Sucikan Diri dan Harta dengan Zakat Fitrah

Beras (Pinterest)
10 Juni 2018 02:00 WIB Chelin Indra Sushmita Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Hari Raya Idulfitri sudah di depan mata. Salah satu kewajiban umat Islam sebelum merayakan Hari Kemenangan itu adalah membayar zakat fitrah. Zakat fitrah merupakan zakat wajib bagi setiap individu yang mampu dengan syarat-syarat tertentu.

Menurut pakar tafsir Alquran, Quraish Shihab, mengatakan zakat memiliki dua makna, yakni penyucian dan pengembangan. "Harta perlu disucikan perlu disucikan dan dikembangkan. Diri kita pun demikian. Jadi, zakat fitrah adalah bentuk penyucian sekaligus pengembangan diri," terang Quraish Shihab dalam video ceramah yang dinukil Solopos.com dari Youtube, Sabtu (9/6/2018).

Zakat fitrah adalah lambang kesediaan seseorang untuk memberikan hidup kepada orang lain. Dalam kata lain, zakat fitrah merupakan lambang kesediaan untuk memberi pangan bagi siapapun. "Siapapun yang lahir pada akhir Ramadan dan hidup walau sedetik setelah berbuka, maka wajib dizakati. Dengan catatan, memiliki kelebihan untuk dirinya dan yang wajib diberinya pangan sehari semalam," sambung Quraish Shihab.

Pada prinsipnya setiap muslim diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya, keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak kecil, laki-laki maupun wanita. "Setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah, suci. Maka wajib bagi dirinya untuk menyucikan diri dengan mengeluarkan zakat," imbuh Quraish Shihab.

Dalam Alquran, perintah untuk berzakat diulang sekitar 24 kali. Allah menurunkan perintah zakat beriringan dengan salat. Dengan kata lain, zakat merupakan hal yang sangat penting karena merupakan salah satu pilar pokok Islam. Sayang, banyak orang enggan berzakat karena merasa harta yang dimiliki diperoleh dari hasil kerja keras. Jadi, seseorang biasanya hanya mengeluarkan zakat sekali dalam setahun dalam bentuk zakat fitrah.

"Allah memberikan perintah zakat dalam Alquran dengan kata aatuu azzakat (bayarkan zakat). Kata aatuu di sini memiliki tiga makna, sempurna, antar, dan terhormat. Artinya, antar zakat kepada orang yang membutuhkan. Sempurnakan kadarnya agar Anda menjadi orang yang terhormat," terang penulis kitab Tafsir Al Misbah itu.

Menurut para ulama besaran zakat fitrah yang dikeluarkan adalah sesuai penafsiran terhadap hadis Nabi Muhammad, yakni sekitar satu sha’ (1 sha’=4 mud, 1 mud=675 gr) atau kira-kira setara dengan 3,5 liter atau 2.76 kilogram makanan pokok (tepung, kurma, gandum, beras) atau yang biasa dikonsumsi di daerah bersangkutan (Mazhab Syafi’i dan Maliki).

Zakat Fitrah dikeluarkan pada bulan Ramadan, paling lambat sebelum orang-orang selesai menunaikan Salat Id. Jika waktu penyerahan melewati batas ini, maka yang diserahkan tersebut tidak termasuk dalam kategori zakat melainkan sedekah biasa.

Adapun penerima Zakat secara umum ditetapkan dalam delapan golongan, yakni fakir, miskin, amil (pengelola zakat), mualaf, hamba sahaya, gharim alias orang yang terlilit utang, fiisabilillah atau pejuang di jalan Allah, dan ibnu sabil alias orang yang kehabisan bekal di tengah perjalanan.

Tapi, beberapa ulama berpendapat zakat fitrah semestinya diberikan kepada dua golongan pertama, yakni fakir dan miskin. Pendapat ini disandarkan dengan alasan bahwa jumlah atau nilai zakat yang sangat kecil. Sementara salah satu tujuan dikelurakannya zakat fitrah adalah agar para fakir dan miskin dapat ikut merayakan hari raya dan saling berbagi sesama umat Islam.