Mengenal Kadal Menek, Tata Rambut Tradisional Keraton Solo

Perias Keraton Solo K.R.A.T. Hartoyo Budoyo Nagoro (kanan) selesai membuat tata rambut tradisional Kadal Menek versi asli dan pengembangan di Kampus II ISI Solo, Rabu (6/6 - 2018). (Solopos/Ika Yuniati)
07 Juni 2018 13:15 WIB Ika Yuniati Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO -- Tak banyak yang tahu apa itu Kadal Menek, salah satu jenis tata rambut  tradisional yang berkembang di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebelum era 1980-an. Perias Keraton Solo K.R.A.T. Hartoyo Budoyo Nagoro mengatakan Kadal Menek identik dengan jungkat lengkung atau sisir lengkung yang digunakan untuk merapikan rambut.

Dulu masyarakat Solo selalu mengaplikasikan tata rias tersebut sebelum masuk area Keraton. “Ya biar rapi. Pada jamannya orang masuk Keraton kan harus rapi jadi rambutnya ditata dengan model Kadal Menek ini,” terangnya, Rabu (6/6/2018).

Sekitar 1980-an, Hartoyo melihat Kadal Menek diaplikasikan untuk kostum penari Bedhaya Ela-Ela. Sampai sekarang ini tata rambut yang harus dilengkapi dengan sisir lengkung tersebut identik dengan tari Bedhaya.

Namun Hartoyo yang siang itu memberikan workshop tata rambut Kadal Menek mengatakan era sekarang tata rambut tradisional itu eksistensinya mulai tersingkirkan. Dari sekitar delapan jenis gelungan di Keraton Kasunanan, hanya Kadal Menek yang jarang diaplikasikan.

Pemahaman orang-orang terhadap tata rambut ini menyempit hanya untuk tari Bedhaya. Padahal bisa juga digunakan untuk kostum Tari Endah, Langen Asmara, atau lainnya yang menyimbolkan kegagahan.

Lebih dari itu, minimnya aplikasi tata rambut Kadal Menek juga dikarenakan sisir lengkung yang jarang diproduksi apalagi sisir lengkung asli yang berbahan penyu. Sekarang ini kalaupun ada rata-rata menggunakan sisir berbahan tanduk kerbau yang lebih kaku.

“Di Keraton [Keraton Solo] bahkan sisir berbahan penyu itu hanya ada empat. Ini [minimnya sisir lengkung] juga menjadi salah satu penyebab Kadal Menek enggak banyak dipelajari,” terang Hartoyo.

Seperti halnya tata rias rambut lainnya, Kadal Menek mengandung nilai filosofis yang tinggi tentang kehidupan. Lengkungan rambutnya yang bergelombang ke atas layaknya pola jalan seekor kadal mengandung optimisme.

“Soal kehidupan yang jalannya tak tentu. Ibaratnya kadal yang seperti itu saja bisa bertahan hidup dengan caranya sendiri. Jadi kita manusia yang punya akal harusnya bisa lebih dari itu,” kata Hartoyo.

Oleh karena itu untuk mengenalkan kembali tata rias Kadal Menek kepada generasi muda, Hartoyo bekerja sama dengan Program Studi (Prodi) Batik ISI Solo menggelar workshop di kampus setempat, Rabu.

Dalam kesempatan itu Hartoyo yang diberi mandat meluruskan pengertian adat budaya sesuai pakem Keraton Solo juga menyumbangkan sebuah sisir lengkung berbahan tanduk kerbau untuk Prodi Batik ISI. Setelah ini ia berencana menggelar pelatihan serupa di SMKI atau SMK Negeri 8 Solo.

Ketua panitia acara, Dwi Nova Nanda, mengatakan pentingnya belajar kembali soal tata rias rambut tradisional yang selama ini dianggap sepele. Tak sekadar melatih cara mengaplikasikannya, acara itu juga diisi dengan diskusi soal makna filosofi Kadal Menek.

“Ya dari beberapa yang mengaplikasikan tata rambut tersebut hanya sedikit yang tahu maknanya. Bahkan ada yang cenderung membuat tata rambut inovasi yang jauh dari pakem aslinya. Di sini kami membedah kembali bentuk aslinya sekaligus membahas nilai-nilai filosofinya,” terang Dwi.



Tokopedia