Taman Bunga Matahari yang Instagram-able Juga Ada di Magelang

17 Februari 2018 13:20 WIB Nina Atmasari Lifestyle Share :

Ribuan bunga matahari yang sedang mekar berwarna kuning cerah, kini bisa menjadi objek foto yang cantik untuk selfie.

Harianjogja.com, MAGELANG- Berfoto di depan objek yang menarik, kini menjadi gaya hidup. Objek-objek untuk berfoto terus dimunculkan untuk memenuhi trend baru ini. Salah satu objek yang kini sedang nge-hits adalah kebun bunga matahari.

Setelah beberapa waktu lalu objek ini muncul di DIY, kini, Magelang pun punya. Ya, ribuan bunga matahari yang sedang mekar berwarna kuning cerah, kini bisa menjadi objek foto yang cantik untuk selfie.

Kebun bunga matahari ini berada di Dusun Kradenan Kalikuning Desa Baturono Salam Kabupaten Magelang. Lokasinya memang kurang strategis karena tidak berada di tepi jalan raya. Bahkan, untuk mencapai tempat ini, harus melalui jalan pedesaan yang sempit.

Namun, teknologi telah memudahkannya. Cari saja Taman Dewari di Google Map, lalu ikuti petunjuknya. Jalan yang diarahkan akan membawa wisatawan menuju objek wisata baru tersebut.

Dari jalan raya Jogja-Semarang, beloklah ke selatan di lampu merah Salam. Sekitar 4 km, ada pertigaan, ambil ke kanan. Jalannya masih mulus dan cukup lebar. Namun, 1 km kemudian, wisatawan harus masuk ke jalan kampung menuju Desa Baturono di kanan jalan. Ikuti jalan kampung tersebut, tak sampai 1 km, kebun bunga matahari ada di kiri jalan.

Perjuangan untuk mencapai kesana, akan terbayar saat wisatawan disambut dengan hamparan bunga matahari yang memenuhi lahan seluas 2.800 meter persegi. Sebanyak 8.000 batang tanaman bunga matahari tengah mekar berbunga, membentuk hamparan hijau dengan hiasan kuning cerah di atasnya. Ketinggian tanaman saat ini sekitar satu meter atau sebahu orang dewasa sehingga menawarkan sensasi berfoto menyembul di tengah lautan bunga matahari.

Taman ini dinamakan Taman Dewari karena mengambil nama anak pemilik kebun tersebut, Dewari. "Dewari itu nama anak saya. Usianya 2 tahun. Daripada susah nyari nama, jadi ambil nama anak saja," kata pemilik lahan tersebut, Pramudita Tunggadewi, 29, saat ditemui Harianjogja.com, Jumat (16/2/2018).

Lahan itu berada di tengah hamparan sawah yang kebanyakan ditanami padi. Dita, panggilan akrab Pramudita Tunggadewi, sengaja menanam bunga matahari untuk menciptakan objek wisata baru. Ide itu muncul tiga bulan lalu.

Berawal dari kesukaannya ber-selfie, Dita berdiskusi dengan suaminya untuk membuat objek selfie yang menarik. "Saya suka selfie, kalau ada objek foto untuk selfie, saya pasti datangi untuk berfoto-foto. Lalu muncul ide untuk membuatnya," tuturnya.

Sang suami, Beta Zanial Amirin, 31, pun mendukungnya. Dari pencarian informasi di internet, mereka akhirnya memutuskan menanam bunga matahari, pada pertengahan Maret 2017. Bukan upaya mudah untuk mewujudkannya. Modal puluhan juta rupiah harus digelontorkan untuk membuat bedeng, membeli plastik mulsa, benih dan pupuk. Benih yang ditanam merupakan benih impor yang mereka beli dari toko online.

Pemeliharaan tanaman dirasanya tidak sulit. Hanya disiram dan dipupuk. Meski demikian, Dita sempat khawatir karena cuaca tidak menentu. Beruntung, tanaman tumbuh subur, hingga awal Januari lalu mulai berbunga. Bunga matahari itu pun merata mekar pada 10 Februari. "Saat mekar itulah, saya mulai buka untuk wisata," jelasnya.

Seperti yang sudah diharapkan, hamparan bunga ini pun menarik perhatian masyarakat. Warga berdatangan untuk berfoto-foto. Dalam sehari, rata-rata 750 orang datang, sedangkan di akhir pekan, bisa mencapai 1.200 orang. Untuk masuk ke lokasi itu, pengunjung ditarik tarif Rp5.000. Adapun untuk parkir Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil.

Dita bahkan harus melibatkan 15 orang dari pemuda setempat untuk mengatur wisata tersebut, mulai penjualan karcis masuk, parkir dan mengawasi tanaman. "Selfie dan masuk ke sela tanaman boleh, tapi jangan sampai merusak tanaman. Kalau merusak, kami minta ganti rugi Rp40.000 per batang," jelasnya.

Sejauh ini, belum ada tanaman yang rusak. Pengunjung bisa berfoto-foto di tengah tanaman karena di setiap bedeng, antartanaman diberi jarak sekitar 30 cm. Di tengah hamparan juga disediakan jalan kecil untuk menuju ke tengah taman.

Ia memperkirakan, taman bunga matahari ini akan tetap mekar selama tiga hingga empat minggu, atau sampai awal Maret. Ke depan, ia mengaku ingin terus mencari ide untuk membuat objek wisata serupa.

Salah satu pengunjung dari Kota Magelang, Fany mengaku senang berfoto-foto di taman tersebut. "Cantik sekali buat foto-foto, keren. Tadi jalannya ke sini harus nyari tapi pas sampai sini terbayar puas," katanya.