Bolehkah Nonton Foto Makanan di Medsos Saat Puasa?

Ilustrasi foto makanan lezat (Pictagram)
22 Mei 2018 02:10 WIB Chelin Indra Sushmita Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Adzan maghrib merupakan suara merdu paling dirindukan orang yang sedang berpuasa. Saat mendengar kumandang adzan maghrib, siapapun diwajibkan untuk segera berbuka puasa. Nah, tiga jam menjelang adzan maghrib merupakan waktu yang cukup kritis. Pada waktu itu, kondisi tubuh sudah sangat menurun karena kadar gula dalam darah terbakar menjadi energi sebagai penunjang aktivitas.

Alhasil, perut bakal keroncongan dan terasa sangat lapar sebelum adzan maghrib tiba. Godaan akan semakin berat ketika melihat foto makanan yang beredar di media sosial. Instagram menjadi media sosial paling banyak menyuguhkan gambar maupun video makanan lezqat penggugah selera. Tak jarang, seseorang merasa tergoda hingga tak sabar menantikan waktu berbuka puasa.

Nah, bagaimana hukum melihat gambar makanan lezat yang menggoda di media sosial saat sedang berpuasa? Apakah hal itu mengurangi pahala berpuasa? Seorang dai asal Sroyo, Karanganyar, Ahmad Hudaya, yang merupakan dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta mengatakan,melihat foto makanan lezat di media sosial tidak dilarang.

“Kalau hanya melihat foto makanan dan merasa ingin segera berbuka ya tidak masalah. Yang jadi masalah kalau benar-benar berbuka. Berarti orang itu tidak bisa menahan nafsunya,” katanya saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (21/5/2018).

Seperti diketahui, hakikat berpuasa adalah mengendalikan hawa nafsu. Pengertian mengendalikan ini menurut ahli tafsir Alquran Indonesia, Quraish Shihab, hanya mengatur, bukan membunuh. “Nafsu itu diperlukan. Kita lapar, butuh nafsu untuk makan. Tapi, harus dikendalikan. Jangan alasan puasa, waktu buka semua makanan dimakan, kendalikanlah. Jadi, nafsu itu dikendalikan, bukan dibunuh atau dicegah sama sekali. Nah, puasa tujuannya untuk itu,” terang Quraish Shihab melalui video Shihab Shihab yang diunggah di saluran Youtube Najwa Shibab.

Secara umum, ada tiga jenis nafsu yang dijelaskan di dalam Alquran. Pertama, nafsu muthmainnah yang artinya jiwa. Apapun yang terjadi dia merasa tenang. “Nabi melukiskan orang yang dapat nikmat bersyukur, itu menakjubkan. Kalau dia kena musibah, sabar itu baik. Sehingga dia selalu tenang apapun yang terjadi,” sambung Quraish Shihab.

Kedua nafsu lawwamah, nafsu yang selalu mengecam apabila seseorang melakukan dosa. Singkatnya, seseorang yang melakukan dosa bakal terus mengecam dirinya karena kesalahan tersebut dan berusaha memperbaiki diri. Terakhir, nafsu ammaratu bissu, atau yang biasa dinamakan nafsu.

“Nafsu yang selalu mendorong kepada yang buruk. Nafsu ammaratu bissu ini tidak pernah puasa. Kalau diberi ini dia malu lebih. Jadi harus dihalangi, begitulah nafsu manusia. Nafsu bisa dihalangi dengan kekuatan jiwa seseorang,” terang Quraish Shihab.

Nafsu merupakan hal yang tidak berujung. Sekali manusia menyerah, maka akan terus terjerumus. Ibarat meminum air laut. Semakin diminum semakin haus. Tapi, Quraish Shihab menegaskan bahwa nafsu bukan untuk dibunuh, melainkan dikendalikan. “Sekali lagi, jangan bunuh nafsu, kendalikan dia. Puasa tujuannya mengendalikan nafsu kita,” tutup dia.