Penderita Hipertensi Bolahkah Makan Daging Kambing?

Ilustrasi - Wowamazing
18 Agustus 2018 10:30 WIB Dewi Andriani Lifestyle Share :

Solopos.com, JAKARTA - Hari Raya Iduladha identik dengan pemotongan hewan kurban, kambing maupun sapi. Daging tersebut kemudian diolah menjadi berbagai makanan yang memiliki cita rasa nikmat, mulai dari satai, gulai, tengkleng, hingga nasi kebuli.

Namun, tidak sedikit masyarakat yang khawatir jika mengonsumsi daging, terutama daging kambing dapat menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi atau hipertensi. Hal tersebut rupanya dibantah oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Tunggul D. Situmorang. 

“Itu harus diluruskan. Tidak ada di buku manapun yang mengatakan makan daging kambing menyebabkan hipertensi,” tegasnya.

Meski demikian dia mengingatkan agar para penggemar daging membatasi konsumsi agar tidak berlebihan. Pasalnya, daging merah memiliki jumlah kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi dan dikenal dapat meningkatkan kolesterol serta memicu penyakit jantung.

“Biasanya penyakit itu suka datang secara bersamaan. Hipertensi, kolesterol, diabeter mellitus, dan asam urat. Jadi tetap harus dibatasi,” tuturnya.

Lantas, mitos yang mengatakan bahwa konsumsi daging menyebabkan darah tinggi muncul dari mana? Ternyata hal ini dipicu oleh proses pengolahan dan penggunaan beragam bumbu penyedap selama memasak daging kambing.

Bumbu penyedap makanan seperti garam dan mecin memiliki jumlah sodium dan natrium yang sangat tinggi. Apalagi dengan semakin banyak proses pengolahan maka akan semakin tinggi juga kandungan sodiumnya.

Dokter yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia ini mengatakan kandungan yang ada di dalam garam inilah menjadi penyebab utama tekanan darah tinggi jika dikonsumsi secara berlebihan.

“Faktor penyebab hipertensi jelas garam. Ketika ada orang yang terkena hipertensi dan tidak diketahui penyebabnya apa, itu pasti karena konsumsi garam berlebih.

Apalagi jika ada riwayat keluarga terkena hipertensi, ini dikatakan hipertensi primer. 90% penderita hipertensi karena hipertensi primer.”

Meski demikian, bukan berarti masyarakat tidak boleh mengonsumsi garam sama sekali. Boleh saja, asalkan takarannya lebih dibatasi. Sebab, bagaimanapun kandungan sodium dan natrium pada garam masih dibutuhkan oleh tubuh manusia.

Badan kesehatan dunia, WHO (World Health Organization) menganjurkan untuk membatasi konsumsi sodium 2.400mg atau sekitar 1 sendok teh garam per hari.

Adapun pasien hipertensi berat dianjurkan untuk melakukan diet rendah garam I dengan hanya mengonsumsi 200-400 miligram Natrium atau garam setiap harinya.

Sementara pasien hipertensi tidak berat dianjurkan melakukan diet rendah garam II dengan mengonsumsi hanya 600-800 miligram atau sekitar setengah sendok teh garam setiap harinya.