Sering Salah, Begini Cara Benar Menangani Gigitan Ular

Ilustrasi gigitan ular. (google image)
12 Mei 2018 21:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Lifestyle Share :

Solopos.com, KLATEN -- Gigitan ular sangat berbahaya terutama ular berbisa. Sayangnya, masyarakat masih sering salah dalam cara  memberikan penanangan awal bagi korban digigit ular berbisa.

Biasanya orang akan mengikat bagian tubuh yang digigit ular. Itu adalah cara yang salah karena justru memperparah kondisi korban.

Ramadan Ekstra - Promo Belanja Kebutuhan Lebaran 2018 - Tokopedia

Pakar toksikologi dan bisa ular yang juga Advisor Temporary World Health Organization (WHO) of Snakebite, Tri Maharani, mengatakan masih ada anggapan yang salah di masyarakat soal penanganan korban gigitan ular. Selama ini penanganan  korban gigitan ular kerap dilakukan dengan mengikat bagian tubuh yang digigit.

Ada juga yang menangani dengan membuat sayatan pada bagian yang digigit untuk mengeluarkan darah. Selain itu, masih ada sebagian masyarakat yang menggunakan berbagai benda, misalnya keris, yang dipercaya bisa mengobati luka serta mengeluarkan bisa dari gigitan ular.

“Kalau diikat atau dikeluarkan darah sebanyak-banyaknya justru racunnya semakin cepat menyebar ke seluruh tubuh,” kata Maharani saat ditemui wartawan di markas unit Pemadam Kebakaran Klaten, Jumat (11/5/2018) siang.

Maharani menuturkan sesuai petunjuk terbaru dari Badan Kesehatan  Dunia (WHO) cara tepat menghindari kefatalan dari gigitan ular adalah dengan tidak menggerakkan bagian tubuh yang digigit. Cara penanganannya seperti pada penanganan korban patah tulang.

Anggota tubuh yang digigit diimpit menggunakan bambu, kayu, kardus, atau benda lainnya yang tidak mudah bengkok. “Kalau bergerak-gerak justru bisa ular menyebar. Kalau sudah seperti itu artinya sudah sistemik dan harus butuh antibisa ular,” ungkap Maharani.

Setelah membuat anggota tubuh yang digigit tidak bergerak, Maharani menjelaskan selama 48 jam kondisi korban harus dipantau. “Setelah 48 jam kalau tidak ada dampak dari gigitan artinya sudah aman. Namun, ketika ada pendarahan, mimisan, kencing darah, atau berak darah, korban harus langsung dibawa ke rumah sakit guna mendapatkan obat antibisa ular,” urai dia.

Maharani menjelaskan obat antibisa ular di Indonesia hanya untuk penanganan gigitan tiga jenis ular yakni kobra, ular tanah, serta ular welang. Sementara jenis ular berbisa di Indonesia ada 76 jenis dari total 358 jenis ular di dunia.

“Antibisa untuk jenis ular lainnya itu di Indonesia belum punya seperti untuk ular king kobra serta ular hijau. Antibisa ularnya harus impor. Makanya perlu ada pemahaman penanganan awal ketika digigit ular berbisa dengan cara tidak menggerakkan anggota tubuh tadi,” ungkapnya.

Disinggung kasus gigitan ular, Maharani menjelaskan di Indonesia termasuk tinggi. Per tahun, angka kasus gigitan ular mencapai 135.000 kasus. Pada 2017, ada 35 kasus gigitan ular yang membuat korbannya meninggal dunia.

Jumlah kasus gigitan ular di Indonesia melebihi angka kasus kanker sekitar 133.000 per tahun. Angka kasus gigitan ular juga mendekati angka kasus HIV/AIDS sekitar 191.000 per tahun. Namun, selama ini belum ada program khusus dari pemerintah untuk kasus gigitan binatang berbisa termasuk ular.

“Kasus gigitan ular itu selama ini kasus terabaikan. Padahal angka kasusnya hampir setara dengan kanker dan HIV/AIDS yang sudah ada programnya. Saya sudah bertemu dengan Menteri Kesehatan dan kami sepakat membuat program baru bernama safe community yang di dalamnya termasuk penanganan korban gigitan ular serta tawon,” kata Maharani.

Sementara itu, kedatangan Maharani ke unit Damkar untuk memberikan materi tentang penanganan gigitan binatang berbisa termasuk ular kepada puluhan orang yang berasal dari unit Damkar Klaten, PMI Klaten, BPCB Jawa Tengah, Damkar Sukoharjo Damkar Boyolali, serta Damkar Magelang.

“Ini baru kegiatan kali pertama. Pelatihan ini sangat penting karena selama ini Damkar tidak hanya menangani masalah kebakaran tetapi juga menangani masalah hewan seperti tawon serta ular,” kata Kabid Perlindungan dan Bina Potensi Masyarakat Satpol PP Klaten, Endang Hadiyati Setyowati.

Salah satu petugas Damkar Klaten, Irwan Santosa, mengatakan selain kerap mendapat laporan soal tawon, Damkar Klaten juga sering mendapat permintaan untuk menangani ular. Sejak Januari hingga pertengahan Mei, ada delapan permohonan penanganan ular yang diterima Damkar. Salah satunya menangani ular kobra.

“Masih banyak jenis ular berbisa di Klaten. Selama ini kami hanya belajar secara autodidak. Makanya, pelatihan seperti ini penting bagi kami petugas Damkar jika sewaktu-waktu mendapat laporan untuk penanganan ular berbisa,” katanya.