Awas! Cipika-cipiki Bisa Kena Penyakit Ini

Ilustrasi cipika cipiki (Dok)
24 Juni 2018 19:07 WIB Irwan A Syambudi Lifestyle Share :

Solopos.com, SLEMAN -- Anda sering cipika cipiki alias cium pipi kanan kiri saat bertemu dengan teman, sahabat maupun saudara. Terutama saat momentum Lebaran 2018 lalu, selain bersalaman biasanya juga diikuti cipika cipiki dengan sejenis.

Nah ternyata di balik cipika cipiki ada penyakit yang mengintai, yakni insfeksi saluran pernapasan atas atau ISPA. Penyakit ini paling banyak diderita warga seusai liburan. Berbagai bentuk interaksi dan konsumsi makanan saat Hari Raya Idulfitri diduga menjadi penyebab tingginya penderita penyakit ini.

Kepala Seksi Kesehatan Dasar dan Rujukan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Tunggul Birowo mengatakan berdasarkan catatan ISPA menjadi penyakit yang paling banyak diderita warga pada saat libur Lebaran. Lebih dari sepekan yakni mulai 11 Juni hingga 19 Juni kemarin berdasarkan data dari dari 25 Puskesmas, jumlah penderita ISPA berada diurutan pertama.

"Orang yang menderita flu, batuk, dan pilek itu dalam istilah medisnya ISPA. Hampir dari tahun ke tahun [saat musim Lebaran] seperti itu, yang paling banyak diderita masyarakat adalah ISPA," kata dia, Kamis (21/6/2018) sebagaimana dikutip Harianjoga.com.

Menurutnya ISPA adalah penyakit yang jelas mudah penularannya karena dapat melalui udara. Sehingga jika ada orang di sekitar yang batuk atau bersin saja dapat menular ke orang lain yang ada di tempat tersebut. Terlebih jika orang tersebut daya tahan tubuhnya lemah, maka sangat mudah tertular.

"Saat Lebaran seperti ini ya otomasi semakin mudah penularannya. Orang sungkeman cium pipi kiri pipi kanan, ngobrol lama dengan sanak saudara yang lama tidak ketemu ya tidak peduli apakah dia sedang batuk atau flu," ujarnya.

Tidak hanya ISPA penyakit lain seperti hipertensi, diare, dan penyakit lambung atau maag banyak di derita oleh masyarakat. Hal ini menurutnya lebih disebabkan oleh pola makan yang sembarangan. Pasalnya pada saat lebaran menu makanan jauh lebih beragam dan konsumsi masyarakat menjadi tidak terpola dengan baik.

Untuk itu, pihaknya sudah jauh-jauh hari mengantisipasi adanya jumlah peningkatan kasus penyakit tertentu pada saat libur Lebaran. Hal itu dilakukan  dengan tetap menyediakan layanan kesehatan di Puskesmas meskipun hari libur.