TIPS KELUARGA : Pernikahan Tetap Langgeng Meski Suami-Istri Hidup Terpisah

28 Desember 2017 14:15 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Tips keluarga mengupas tentang romantika kehidupan pasangan yang hidup terpisahkan jarak.

Solopos.com, SOLO -- Sebagian orang pesimistis dengan jamaknya pernikahan jarak jauh yang dilakoni sejumlah pasangan. Kesetiaan dan komitmen berumah tangga acapkali dipertanyakan. Namun sejatinya, tinggal bersama pasangan juga belum jaminan kebahagiaan dan hubungan langgeng.

Sebuah riset yang dipublikasikan the Journal of Communication menyebutkan pasangan yang hidup terpisah cenderung memiliki kualitas perasaan dan ikatan yang lebih baik ketimbang yang tinggal bersama. Salah satunya dipicu dorongan saling mengalah dan dampaknya berbuah manis dalam merekatkan hubungan.

“Kalau orang kepepet hidup terpisah jarak dari pasangannya, biasanya mereka jadi [beradaptasi] tidak gampang putus asa,” tutur peneliti Crystal Jiang dari City University of Hong Kong, seperti dikutip dari Huffintonpost, Selasa (21/11/2017).

Jiang juga mendapati fakta pasangan yang hidup terpisah memiliki komunikasi lebih berkualitas. Temuan itu berdasarkan riset bersama peneliti Cornell University dengan melibatkan 63 pasangan yang sudah hidup terpisah selama lebih dari 17 bulan.

Menurut penelitian tersebut, pasangan yang hidup terpisah punya interaksi harian yang sangat terbatas. Namun keterbatasan itu ditebus dengan pertemuan yang lebih berkualitas dan biasanya lebih intens dan lama pada akhir pekan atau hari libur.

Psikolog sekaligus penulis buku The Breakup Bible: The Smart Woman’s Guide to Healing from a Breakup or Divorce, Rachel Sussman, menyebutkan wajah hubungan pernikahan jarak jauh sudah berubah drastis dari satu dekade lalu. Penyebabnya lantaran ada intervensi teknologi telepon dengan video dan aplikasi perpesanan.

“Aku kira video call dan chatting sangat membantu. Kalian bisa melihat wajah dan ekspresi satu sama lain kapan saja,” terang Sussman.

“Terkadang ketika hanya saling berkabar lewat telepon, bisa ada terinterupsi. Tapi berbeda saat pasangan saling berkomunikasi lewat video, mereka benar-benar fokus satu sama lain,” bebernya.

Namun Sussman meragukan teknologi bisa mengeliminasi persoalan pernikahan jarak jauh. Sebelum memutuskan komitmen hidup terpisah, konselor penikahan ini mewanti-wanti pasangan harus siap dengan risiko kesepian atau stres karena menanggung segala sesuatu sendirian.

“Dari pengalamanku, kebanyakan klien yang hidup terpisah dari pasangannya mengaku cukup stres,” ujar dia.

Meskipun Sussman menyimpulkan pernikahan jarak jauh dari kacamata negatif, namun para pejuangnya jangan lekas putus asa. Studi terbaru yang dilakukan Jiang dkk. memberikan angin segar bagi para pasangan tersebut.

“Pernikahan jarak jauh tidak selamanya gagal. Walaupun tidak jauh lebih gampang dilakoni ketimbang pasangan yang hidup bareng. Namun pasangan harus percaya diri untuk melakoninya. Terlebih sekarang ini pernikahan jarak jauh semakin jamak,” pungkas Jiang.