Anak Gimbal Dieng, Minta Es Krim hingga Rambut Dipotong Gubernur

Anak gimbal berfoto bersama sebelum prosesi pemotongan rambut gimbal di Dieng Culture Festival, Minggu (5/8/2018). (Harian Jogja - Bernadheta Dian S.)
07 Agustus 2018 15:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Lifestyle Share :

Solopos.com, BANJARNEGARA—Langit di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, cerah, Minggu (5/8/2018). Suhu pagi yang mencapai dua derajat celcius lama-kelamaan pecah seiring munculnya sang Surya.

Kendati dingin sesekali merasuk, warga Dieng dan ribuan wisatawan berbaur dan menyatu di pelataran Candi Arjuna.

Tokopedia

Mereka rela berdesak-desakan untuk bisa menyaksikan sebuah prosesi langka yaitu pemotongan rambut gimbal, yang merupakan rangkaian Dieng Culture Festival ke-9.

Sekitar pukul 09.00 WIB, arak-arakan yang membawa 12 anak berambut gimbal atau yang juga disebut anak gembel mulai berjalan menuju kompleks Candi Arjuna. Sebanyak 12 anak itu perempuan dan menggunakan pakaian serba putih.

Di antara mereka ada yang berusia delapan tahun, ada pula yang masih empat tahun. Ada yang digendong, ada pula yang digandeng orang tuanya.

Pemotongan rambut gimbal diawali dengan jamasan. Karena semua peserta adalah perempuan, petugas jamasan juga wajib perempuan. Kali ini, istri Gubernur Jawa Tengah, Atiqoh Ganjar Pranowo didapuk untuk melakukan jamasannya.

Tak lebih dari 30 menit, prosesi jamasan pun selesai. Berakhirnya prosesi itu mengawali pemotongan rambut gimbal secara bergiliran. Prosesi ini diyakini menjadi satu-satunya prosesi yang ada di dunia.

Menurut kepercayaan, anak-anak laki-laki rambut gimbal yang banyak ditemukan di daerah Dieng merupakan titisan dari Kyai Kolodete, leluhur yang pertama kali menginjakkan kaki di bumi kayangan Dieng. Sementara untuk anak gimbal wanita merupakan titisan Nyai Roro Ronce.

Titisan Nyai Roro Ronce dipercaya tersebar di beberapa daerah. Selain di Dieng, ada pula di Cikampek. Salah satu dari 12 anak gimbal tersebut juga ada yang berasal dari Cikampek. 

Menurut salah satu orang tua anak gimbal yang temui Solopos.com, rambut gimbal muncul bermula dari anak mengalami panas tinggi dan kejang. Setelah muncul rambut yang menggumpal, panasnya pun hilang. Rambut itu tetap akan tumbuh gimbal jika keinginan untuk memotong rambut bukan dari anak itu sendiri.

Jika anak sudah berkeinginan memotong gimbalnya, orang tua juga harus memenuhi semua keinginan si anak.

Laila Handayani, 8, misalnya. Anak dari Cikampek ini memiliki keinginan agar yang memotong rambut gimbalnya pertama kali adalah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Dalam kesempatan itu, Ganjar pun hadir dan memotong rambut gimbal Laila. Permintaan unik juga datang dari anak lain. Selain sepeda, ada yang minta es krim rasa anggur, jeruk, dan mangga. Ada pula yang menginginkan ikan lele hidup. Semua itu dituruti, agar rambut gimbal dapat terpotong dan tumbuh normal.

Prosesi pemotongan rambut gimbal ini merupakan rangkaian acara dari Dieng Culture Festival ke-9 yang dilaksanakan sejak Jumat-Minggu (3-5/8/2018).

Beragam acara digelar mulai dari pertunjukan seni tari, lomba tumpeng, menghias caping, kirab anak rambut gimbal, festival domba Dieng, Jazz Atas Awan dengan bintang tamu Letto, sampai pesta lampion dan kembang api di Lapangan Pandawa.

Ribuan orang memadati Lapangan Pandawa sejak hari pertama. Banyak kalangan anak muda yang mendirikan tenda di sekitar kompleks Candi Arjuna. Beberapa wisatawan juga menyempatkan diri berwisata ke obyek wisata lain seperti di Kawah Sikidang, Puncak Sikunir, dan masih banyak lagi.

"Mari kita kembangkan pariwisata di sini karena pariwisata menjadi salah satu penyangga ekonomi," kata Ganjar dalam sambutannya sebelum prosesi pemotongan rambut gimbal.