwa kain goyor dan lurik tetap bisa selaras dan harmonis meskipun mereka berbeda,” kata Uzy saat diwawancara solopos.com, Senin (4/9/2017).

Beragam potongan busana seperti outer ,rok, dan dress digabungkan dengan sentuhan lukis tangan di beberapa sisi. Beberapa dibuat dalam ukuran besar sebagai motif utama pada bagian depan, tapi ada juga yang hanya digambar kecil pada kain bawah. Uzy memilih look kasual etnik one piece dan two piece pada karya kolaborasinya ini.

Uzy bercerita proyek kolaborasi bermula dari Yani yang ingin karyanya menjadi bagian dari rancangannya. Ia yang sebelumnya terlibat dalam pentas kolaborasi budaya Jepang – Indonesia kemudian menyetujui dan langsung membuat konsep busana.

Ia berharap tak hanya mengangkat kain etnik Nusantara, melainkan juga memperkenalkan karya lukis di atas nasrafa. Lukis kain tersebut telah menjadi bagian dari industri kreatif di Kecamatan Jebres dengan melibatkan sejumlah pemuda setempat. “Jadi saya hanya ingin memperkenalkan kain nasrafa yang memang reatif dan membina anak-anak muda muda di daerah Jebres,” kata dia.

Uzy mengusung konsep desain kasual etnik. Beberapa baju dirancang tidak dengan kain utuh. Melainkan perca goyor yang buat dengan teknik sambung dan ditindas jahitan. Warna gelap kain etnik seperti lurik dan goyor ia pasangkan dengan merah marun untuk menggambarkan kemewahan.

Ada enam rancangan busana yang kali pertama ia pamerkan dalam serangkaian Jogja Fashion Week (JFW) akhir Agustus ini.

 

Tokopedia