Doa Buka Puasa Sesuai Ajaran Nabi Muhammad

Ilustrasi buka puasa (Youtube)
19 Mei 2018 17:00 WIB Chelin Indra Sushmita Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Kumandang adzan maghrib di bulan Ramadan terdengar sangat merdu dibandingkan suara lainnya. Sebab, adzan maghrib merupakan pertanda berakhirnya puasa. Setelah mendengar adzan maghrib, semua muslim yang berpuasa diwajibkan berbuka. Tapi, sebelum makan atau meminum sesuatu, awalilah dengan membaca doa berbuka puasa.

Selama ini, doa berbuka puasa yang sering dibaca berbunyi, "allahumma laka shumtu wabika aamantu, wa'ala rizqika afthortu, birahmatika yaa arhamarrahimiin." Tapi, sebenarnya ada doa berbuka puasa lain yang lebih kuat riwayat hadisnya, namun jarang diperdengarkan. Bahkan, Ustaz Adi Hidayat, menyebut doa yang kurang populer itu lebih sesuai dengan sunah Nabi Muhammad SAW.

Dalam video ceramah yang viral di Youtube, seperti dikutip Solopos.com, Sabtu (19/5/2018), ustaz kelahiran Pandeglang, Banten, 11 September 1984 menyebutkan ada dua doa berbuka tertulis dalam kitab hadis yang diriwayatkan Adu Daud.

"Ada dua doa berbuka puasa yang diriwayatkan dalam kitab hadis Abu Daud. Yang pertama di hadis nomor 2.357 dan selanjutnya 2.358," kata Ustaz Adi Hidayat yang cukup populer di Indonesia.

Hadis riwayat Abu Daud nomor 2.357 berisi doa berbuka puasa yang sering dibacakan, yakni, allahumma laka shumtu wabika aamantu, wa'ala rizqika afthortu, birahmatika yaa arhamarrahimiin. Sementara di hadis nomor 2.358, tertulis doa berbuka puasa yang berbunyi, dhahabazh zhoma'u wabtallatil 'uruqu, wa tsabatal ajru, insyaallah.

"Dua doa ini, kalau kita lihat tersbut dalam kitab yang sama. Hanya beda satu nomor, tapi beda penilaiannya. Doa di hadis nomor 2.357 diperselisihkan oleh ulama. Ulama berpendapat riwayatnya shahih (kuat), tapi ada hadis lain yang riawayatnya lemah. Sementara hadis nomor 2.358 tidak diperselisihkan. Hadis ini shahih (kuat), dan tidak banyak masalah," sambung Ustaz Adi Hidayat.

Berdasarkan penjelasan di atas, Ustaz Adi Hidayat yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Alquran Al Hikmah Lebak Bulus, Banten, mengatakan hadis nomor 2.358 yang tertulis di kitab Abu Daud lebih kuat untuk diamalkan. Namun, dia tidak menyalahkan jika ada orang yang membaca doa berbuka puasa seperti yang tertulis pada hadis nomor 2.357 di kitab Abu Daud.

"Jadi, alangkah lebih baik mengamalkan doa pada riwayat hadis yang kuat. Kalau saya pribadi lebih memakai doa dhahabazh zhoma'u wabtallatil 'uruqu, wa tsabatal ajru, insyaallah. Tapi, kalau ada yang memakai allahumma laka shumtu tidak masalah. Jangan sampai Anda berdebat dan saling mencela hanya karena perbedaan semacam itu. Bukankah mencela itu menghilangkan pahala puasa, mengurangi kemuliaannya?" imbuh Ustaz Adi Hidayat.

"Jadi, sekali lagi saya tanamkan kalau mau membacakan doa berbuka puasa, bacakan yang paling kuat posisinya, dhahabazh zhoma'u wabtallatil 'uruqu, wa tsabatal ajru, insyaallah. Tapi, kalau ada yang membaca allahumma laka shumtu, itu pilihan yang bersangkutan, kita tidak harus mencela atau merendahkan," tegasnya.

Selanjutnya, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa orang yang melewatkan membaca doa berbuka puasa sebenarnya tidak masalah. Sebab, saat seseorang makan, maka puasa yang dilakukannya otomatis batal. "Yang enggak baca doa juga tidak salah sebenarnya. Kalau makan, maka batal sudah puasanya. Dia hanya tidak mendapat pahala sunahnya," tutup dia.

 

Tokopedia