TIPS PARENTING : Jangan Terlalu Bebani Anak dengan Kegiatan Luar Sekolah

Ilustrasi anak/anak sekolah (Kaskus.co.id)
13 Desember 2017 14:15 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Tips parenting ini terkait aktivitas anak di luar sekolah.

Solopos.com, SOLO -- Setiap orang tua mengingingkan yang terbaik bagi buah hatinya. Terlebih untuk urusan masa depan. Tak heran belakangan jamak anak usia sekolah dasar, mulai diikutsertakan beragam aktivitas di luar sekolah untuk bekal mereka kelak.

Psikolog anak dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tuti Hardjajani, menuturkan beban kewajiban anak sebagai pelajar di sekolah sudah cukup berat. Terlebih untuk siswa yang mengikuti program full day school.

“Anak usia sekolah dasar masih butuh bermain. Dari pagi sampai sore, banyak di antaranya harus sekolah. Setelah itu, masih ada jadwal kegiatan lainnya. Padahal anak butuh kasih sayang orang tuanya. Anak-anak bukan mesin yang harus menyesuaikan ritme kesibukan orang tuanya,” jelasnya ketika berbincang dengan solopos.com, Jumat (17/11/2017).

Tuti menyebut tidak ada rumus baku menakar jumlah kegiatan di luar sekolah yang ideal diikuti anak zaman sekarang. Ia berujar yang pokok bagi anak adalah bekal spiritual. Setelah itu baru ditambah maksimal dua kegiatan yang disukai anak.

“Jangan lupa perhatikan kapasitasnya. Sepekan empat kali sudah lebih dari cukup,” katanya.

Menurut Tuti, pemberian asupan kegiatan tambahan di luar sekolah bermanfaat untuk mengakomodasi minat dan bakat anak di luar akademis.

“Kurikulum di sekolah cukup membatasi anak. Kegiatan di luar sekolah ini diperlukan untuk menggali potensinya dan mengusir rasa jenuh. Yang penting alamiah dan bebas paksaan orang tua,” bebernya.

Semangat Menurun

Tuti Hardjajani mewanti-wanti para orang tua memperhatikan gelagat ketika anaknya kewalahan dengan aktivitas di luar sekolah. Gejalanya bisa beragam mulai dari lelah, cemas, keinginan bermain terus, semangat belajar menurun, hingga nilai akademis merosot.

“Sangat disayangkan kalau anak stres gara-gara kebanyakan kegiatan di luar sekolah,” tuturnya.

Selain mengganggu secara pribadi, pemberian aktivitas tambahan di luar sekolah bagi anak-anak juga memengaruhi interaksi sosial anak dengan lingkungan sekitar. Orang tua juga bisa stres lantaran terlalu banyak jadwal mengantarkan anak.

Secara terpisah, guru SD Muhammadiyah Alam Surya Mentari Solo, Didik W. Kurniawan, menuturkan kegiatan di luar sekolah untuk mengasah bakat dan minat anak merupakan kebutuhan.

“Saat ini pintu peluang masa depan diciptakan bukan dari jalur akademis semata. Namun banyak juga dari minat-minat khusus. Anak memang perlu bekal tambahan,” terangnya.

Menurut Didik, 90% dari total 250-an siswa binaan sekolahnya mempunyai satu atau dua kegiatan kursus tambahan di luar sekolah dan ekstrakurikuler. “Sebagian besar siswa kami punya kegiatan di luar sekolah. Ada yang ikut jalur olahraga, kesenian, sains, dan sebagainya,” bebernya.

Didik mencermati dampak anak yang aktif berkegiatan di luar sekolah cenderung lebih percaya diri. Namun ia juga mewanti-wanti orang tua anak yang punya segudang kegiatan di luar sekolah untuk menyiapkan mental buah hatinya.

“Selain mendukung kegiatan anak, mental anak juga perlu disiapkan orang tua. Jangan sampai setelah mereka jadi jago bela diri, malah dipakai mengusili temannya di sekolah. Atau ketika jago berkesenian, dipakai untuk ajang pamer. Perlu persiapan mental juga,” pungkasnya.