Wajib Tahu, Ini 4 Jenis Pemanis Nol Kalori

Ilustrasi stevia (Mavcure.com)
27 April 2018 07:10 WIB Chelin Indra Sushmita Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Minuman rendah kalori adalah salah satu yang paling diminati pelaku diet. Minuman ini diklaim aman karena kandungan gulanya yang rendah. Namun, tahukah Anda apa yang membuat minuman rendah kalori tetap terasa manis?

Ya benar, jawabannya adalah pemanis buatan. Semua makanan maupun minuman rendah kalori tentu dibubuhi pemanis buatan. Pemanis buatan ini sengaja dipakai sebagai pengganti gula asli yang diklaim tinggi kalori. Tak ayal, seorang pelaku diet akan dengan santai mengonsumsi minuman rendah kalori yang mengandung pemanis buatan itu.

Padahal, pemanis buatan memiliki dampak negatif bagi tubuh, apalagi jika takaran yang dipakai tidak pas. Jadi, Anda perlu memahami terlebih dahulu apa saja jenis pemanis buatan yang dibubuhkan ke dalam minuman tersebut. Nah, bagi yang belum tahu jenis pemanis buatan umum dipakai di industri makanan tak perlu khawatir. Simak ulasan menarik soal pemanis buatan yang dihimpun Solopos.com dari Boldsky, Kamis (26/4/2018), di bawah ini:

Aspartam

Aspartam adalah pemanis buatan yang paling umum ditemukan dalam bentuk bubuk berwarna putih. Bubuk aspartam ini sangat halus dan tidak berbau manis layaknya gula asli. Aspartam memiliki tingkat kemanisan 200 kali lebih tinggi dari gula tebu murni. Pemanis yang satu ini biasa dipakai dalam minuman, permen karet, serta berbagai biskuit. Meski diklaim aman, penggunaannya harus tetap dibatasi. Pemanis buatan ini telah dipakai di lebih dari 100 negara di dunia, termasuk Indonesia dan Amerika Serikat.

Siklamat

Pemanis buatan lain yang diklaim aman adalah siklamat. Tingkat kemanisan bahan ini berada jauh di bawah aspartam, yakni sekitar 30-50 kali lebih tinggi dari gula. Namun, pemanis siklamat yang dipakai di lebih dari 130 negara di dunia termasuk Indonesia ini justru dilarang penggunaannya di Amerika Serikat.

Sakarin

Sakarin adalah pemanis nol kalori yang tingkat kemanisannya 300-500 kali lebih tinggi dari gula murni. Pemanis buatan ini telah dipakai sebagai bahan tambahan makanan selama lebih dari satu abad. Sakarin mulai populer dipakai saat terjadi kelangkaan gula di Eropa pada Perang Dunia I.

Sampai saat ini, sakarin masih banyak dipakai sebagai bahan pemanis berbagai produk, mulai dari minuman dan makanan diet, kue, permen, obat, maupun kosmetik. Meski tidak dilarang, penggunaan sakarin harus dibatasi.

Stevia

Belakangan ini, pemanis buatan dari daun stevia sangat populer di kalangan pelaku diet. Stevia merupakan tanaman asal Amerika Latin yang daunnya terasa manis. Bahkan, tingkat kemanisannya 250-300 kali lebih tinggi daripada gula tebu. Stevia sangat dikonsumsi pelaku diet sebagai pengganti gula tebu yang berkalori tinggi.

Tapi, sampai saat ini masih banyak perdebatan di kalangan peneliti terkait penggunaan gula stevia sebagai bahan tambahan makanan. Pemanis stevia ini bahkan masih jarang dipakai di Amerika Serikat. Berdasarkan artikel yang ditulis oleh staf pengajar biokomia fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta, Agus Limanto, yang dipublikasikan dalam jurnal Kesehatan Meditek edisi Januari-Maret 2017 menyebut stevia belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, pemanis yang satu ini dilarang penggunaannya sebagai bahan tambahan pangan di Indonesia.

Nah, itulah beberapa jenis pemanis buatan yang biasa dipakai sebagai tambahan makanan. Meski diklaim aman, Anda harus lebih jeli memilih makanan yang aman untuk dikonsumsi, apalagi saat sedang diet. Sebab, makanan yang mengandung pemanis buatan itu menimbulkan sejumlah masalah bagi tubuh, salah satunya batuk.

Tokopedia