Hukum Nonton Gosip di Bulan Ramadan

Ilustrasi bergosip (dailynews.lk)
21 Mei 2018 16:10 WIB Newswire Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Bulan suci Ramadan sebaiknya diisi dengan berbagai kegiatan dan amalan yang baik. Salah satu hal yang tak layak dilakukan di bulan Ramadan adalah menonton infotainment atau gosip atau gibah.

Bukankah orang yang berbicara dengan yang mendengarkan sama saja? Lantas bagaimana jika berpuasa, apakah diperbolehkan melakukan gibah atau menggosipi orang lain?

Imam Nawawi menyebutkan dalam Kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab sebagaimana dikutip Solopos.com dari Nu.or.id, Senin (21/5/2018):

“Jika seorang yang berpuasa melakukan gibah, maka ia telah bermaksiat, dan tidak batal puasanya menurut pandangan kami, dan Imam Malik, Abu Hanifah, Ahmad, semua ulama berpendapat seperti ini kecuali imam al-Awza’î, beliau mengatakan: batal puasanya sebab ghibah dan wajib mengqadhanya.” Hal dapat dilihat dari Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, Majmu’ Syarhul Muhadzzab, [Beirut, Darul Fikr], juz VI, halaman 356).

Pendapat Al-Auza’î bahwa orang yang melakukan gibah itu batal berdasarkan pada empat hadis, yaitu:

Hadis yang pertama:
“Dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak peduli ia telah meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari).

Hadis yang kedua:
“Dari Abu Hurairah juga, Rasulullah SAW bersabda, “berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan haus saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malam.” (HR An-Nasâi dan Ibnu Mâjah dalam sunan keduanya. Imam Al-Hakim dalam Mustadrak-nya berkata, “Hadis ini sahih atas syarat Imam Bukhari.”

Hadis yang ketiga:
“Dari Abu Hurairah juga, Rasulullah SAW bersabda, “puasa buka sekadar menahan diri dari makan dan minum saja, puasa adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan keji.” (HR Baihaqi dan Al-Hakim). Dalam Mustadrak-nya ia berkata, ‘Hadits shahih dengan syarat Imam Muslim.”

Hadis yang keempat:
“Lima hal yang menyebabkan batalnya puasa, yaitu gibah, mengadu domba, berdusta, ciuman, dan sumpah palsu.”

Itulah empat hadis yang dijadikan hujjah oleh Imam Al-Auza’i, namun para ulama mengomentari:
“Sahabat kami (Ulama Syafi’iyyah) menjawab hadis-hadis tersebut, selain hadis kelima, bahwa yang dimaksud sesungguhnya kesempurnaan puasa dan keutamaan yang dituntut dapat diperoleh dengan menjaga puasa dari perbuatan sia-sia, dan perkataan yang buruk, bukan bahwa puasa batal dengannya.

Adapun hadis terakhir, (Lima hal yang menyebabkan batalnya puasa) hadisnya batil tidak dapat dijadikan hujjah. Imam Mawardi, Al-Mutawalli, dan yang lainnya telah menjawab bahwa yang dimaksud batal adalah batal pahalanya, bukan puasanya.” (Lihat Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawy, Majmu’ Syarhul Muhadzzab, [Beirut, Darul Fikr], juz VI, halaman 356).

Kesimpulannya, gibah atau menonton infotainment ketika berpuasa tidak membatalkan puasa menurut jumhur ulama, namun membatalkan pahala puasa  berdasarkan beberapa hadis di atas.