Serunya Jadi Pengusaha Batik ala Permainan The Art of Batik

Ilustrasi The Art of Batik. (Ist)
20 Agustus 2018 18:48 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO—Sejak 2015, permainan berbasis papan alias board game kembali melejit di Indonesia. Oktober 2017, Hompimpa Game, penerbit dan pengembang board game dan card game asal Solo merilis lima gim papan yang lekat dengan kearifan lokal.

Salah satunya, The Art of Batik, yang dikembangkan oleh Adhitya Wahyu Purnama. Gim ini laris diborong gamers di Essen SPIEL 2017, konvensi board game internasional di Jerman.

Selasa (14/8/2018) malam, Solopos.com dan Adhitya menjajal memainkan gim ini bersama Hery Prasetya dan Reiza Fadhila, dua karyawan Board Game Library (BGLIB) di Kompleks Muara Market, Jl. Lumban Tobing, Banjarsari, Solo.

Di ruangan yang didominasi warga kuning dan biru itu, kami merampungkan tiga kartu batik selama satu jam. Ya, gim papan ini mengajak pemainnya untuk bermain sambil belajar membatik.

Garis besarnya, pemain dibawa ke Sentra Batik Solo dan menjejak pada 1970-an. Pemain berperan sebagai tangan kanan dari Mbok Mase (seorang wanita pemilik pabrik kain batik).

Sebagai asisten yang baik, pemain harus mengatur pekerja dengan keahlian yang tepat. Setiap asisten berlomba memilih bahan terbaik untuk menghasilkan batik sempurna.

The Art of Batik memiliki komponen berupa satu kotak permainan yang juga berfungsi sebagai papan nilai. Berikutnya, 36 kartu market, dua kartu drying, sembilan kartu desainer, empat kartu training, 16 kartu proses batik, dan 52 token pemain.

Aturan mainnya, setiap pemain mendapat satu kartu batik training, satu kartu referensi, 13 token, dan empat kartu market.

Sebelum memulai permainan, seluruh item ditata di meja, dengan membuka tiga kartu proses batik, empat kartu market untuk pasar terbuka berikut satu kartu drying.

Riset

Kemudian sisa kartu market ditumpuk menjadi pasar tertutup. Saat gilirannya, pemain diharuskan memulai proses membatik dengan meletakkan satu token di atas kartu proses batik.

Peletakan token itu berbarengan dengan menyerahkan sejumlah kartu market dari tangan pemain dan satu kartu market lagi dari pasar terbuka atau pasar tertutup.

Kartu market di tangan pemain bertindak sebagai bahan, sedangkan kartu market di pasar untuk keahliannya.

Di kartu proses batik itu akan tergambar bahan dan proses apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan misi. Misalnya, salah satu proses membatik membutuhkan lilin atau malam (bahan) serta canting (keahlian).

“Pemenang dalam permainan ini adalah pemain yang paling banyak berkontribusi dalam menyelesaikan suatu proses batik [majority rule]. Hal ini dilihat dari banyaknya token yang diletakkan di kartu proses batik,” kata Adhitya, Selasa.

Adhit memerlukan tiga bulan untuk riset awal tentang proses membatik dan mulai membuat konsep mekanik untuk permainan.

Kemudian sebulan proses play test. Riset tersebut dilakukan di salah satu perajin batik di Kampung Batik Laweyan. “Gim ini juga bertujuan melestarikan kearifan lokal melalui permainan,” tutur warga Kelurahan Sewu RT 002/RW 010, Kecamatan Jebres, Solo itu.

Pendiri Hompimpa Games sekaligus pemilik BGLIB Solo, Erwin Skripsiadi, mengatakan The Art of Batik terjual habis sekitar 500 item pada Essen SPIEL 2017 lalu. Gim itu terbukti banyak diminati pencinta board game.

“Seluruh board game Hompimpa berkonten lokal. Selain menarik, tentu lebih bermanfaat sebagai sarana edukasi kearifan lokal. Harapannya orang enggak terus main gim digital tapi juga melirik permainan papan. Gim yang membutuhkan komunikasi diharapkan mengembalikan nilai keluarga dan kebersamaan,” kata dia.