Mengenal Stevia, Pemanis Alami yang Kontroversial

Ilustrasi daun stevia (Livescience.com)
15 April 2018 10:30 WIB Chelin Indra Sushmita Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Selama ini, kebanyakan orang hanya tahu jika gula pasir yang rasanya manis berasal dari tebu. Padahal, ada tanaman lain yang bisa menghasilkan pemanis alternatif pengganti gula pasir, yakni stevia. Bahkan, sejumlah orang meyakini pemanis dari tanaman stevia lebih aman dari gula tebu, benarkah?

Dihimpun Solopos.com dari Live Science, Sabtu (14/4/2018), stevia adalah tanaman dari daratan Amerika Selatan dan tumbuh subur di Brasil dan Paraguay. Konsumsi pemanis dari daun stevia populer sejak berbagai metode diet bermunculan. Sejumlah pelaku diet yang terobsesi kurus mengonsumsi stevia sebagai pengganti gula tebu. Mereka memilih pemanis dari stevia yang disebut-sebut rendah kalori dan lebih sehat dari gula tebu.

Stevia terasa manis karena kandungan steviol glycosides. Senyawa tersebut membuat daun stevia terasa sangat manis. Bahkan tingkat kemanisannya 250 sampai 300 kali lebih tinggi dari gula tebu. Meski demikian, kandungan kalori pada stevia sangat rendah, bahkan hampir tidak ada. Oleh sebab itu, penggunaan gula ini disebut-sebut cocok bagi penderita diabetes atau yang sedang diet.

Tapi, sampai saat ini masih banyak perdebatan di kalangan peneliti terkait penggunaan gula stevia sebagai bahan tambahan makanan. Pemanis stevia ini bahkan masih jarang dipakai di Amerika Serikat. Sebab, hasil penelitian dari Food and Drug Administration pada 1991 silam menyebut bahwa mengonsumsi stevia bisa memicu kanker. Temuan ini dikuatkan dengan hasil penelitian dari University of California, Amerika Serikat, pada 2008.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Eropa, European Food Safety Authority, stevia aman dikonsumsi. Hasil penelitian yang mereka lakukan memperlihatkan bahwa pemanis ini bukan racun yang menyebabkan kanker. Namun, jenis pemanis yang satu ini ternyata masih dilarang di Indonesia.

Berdasarkan artikel yang ditulis oleh staf pengajar biokomia fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta, Agus Limanto, yang dipublikasikan dalam jurnal Kesehatan Meditek edisi Januari-Maret 2017 menyebut stevia belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, pemanis yang satu ini dilarang penggunaannya sebagai bahan tambahan pangan di Indonesia.

Tulisan Agus Limanto soal larangan penggunaan stevia ini didasarkan pada peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia nomor 4 tahun 2014 tentang batas maksimum penggunaan bahan tambahan pangan pemanis. Dalam keputusan itu tertulis pencabutan peraturan penggunaan ekstrak stevia sebagai pemanis alami yang pernah diizinkan pada 2004.

Meski demikian, masih ada sejumlah peneliti yang menganjurkan penggunaan stevia sebagai pengganti gula tebu. Batas maksimal penggunaan stevia yang aman adalah 0,1-4 miligram per kilogram berat badan.