Awas! Konsumsi Obat Antinyeri hingga Antibiotik Bisa Picu Penyakit Ginjal Akut

12 Maret 2018 20:15 WIB Muhammad Ismail Lifestyle Share :

Konsumsi obat nyeri dan antibiotik bisa picu penyakit ginjal akut.

Solopos.com, SOLO—Penyakit ginjal kronis ditandai gangguan pada fungsi ginjal berlangsung dalam waktu lama. Puncak dari penyakit itu adalah gagal ginjal atau ginjal tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

Beragam faktor dapat memicu penyakit ginjal akut di antaranya sering mengonsumsi obat-obatan yang bersifat nefrotoksika atau obat yang bersifat meracuni serta mengganggu fungsi ginjal.

Demikian diungkapkan Kepala Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Bambang Purwanto dalam seminar nasional dan workshop dengan tema Pharmaceutical Care and Healthy Lifestyle for Kidney Disease di Hotel Swiss Belinn Saripetojo, Purwosari, Laweyan, Minggu (11/3/2018).

Penyelenggara acara ini adalah Program Studi Farmasi Diploma (D3) STIKES Nasional Surakarta. Tiga pembicara lain dalam seminar ini yakni dokter dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ika Puspita Sari; Project Leader Medical Nutrience Kalbe, Maria Novena Mulyadi; dan Ketua Peneliti Compact Project, Budi Raharjo.

“Obat yang bersifat nefrotoksik antara lain obat-obatan antinyeri, antirematik, dan antibiotik. Obat ini punya pengaruh luar biasa saat dikonsumsi tubuh. Efeknya jangka panjang bisa memicu penyakit ginjal akut. Kami mengimbau kepada pasien untuk lebih cermat dalam menggunakan obat nefrotoksik,” ujar Bambang kepada Solopos.com, Minggu.

Faktor lain penyebab penyakit ginjal akut yakni dehidrasi, pendarahan, dan sumbatan akibat batu ginjal dan kanker. Penyakit ginjal akut kalau selama tiga bulan belum sembuh akan meningkat menjadi penyakit ginjal kronis (PGK). (baca juga: http://solopos.com/?p=901332" target="_blank">TIPS KESEHATAN : Diet Vegan Paling Tepat untuk Penderita Diabetes)

“Gejala PGK ini adalah mual, muntah, anemis, nyeri otot, sigultus atau cegukan, sesak napas, dan batuk produktif. Kami menyarankan pasien mengalami gejala tersebut segera periksa ke dokter sebelum terjadi sesuatu,” kata dia.

Sementara itu, Ika Puspita Sari, mengungkapkan penderita hipertensi atau penyakit darah tinggi menjadi perhatian khusus bagi apoteker sebelum memberikan obat kepada pasien ginjal. Pasien yang mengalami tekanan darah tinggi kalau mendapat obat ginjal yang tidak sesuai dosisnya, bisa mengakibatkan jantungnya bekerja lebih keras dan justru memperparah kondisi ginjal.

“Kami percaya semua dokter dan apoteker sudah punya penilaian sendiri sebelum memberikan obat kepada pasien ginjal,” kata dia.

Ketua panitia seminar nasional dan workshop, Kurnia Andriyanti, mengungkapkan data yang diterima dari semua rumah sakit di Soloraya, penyakit ginjal menduduki peringkat kedua setelah penyakit jantung. Bahkan salah satu rumah sakit terbesar di Kota Bengawan mencatat ada 200 pasien sampai 300 pasien penyakit ginjal yang datang ke rumah sakit.

“Kami ingin memberikan pencerahan kepada masyarakat supaya bisa mejalankan pola hidup sehat agar tidak terserang penyakit ginjal,” kata dia.

Seminar ini dikuti sebanyak 600 peserta dari berbagai kalangan mulai apoteker, bidan, dokter, akademisi, dan masyarakat umum. Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ginjal Sedunia pada 8 Maret.