TIPS PARENTING : Yuk, Ajak Buah Hati Bikin Resolusi Menjelang Tahun Baru

Ilustrasi keluarga (Boldsky.com)
27 Desember 2017 15:00 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Tips parenting ini terkait pelibatan anak dalam membuat resolusi menyambut tahun baru.

Solopos.com, SOLO -- Banyak keluarga beranggapan aktivitas menyusun resolusi tahun baru sebagai kegiatan orang tua semata. Padahal, melibatkan anak untuk menyusun target hidupnya setahun mendatang berdampak positif bagi perkembangan jiwa mereka.

Profesor pediatri dan psikiatri dari Boston University School of Medicine, Dr. Benjamin Siegel, mengutarakan tradisi penyusunan resolusi bersama keluarga mengajarkan disiplin dan merancang tujuan hidup sejak dini. Cara terbaiknya, duduk bersama setiap Desember, untuk mendiskusikan capaian dan ancang-ancang menyiapkan target baru tahun depan.

"Masing-masing anggota keluarga menyampaikan hal yang ingin terus dilakukan dan hal-hal yang ingin diubah. Tujuannya agar kita merasa lebih baik dan mengamati bagaimana cara keluarganya bekerja," terangnya, seperti dikutip dari Pbs.org, Rabu (20/12/2017).

Siegel menuturkan berbagi sesuatu yang dibanggakan dan sesuatu yang ingin ditingkatkan untuk beberapa anggota keluarga memang bukan perkara mudah. Untuk mengawali tradisi baik ini, orang tua bisa membantu mengawalinya lebih dulu sebagai model bagi anaknya. Caranya tidak melulu diungkapkan, bisa juga dengan bikin tulisan lalu gantung di dapur atau tempat umum di rumah.

Asisten profesor klinis pediatri di University of North Carolina School of Medicine, Dr. Kathleen Clarke-Pearson, menyarankan pentingnya mengevaluasi secara berkala resolusi. Tujuannya untuk meninjau perkembangan pribadi masing-masing anggota keluarga.

Terkait penyusunan resolusi, ia menyarankan agar disesuaikan dengan perkembangan kejiwaan buah hati. Untuk anak usia prasekolah, American Academy of Pediatrics (AAP), merekomendasikan resolusi berfokus pada keseharian anak seperti membersihkan mainan setelah bermain, menyikat gigi, mencuci tangan, sampai bersikap baik terhadap peliharaan.

Clarke-Pearson mengutarakan anak-anak prasekolah juga bisa didorong lebih disiplin. "Misalkan aku akan lebih mendengarkan ibu dan ayah ketika disuruh. Atau aku akan lebih banyak membantu ibu dan ayah di rumah. Semakin sederhana, anak lebih cenderung mengerti konsep resolusi tersebut,” terangnya.

Ketika anak mencapai usia lima tahun sampai 12 tahun, mereka lebih mampu memahami konsep resolusi dan aktif berpartisipasi merealisasikannya. Anak kelompok usia ini didorong berkomitmen untuk perbaikan dirinya sendiri.

Misalkan mengurangi kebiasaan sering tidur larut, hindari terlalu banyak bermain, jangan terlambat ke sekolah, bersikap baik dengan teman, atau berupaya menyelesaikan kesulitan di sekolah.

Sedangkan bagi anak yang masuk fase remaja, resolusi diarahkan agar anak lebih bertanggung jawab pada tindakannya. Misalkan, urusan merawat tubuh, mengatasi stres dengan cara positif, merampungkan konflik, menolak narkoba dan miras, serta mulai diajak membantu orang lain lewat berbagai kegiatan.

Ketika resolusi telah disusun, diperlukan momentum evaluasi secara berkala. Siegel menyampaikan penting bagi orang tua mengapresiasi pencapaian buah hati ketika bisa menjalankan target pribadinya secara konsisten. Secara tidak langsung hal itu memperkuat resolusi dan memperkuat ikatan dengan anggota keluarga.

Para pakar mewanti-wanti agar momentum evaluasi resolusi tersebut tidak menjadi ajang penghakiman. Penting bagi orang tua untuk bersikap fleksibel dan memahami, terutama jika buah hatinya telah berupaya keras. "Jangan sampai ada hukuman ketika resolusi tidak tercapai. Resolusi itu bukan aturan mengikat namun panduan," imbuh Clarke-Pearson.

Bagian terbaik menyusun resolusi bersama adalah keluarga makin guyub. Anggotanya belajar mengelola peran di keluarga sebagai bagian terkecil masyarakat.

Tokopedia