TIPS PARENTING : Begini Kiat Optimalkan Stimulasi pada Periode Emas Anak

Ilustrasi mengasuh anak (everydayfamily.com)
28 Oktober 2017 16:00 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Tisp parenting membagikan kiat mengoptimakan periode emas anak.

Solopos.com, SOLO -- Periode perkembangan otak buah hati dimulai sejak janin atau anak masih berada dalam kandungan. Saat lahir di dunia, berat otak anak mencapai 25% dari otak orang dewasa.

Begitu menginjak enam tahun, berat otak anak bertumbuh menjadi 95% dari otak orang dewasa. Berat otak anak mencapai optimum atau setara orang dewasa saat remaja.

“Pada masa pertumbuhan berat otak anak dari 25% menjadi 95% itulah, anak memasuki fase periode emas atau golden age,” terang Psikolog Evi Dwi Setyaningsih, ketika berbincang dengan solopos.com, Selasa (26/9/2017).

Evi menjelaskan pada usia nol sampai enam tahun, perkembangan otak anak yang cukup pesat diikuti pertumbuhan fisik, kognitif, emosi, serta sosial.

“Simulasi pada empat aspek tersebut perlu dioptimalkan. Idealnya semua aspek bisa maksimal karena satu sama lain saling memengaruhi,” jelasnya.

Menurut Evi, orang tua memegang peranan sentral sebagai aktor penentu periode emas anak. Perannya sebagai stimulan untuk merangsang aspek fisik, kognitif, emosi, hingga sosial.

Aspek fisik bisa dimulai dengan memperhatikan asupan nutrisi yang masuk serta kesehatan anak. Untuk kognitif, orang tua bisa mendidik atau memberikan edukasi awal lewat sekolah.

Menurut dia, kecerdasan setiap anak tidak bisa dibentuk secara instan, melainkan perlu mengasah kemampuan motorik kasar, motorik halus, bicara, sampai kemandiriannya.

“Lingkungan pertama tempat anak bertumbuh adalah keluarga. Kualitas interaksi dengan anggotanya ini nanti yang akan menentukan kualitas interaksinya dengan orang lain di luar rumah,” bebernya.

Disinggung soal kehadiran orang tua yang tak jarang belum bisa mendampingi si kecil sepanjang waktu lantaran harus bekerja, Evi menuturkan orang tua tetap bisa menyokong masa periode emas si kecil dengan memberikan kompensasi perhatian berkualitas bagi buah hatinya.

“Maksimalkan waktu kebersamaan dengan anak. Quality time yang ada digunakan untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak. Bisa lewat permainan sederhana atau sekadar saling bercerita. Apalagi untuk anak di bawah enam tahun biasanya suka mencari perhatian, orang tua harus peka,” pesannya.

Evi mewanti-wanti orang tua bekerja agar tidak meluapkan rasa bersalahnya dengan menghujani si kecil dengan materi.

“Banyak orang tua bekerja mencoba menebus kesalahannya dengan membelikan ini itu. Padahal dalam memori anak yang terekam itu bukan berapa banyak hadiahnya tapi moment kebersamaan yang diberikan,” ujar dia.

Tokopedia