Waspada Bila Anak Mengalami Obesitas

Arya Permana (Caters News Agency)
07 Agustus 2018 17:15 WIB Arif Fajar S. Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO-Masih ingat dengan Arya Permana, yang mengalami obesitas? Bocah asal Karawang, Jawa Barat ini sempat menjadi perhatian masyarakat karena berat tubuhnya yang luar biasa. Bahkan dia masuk catatan Muri sebagai pemegang rekor anak dengan bobot tubuh terberat.

Namun, kini Arya Permana, 12, berhasil memangkas berat tubuhnya seberat 83. Beratnya pada Mei 2018 mencapai 109 kilogram dari semula 192 kilogram sekitar satu tahun lalu. Perubahan berat badan ini setelah Arya Permana melakukan diet ketat didampingi ahli medis.

Tokopedia

Bahkan ahli medis memantau ketat perkembangan berat badan Arya sejak April tahun lalu. Tidak hanya diet ketat dengan pengawasan tim medis, Arya juga menjalani operasi. Operasi ini membuatnya lebih cepat merasa kenyang.

Sebelum menjalani operasi dan diet ketat, Arya hanya bisa tiduran. Karena berat badannya membuat dia tidak bisa melakukan aktivitas anak seusianya. Namun, sekarang dengan penurunan berat badan yang lumayan banyak, Arya sudah bisa menjalani aktivitas bersama teman sebayanya, dan tidurnya pun lebih nyenyak.

Berdasarkan laporan penelitian gabungan tahun 2016 yang dilakukan oleh Unicef, WHO dan ASEAN, Indonesia memiliki persentase yang sama untuk anak obesitas dan anak malnutrisi (gizi kurang/buruk), yaitu sebesar 12 persen.

Risiko obesitas pada anak saat ini menjadi semakin tinggi dengan meningkatnya akses pada makanan cepat saji dan makanan bernutrisi buruk (junk food). Dokter spesialis anak di Rumah Sakit (RS) dr. Oen, Solo, Mohammad Wildan, mengatakan obesitas pada anak bukan tanpa risiko. Karena anak yang mengalami obesitas akan mengalami sejumlah gangguan, seperti gangguan sistem kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah),  gangguan metabolisme, bahkan bisa berakhir dengan kematian.

Selain itu anak obesitas juga berisiko mengalami sindrom metabolik, yakni kumpulan gejala perkembangan penyakit degeneratif, seperti tingginya tekanan darah, tingginya kadar kolesterol jahat atau LDL (low density lipoprotein) dan rendahnya kolesterol baik atau HDL (high density lipoprotein), serta penumpukan lemak di sekitar perut. Termasuk juga anak berisiko mengalami gejala asma.

Berat badan berlebihan juga mengganggu pertumbuhan tulang, sendi, dan otot pada anak. Pada masa anak-anak, tulang dan sendi sedang mengalami pertumbuhan sehingga belum memiliki bentuk dan kekuatan yang optimal. Apabila seorang anak mengalami berat badan berlebih maka akan merusak area pertumbuhan tulang dan dapat mencederai tulang.

Anak yang mengalami obesitas juga cenderung mendapat stigma dan kurang diterima di lingkungan sosial seusianya. Mereka juga cenderung mengalami pandangan negatif, diskriminasi, hingga perilaku bully oleh teman-temannya karena kondisi badan mereka.

Anak obesitas juga berisiko mengalami gangguan psikologis yang merupakan hasil dari stigma dan diskriminasi sosial. Gangguan psikologis tersebut bisa berupa persaan mindah, merasa rendah diri, dan mengalami depresi.

Anak obesitas juga berisiko mengalami gangguan tidur serius seperti sleep apnea. Di mana gangguan tidur tersebut berupa pernapasan sering berhenti sesaat selama tidur, akibatnya organ tubuh, terutama otak tidak mendapat oksigen yang cukup. Selain itu menjadikan kualitas tidur buruk, yang dapat membuat anak lelah keesokan harinya. “Paling fatal jika pernapasan berhenti selamana,” terang dr. Wildan.