TIPS PARENTING : Cara Jalin Komunikasi Efektif Ortu dengan Anak Remaja

Ilustrasi remaja di Edupark UMS (Dok/JIBI - Solopos)
27 Desember 2017 07:00 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Tips parenting ini tentang cara berkomunikasi dengan anak remaja.

Solopos.com, SOLO -- Salah satu masa tersulit bagi para orang tua (ortu) adalah mendampingi si kecil beranjak remaja. Sejumlah orang tua bahkan merasakan proses tersebut cukup melelahkan dan menguras emosi.

Sebab, anak-anak yang sebelumnya dibesarkan penuh cinta dan sangat dekat dengan ayah serta ibunya, tiba-tiba menjadikan orang tuanya sebagai orang terakhir dalam kehidupan mereka.

Komunikasi yang sebelumnya tidak ada kendala, pada momentum peralihan dari kanak-kanak ke dewasa juga rentan perselisihan. Buah hati kita justru lebih nyaman bersama sebayanya di luar rumah ketimbang orang tua yang selama ini merawatnya.

Kendala komunikasi ini, disebut psikolog remaja Kurt Russel, bukan hanya dialami remaja dengan latar keluarga bermasalah. Dari pengalamannya mendampingi ribuan anak berusia tanggung, kebanyakan kasus renggangnya hubungan orang tua dengan anak dilatarbelakangi keluarga penuh kasih sayang dan kaya perhatian.

“Banyak orang tua punya masalah komunikasi dengan remajanya karena mereka berharap buah hatinya punya moral dan jadi anak yang baik. Mereka membanggakan anaknya, bekerja keras untuk keluarganya, dan menganggap dirinya teladan hebat bagi anak mereka,” terang Russel, seperti dikutip dari Huffingtonpost, Selasa (12/12/2017).

Dalam beberapa kasus, ia menyebut anak-anak dengan kendala komunikasi bersama orang tua belum sepenuhnya terputus dari keluarga. Buktinya beberapa di antaranya masih punya prestasi di sekolah, rajin, bahagia, dan masih memendam cinta untuk keluarganya.

“Yang jadi masalah ketika sejak kecil mereka ditanamkan banyak nilai dan aturan. Lalu suatu ketika mereka sampai pada kesimpulan ternyata cinta dan persetujuan orang tuanya bersyarat. Cuma berdasarkan baiknya perilaku serta prestasi mereka,” ujar dia.

Menurutnya, banyak orang tua yang berupaya keras mendidik buah hatinya supaya menjadi anggota masyarakat yang terhormat. Caranya lewat pemberian hukuman, menerapkan disiplin ketat, serta pemberian apresiasi berlebihan ketika buah hatinya berprestasi.

“Kalau diterapkan terus menerus, dampaknya menutup pintu hubungan saling percaya, jujur, dan komunikatif dengan anak kita. Kita semestinya mengirimkan pesan jelas kepada remaja kita bahwa kita selalu mendukung dan membantu mereka ketika punya masalah. Bukan berarti memberikan kebebasan penuh, tapi anak-anak perlu tahu kita selalu ada untuk mereka,” kata dia.

Berikut ini beberapa cara untuk membuka keran komunikasi dengan anak yang mulai beranjak dewasa seperti dilansir Parenting.co.uk:

1. Temukan Aktivitas Seru Bersama

Remaja melihat dirinya sebagai orang dewasa. Jangan kaget ketika mereka lebih memilih sobat ketimbang keluarganya. Tapi jangan jengah mencari kegiatan yang bisa dilakukan remaja kita bersama keluarga. Jalan bareng keluarga tidak hanya memperkuat ikatan namun juga berpeluang menjadi ruang mengobrol yang asyik bareng anak baru gede.

2. Buka Peluang Negosiasi

Kunci hubungan harmonis antara orang tua dengan buah hati remajanya adalah keterbukaan. Ketika anak kita sedikit memberontak, berarti anak atau orang tuanya sedang bermasalah. Konfrontasi ini erat kaitannya dengan anak yang kerap diabaikan. Jangan menyerah, diskusikan situasi ini secara dewasa dengan buah hati. Cobalah untuk menjelaskan situasi dan perasaan orang tua ketika anaknya pemberontak. Upayakan dengan cara setenang mungkin.

3. Berikan Ruang untuk Buah Hati

Sesekali beda argumen masih wajar. Namun mengomel terus-terusan juga bisa merusak hubungan baik dengan anak. Terlebih ketika mendapati anak membanting pintu. Orang tua jangan keburu naik darah dulu. Lihat situasinya. Apakah anak sedang butuh waktu sendiri. Tunggu situasinya tepat ketika remaja kita siap bicara. Memberikan mereka sedikit kelonggaran membantu menunjukkan Anda percaya dengan mereka.