Apa Menariknya Menekuni Breakdance? Ini Kata Pemainnya...

Kru Komunitas SOC Breaker, kelompok breakdance asal Solo. (Ist)
20 Agustus 2018 20:43 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO—Irama hip-hop bertempo cepat diputar di ruang terbuka di Muara Market, Jl. Lumbang Tobing, Pasar Legi, Kelurahan Setabelan, Kecamatan Banjarsari, Solo, Selasa (14/8/2018) malam.

Sekelompok anak muda memainkan gerakan breakdance mengikuti irama itu. Handstand, toprock, downrock, dan powermove digerakkan dengan begitu asyik. Keringat bercucuran dari dahi mereka.

Ya, anak-anak muda yang tergabung dalam Komunitas SOC Breaker itu telah setahun terakhir berlatih breaking di ruang kreasi tersebut. Dua kali sepekan mereka berkumpul saling adu kreasi tarian selama minimal dua jam.

“Kami berlatih setiap Selasa dan Jumat. Entah akan ada kompetisi atau tidak kami tetap berkumpul untuk b-boying. Breakdance bagi kami bukan sekadar media berekspresi tapi juga bercengkerama layaknya keluarga,” ucap Daniel Revelino Arsono, salah satu b-boy Carbon Crew, yang ikut berlatih, Selasa.

Kepada Solopos.com, pemuda kelahiran 20 Mei 1993 itu mengaku menekuni gaya tarian jalanan itu sejak 2007 lalu. Kala itu, salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia memiliki program acara bertajuk Lets Dance.

Acara tersebut merupakan kompetisi adu jago tari antar anak-anak muda. Di situlah, ia jatuh cinta lantaran menganggapnya keren.

Warga Perumnas Palur, Kecamatan Jaten, Karanganyar itu menyebut untuk menghapal setiap gerakan breakdance butuh waktu yang enggak singkat. Kuncinya terus berlatih. Bahkan, gerakan-gerakan sulit seperti footwork yang memerlukan kombinasi apik antara tangan dan kaki, butuh waktu hingga sembilan bulan.

B-boy lain, Pranata Diki, 21, mengaku jatuh cinta pada breakdance karena bisa menyalurkan energi. Lewat tarian ini pula, Diki bisa berkompetisi sekaligus mengumpulkan pundi-pundi.

“Sejak kelas 1 SMP saya sudah b-boying. Tahun-tahun sekitar 2007 sampai 2008 breakdance sangat digilai. Di trotoar pinggir jalan, di tepi lapangan basket banyak dijumpai b-boy. Tarian ini bahkan tak pernah absen jadi hiburan saat kompetisi basket,” jelasnya.

Selain musik sebagai pengiring breaking, fesyen alias wardrobe menjadi elemen penting dalam breakdance. Kenyamanan menjadi poin utama untuk mendukung gerakan breakdance yang membutuhkan kelenturan.

Risiko Cedera

B-boy anggota Komunitas SOC Breakin, Thomas Satriapril, 16, mengatakan umumnya atasan yang dikenakan adalah yang menyerap keringat, sedangkan bawahannya bisa celana jins atau training. Setelan workout  juga oke dan bisa dipakai. Untuk sepatu, sneakers pilihan utamanya.

“Tambahan outfit bisa topi beanie, topi baseball dan sejenisnya. Ada juga yang memakai bandana agar rambutnya tidak menutup mata,” jelas siswa SMK Negeri 5 Solo itu.

Hal lain yang tak kalah jadi perhatian dalam breakdance adalah risiko cedera. Keseleo alias cedera otot adalah kondisi yang kerap dialami breaker.

“Sudah enggak terhitung berapa kali saya terkilir. Entah di kaki atau tangan. Kalau orang lain, saat kakinya terkilir pasti rehat. Tapi enggak buat saya. Saya malah latihan meski tetap mengurangi gerakan yang susah,” ucap b-boy asal Kampung Bisis Kulon, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo, Yusuf Arlentha Putra, 18.

Meski berisiko cedera, para breaker mengaku sering latihan tak membuat usahanya sia-sia. Terlebih jika sukses memenangkan kompetisi atau bisa bergabung mengisi event besar.

B-boy Christian Andriano Filipo Setiawan mengaku pernah memeriahkan Hari Tari Sedunia di Solo pada April 2018 lalu. “Tari kontemporer berdampingan dengan tari tradisional rasanya enggak percaya. Tapi kami benar-benar ikut serta di salah satu spot,” terang pemuda 18 tahun itu.