Puluhan Tahun Menikah, Tiba-Tiba Minta Cerai Kenapa Ya?

Ilustrasi cerai (nypost)
09 Agustus 2018 20:32 WIB Newswire Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO-Keputusan cerai pasangan suami istri (pasutri) yang sudah puluhan tahun menikah kerap mengundang banyak tanya pada orang sekitar. Mereka kan pasangan serasi, cocok, rukun, jarang ada masalah, kok cerai ya? Mungkin itu yang ada di benak banyak orang.

Tak ada orang luar yang benar-benar paham akan kehidupan pernikahan pasutri dan pasang surut masalah rumah tangga yang mereka hadapi. Namun, paling tidak ada lima alasan tersering memicu pasutri yang sudah lama menikah memilih cerai. Dikutip dari laman Live About dan dilansir liputan6.com, Senin (8/1/2018), berikut selengkapnya.

Perselingkuhan
Tidak peduli sudah berapa usia seseorang, perselingkuhan selalu menjadi bayang-bayang pernikahan pasutri. Terlebih ketika hubungan pernikahan kurang intim, salah satu mungkin mencari hal yang hilang tersebut di sosok lain.
Perselingkuhan mungkin menjadi penyebab perceraian pada pernikahan jangka panjang, tapi kenyataannya perselingkuhan hanyalah gejala dari sebuah masalah dalam pernikahan. Sayangnya, gejala ini membuat pernikahan berujung cerai.

Ingin sesuatu yang lebih baik di kehidupan
Seiring berjalannya waktu, apa yang diinginkan seseorang di awal dan sesudah puluhan tahun menikah berbeda. Keinginan di usia 25 tahun berbeda dibandingkan keinginan saat berusia 55 tahun. Ketika tidak menemukan titik temu, perceraian dianggap jalan terbaik.

Keinginan untuk bebas
Keinginan untuk kembali mendapatkan kebebasan kerap menjadi alasan bercerai. Misalnya ketika seorang istri sudah kembali bekerja. Dia kembali mendapatkan penghasilan dan keuangan stabil. Hal ini membuat seseorang berani untuk mengakhiri sesuatu dan dia kembali mendapatkan kebebasan yang selama ini dirasa direnggut.

Merasa hampa ketika anak-anak sudah besar
Beberapa pernikahan kuat karena kehadiran anak. Begitu anak-anak menjadi dewasa dan mulai meninggalkan rumah, mereka akan merasa kehilangan. Hal ini terjadi karena emosi yang terjalin hanya berfokus untuk membesarkan anak-anak. Ketika anak-anak sudah besar, emosi yang terjalin sudah tidak ada.
"Banyak pasangan yang kemudian bertanya-tanya, tanpa anak-anak apa yang kita miliki sekarang?" kata pekerja sosial klinis asal Amerika Serikat, Danielle Horwich.
"Beberapa pasangan akan melihat transisi ini sebagai kesempatan yang bersemangat untuk memulai petualangan baru. Yang lain, malah merasa tidak saling mengenali dan memahami pasangan yang mereka nikahi," kata Horwich.

Pensiun dan terlalu banyak waktu bersama
Mungkin pasangan merasakan bosan dengan pasangan mereka atau sudah merasa terbiasa. Terlebih mereka sudah menghabiskan waktu puluhan tahun untuk membangun rumah, menapaki karier, dan membesarkan anak.