Jangan Katakan Ini Kepada Anak!

Ilustrasi pelecehan anak. (Solopos/Whisnu Paksa)
06 April 2018 07:50 WIB Muhammad Rizal Fikri Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Siapa sih yang saat anak-anak belum pernah diperingatkan orang tua mereka agar tak sembarangan berbicara dengan orang asing? Meski tak ada datanya, larangan tersebut seolah-olah sudah melekat di benak dan setiap orang tua bakal mempraktikan ke buah hati mereka.Tahukah Anda? Kalau sikap tersebut kurang tepat untuk pertumbuhan anak?

Bagi anak-anak berkomunikasi dengan orang asing memang tidak sepenuhnya aman. Pengawasan dari orang tua harus tetap ada. Namun, hal itu bukan berarti menyuapi anak dengan konsep “orang asing berbahaya” bisa dibenarkan begitu saja.

Menanamkan pemikiran kalau orang asing itu berbahaya adalah teladan yang salah sasaran. Terlepas dari masih adanya kasus penculikan, pada 2013 The Washington Post merilis sebuah penelitian kalau 90% kecelakaan atau hal buruk yang menimpa anak-anak disebabkan oleh orang yang ia kenal. Hanya satu persen merupakan penculikan dari orang asing.

Hal itu didukung oleh pernyataan pemerhati anak-anak, Heather Shumaker.“Memberitahu anak-anak kalau orang asing itu berbahaya gagal untuk melindungi anak itu sendiri. Kecelakaan yang menimpa anak-anak lebih sering berasal dari teman atau keluarga,” ucap Heather Shumaker ke The Daily Beast seperti dikutip Lifehacker.com, Rabu (28/3/2018).

Selain salah konsep, menekankan jangan berbicara kepada orang asing karena berbahaya itu sering membingungkan anak-anak. Kepada siapa label orang asing itu bisa diterapkan? Bagaimana untuk anak-anak yang baru pindah sekolah dan bertemu guru baru untuk pertama kalinya? Bagaimana saat anak-anak di rumah sakit dan dihadapkan dengan suster yang akan merawat mereka?

Berbicara dengan orang asing membuat seseorang lebih terhubung dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu dianggap positif dan sebagai pembelajaran bagi anak-anak untuk mengembangkan skill komunikasinya.

Disarikan dari Lifehacker, ini tiga cara alternatif agar tak lagi menyuapi bocah dengan konsep “orang asing berbahaya”:

1. Kembangkan insting anak

Buat anak memahami bahwa tak semua orang baik dan tak semua orang jahat atau berbahaya. Kembangkan insting anak agar memahami saat ada orang asing yang berniat tak baik. Ajarkan anak agar bisa mendeteksi kalau ada orang yang berniat jahat. Ajarkan ke anak agar bercerita ke orang yang ia percaya kalau baru saja bertemu orang mencurigakan.

2. Pahamkan Anak dengan sebutan “orang licik”

Sebuah organisasi antikekerasan seksual pada anak, Safely Ever After, menggunakan istilah orang licik untuk dipahamkan ke anak-anak. Hal itu berfungsi untuk mengajarkan ke anak-anak memahami seseorang. Anak-anak harus mengetahui ciri-ciri orang licik. Orang licik biasanya meminta anak-anak untuk menjaga sebuah rahasia, meminta pertolongan, dan meminta anak-anak untuk melakukan sesuatu yang membuat si anak tak nyaman.

3. Biarkan anak-anak berbicara dengan orang asing di depan pengawasan orang tua

Cara paling baik untuk menguasai suatu hal adalah berlatih secara langsung dan berulang. Dalam hal ini, biarkan anak-anak berbicara dengan orang asing yang membuatnya penasaran, asalkan orang tua tetap mengawasi.

Contohnya, saat berjalan di keramaian pasti pernah terjadi seorang anak tertarik saat melihat orang lain. Tanpa pikir panjang si anak bisa saja mengajak bicara orang tersebut. Dalam momen-momen seperti ini jangan larang atau dorong anak-anak melakukan apa yang ia lakukan. Lihat dan awasi saja.

Hal ini akan membantu kemampuan si anak untuk bersosialisasi, menumbuhkan rasa percaya diri, dan cara tercepat untuk si anak belajar mengetahui cara untuk mempercayai seseorang.