Anak Kurang Gizi Berisiko Gangguan Mental

Ilustrasi anak kurang gizi (Youtube)
12 Oktober 2018 05:00 WIB Chelin Indra Sushmita Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Kebutuhan gizi menjadi hal mutlak yang harus dipenuhi semua orang. Sebab, kekurangan gizi meningkatkan risiko gangguan mental pada anak-anak. Hasil penelitian yang dilakukan Elizabeth Poole-Di Salvo dari Weil Cornell Medical Center di New York, Amerika Serikat, menemukan kekurangan pangan sehat dalam keluarga berimplikasi pada risiko gangguan kesehatan mental.

“Berdasarkan data yang kami himpun, krisis pangan memengaruhi hampir 20 persen rumah tangga di Amerika Serikat yang memiliki anak-anak di bawah usia 18 tahun,” katanya, seperti dikutip Reuters, Kamis (11/10/2018).

Elizabeth menggunakan data dari hasil sebuah riset pada 2007 terhadap 8.600 anak pada rentang usia 12-16 tahun. Dalam studi tersebut, dia menghubungi orang tua—terutama ibu—dari anak-anak itu per telepon.

Para orang tua tersebut menjawab berbagai pertanyaan seputar kesulitan keuangan, kendala mendapatkan pangan bergizi selama 12 bulan terakhir, dan analisis gejala emosional dari anak-anak mereka. Ternyata, sebagian besar anak-anak itu mengalami gangguan emosional, seperti hiperaktif, merasa tertekan saat berada dalam kelompok sosial, dan merasa minder atau sulit bersosialisasi.

Berdasarkan data dari Academic Pediatrics, 10 persen anak-anak dari sampel penelitian tersebut hidup di tengah kondisi kekurangan pangan. Sementara itu, 11 persen lainnya terindikasi memiliki orang tua dengan gejala gangguan kesehatan mental.

Ada banyak indikator yang menghubungkan faktor kekurangan pangan dengan risiko gangguan mental pada anak. Beberapa di antaranya yakni status kemiskinan, pendapatan rumah tangga di bawah garis kemiskinan, dan orang tua yang tidak menikah. Indikator lainnya adalah perbedaan kelas dalam pergaulan remaja, rendahnya tingkat pendidikan orang tua, buruknya kesehatan orang tua, depresi orang tua, serta lingkungan tetangga dan sekolah yang tidak aman.

Elizbeth menjelaskan dengan indikator-indikator tersebut, dia menemukan anak-anak yang tidak tercukupi gizinya berisiko 2,3 kali lebih tinggi mengalami gangguan kejiwaan dibandingkan dengan anak-anak dengan gizi cukup.

“Hampir 29 persen remaja kurang gizi mengalami gangguan mental, dibandingkan dengan sembilan persen anak lainnya. Pola ini mencakup berbagai gejala gangguan mental, misalnya 26 persen anak mengalami masalah emosional dibandingkan 11 persen anak lainnya,” terangnya.

Lebih lanjut, 22 persen dari anak kurang gizi bermasalah dengan sifat hiperaktif dibandingkan dengan 11 persen anak lainnya, dan 20 persen anak kurang gizi bermasalah dengan pergaulan sosialnya, dibandingkan dengan sembilan persen anak lainnya. Faktanya, meskipun anak-anak tersebut dididik di sekolah gratis—yang seharusnya mengurangi beban pengeluaran orang tuanya—hal tersebut tidak berdampak terhadap kesehatan mental mereka.

“Kami khawatir bahwa gangguan mental akibat kekurangan gizi tersebut terjadi selama periode remaja, di mana pertumbuhan dan perkembangan anak-anak lebih cepat. Nutrisi yang tak mencukup akan meningkatkan risiko stress psikologis bagi remaja tersebut, dan berujung pada gangguan mental," tutup dia.