Masa Lalu Orang Tua yang Pahit Hambat Perkembangan Anak

Anak-anak bertengkar. - focusforwardcc.com
01 September 2018 09:15 WIB Dewi Andriani Lifestyle Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Pola pengasuhan yang diterapkan orang tua untuk membantu tumbuh kembang anak ternyata tidak lepas dari pengalamannya di masa kecil. Seseorang yang memiliki pengalaman buruk pada masa kanak-kanak atau adverse childhood experience (ACE) ternyata lebih cenderung memiliki anak yang mengalami keterlambatan dalam proses tumbuh kembang.

Para orang tua tersebut juga lebih sulit dan lebih lama mengatasi permasalahan kesehatan anak-anaknya. Demikian hasil riset yang dikembangkan Sheri Madiga dari University of Calgary seperti dikutip dari Reuters.

Madigan dan tim meneliti 1.994 ibu dan bayi. Fokusnya terutama pada ibu yang mengalami pengalaman masa kecil yang buruk dan memiliki permasalahan kesehatan fisik dan mental selama kehamilan dan setelah melahirkan, kemudian dikaitkan dengan perkembangan bayi mereka.

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa sekitar 12% bayi yang dilahirkan oleh para ibu dengan pengalaman yang kurang baik di masa kecil mengalami keterlambatan dalam komunikasi, keterampilan motorik, pemecahan masalah dan keterampilan sosial pada usia 1 tahun.

Pengalaman buruk yang dialami pada masa kecil antara lain menyaksikan orang tua berkelahi atau bercerai, memiliki orang tua dengan penyakit mental atau menyalahgunakan narkotika dan obat-obatan terlarang, mengalami pelecehan seksual, fisik, serta emosional.

Penelitian tersebut mengaitkan pengalaman buruk yang dihadapi pada masa lalu sebagai stres beracun yang dapat merusak tubuh dan memberikan permasalahan pada kesehatan fisik dan mental. Pengalaman buruk dan permasalahan tersebut rupanya dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Ternyata risiko-risiko di masa lalu tersebut dapat ‘diwariskan’ atau secara spesifik setiap rangkaian peristiwa atau pengalaman buruk yang dialami orang tua pada masa kanak-kanak akan membuat anak-anak mereka nantinya ikut merasakan kesulitan pada awal masa perkembangan,” ujar Sheri Madigan.

Salah satu alasannya mungkin karena ibu yang mengalami pengalaman buruk yang lebih banyak dan lebih kompleks pada masa kecil, akan memiliki risiko kesehatan yang lebih besar selama kehamilan. Pada gilirannya akan berdampak pada perkembangan bayinya.

Studi lain dari Pusat Medis Rumah Sakit Anak Cincinnati juga menemukan bahwa ibu yang terpapar setidaknya tiga bentuk pengalaman traumatis pada masa kecil, akan memiliki anak yang secara signifikan lebih mungkin mengalami keterlambatan dalam tumbuh kembangnya. Termasuk pemecahan masalah, komunikasi, keterampilan pribadi sosial, dan motorik.

Pemimpin studi Alonzo Folger mengatakan keterlambatan tersebut dapat membatasi kesiapan anak untuk melanjutkan sekolah serta merusak kesehatan emosional anak. Studi tersebut dilakukan kepada anak-anak usia dua tahun dan melihat paparan 10 bentuk pengalaman buruk di masa kecil yang berbeda kepada 311 ibu dan 122 ayah.

“Paparan masa kanak-kanak terhadap pelecehan, penelantaran dan bentuk lain dari permasalahan rumah tangga akan memberikan efek psikologis yang buruk,” ujarnya.

Menurutnya, efek tersebut juga dapat merusak pola pengasuhan dan keterikatan emosional orang tua terhadap anak sehingga mereka akan lebih sulit untuk menangani berbagai prilaku yang dilakukan oleh bayi dan balita.

Oleh karena itulah, agar pengalaman buruk orang tua yang terjadi pada masa lampau tidak mengganggu perkembangan dan pertumbuhan anak, diperlukan adanya intervensi dini sehingga orang tua akan lebih bisa menerapkan pola asuh yang positif kepada anak-anaknya.

Studi ketiga dari Pusat Medis Rumah Sakit Anak Cincinnati yang dipimpin oleh Anita Shah meneliti hubungan antara pengalaman masa kecil yang buruk dengan keterampilan dalam proses perawatan anak. Dia mengambil contoh dari 671 orang tua yang membawa anak mereka yang pulang dari rumah sakit.

Secara keseluruhan, 64% orang tua melaporkan setidaknya satu pengalaman buruk ketika kecil, dan 19% lainnya mengalami empat bentuk pengalaman buruk pada masa kecil. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa orang tua yang mengalami lebih banyak persoalan dan trauma selama masa kanak-kanak ditampilkan kurang memiliki ketahanan dan lebih sulit mengatasi dan merawat anak-anak mereka yang sakit.

Anita Shah mengatakan ketiga studi tersebut tidak dirancang untuk membuktikan apakah pengalaman masa kecil traumatis orang tua dapat berdampak langsung pada hasil kesehatan fisik atau mental anak-anak mereka.

Namun, hasil tersebut ingin menunjukkan bahwa perlu adanya dukungan ekstra kepada orang tua yang memiliki pengalaman traumatis di masa kecil sehingga dapat membantu memperbaiki kondisi mental dan psikologis mereka. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kualitas pola asuh untuk kehidupan anak-anak mereka di masa mendatang.