Manisnya Investasi Jam Tangan Mewah

Jam tangan Rolex (Istimewa)

Solopos.com, JAKARTA -- Jam tangan dengan segala kompleksitas mekanismenya adalah kemewahan dan keindahan tersendiri bagi para kolektor. Produkan Swiss seperti Rolex, Audemars Piguet, Tag Heuer, Patek Philipe, Richard Mille, dan Omega selalu jadi primadona di mata mereka.

Namun, dalam beberapa tahun ke belakang para produsen jam tangan mewah mengalami penurunan penjualan secara global. Faktor utamanya adalah merosotnya daya beli karena ketatnya pengawasan korupsi di China dan kehadiran smartwatch.

Kondisi ini mendorong geliat di secondary market jam tangan mewah. Jam tangan bekas (pre owned watch) yang dulunya sulit dijual kembali, justru kini menjadi barang buruan para kolektor jam tangan vintage.

Dikutip dari Bloomberg, di kawasan Amerika Utara, jual-beli jam tangan bekas tumbuh dengan pesat. Dalam 5 tahun terakhir, besaran pasar jam tangan bekas diperkirakan US$5 miliar. Pecahan pasar ini mengalami peningkatan 40% setiap tahunnya, sedangkan pasar utama jam tanan baru hanya meningkat sekitar 3%-5% per tahunnya.

Ada prediksi bahwa dalam 5 tahun ke depan pasar jam tangan bekas akan melebihi pasar jam tangan baru. Prediksi ini juga didasarkan pada data peningkatan impor jam tangan dari Swiss ke Amerika Utara yang hanya 3% pada tahun lalu, jauh lebih kecil dari jumlah impor pada dekade sebelumnya yang mencapai dua digit.

Di Hong Kong, perusahaan jual beli barang mewah dan perhiasan Govberg Jewels membuka Watchbox pada September 2017. Watchbox adalah platform e-commerce yang diperuntukkan bagi para penjual, pembeli, dan trading jam tangan bekas.

Semenjak dibuka, setiap bulannya jumlah penjualan mereka mencapai US$3 juta. Govberg berencana membuka gerai serupa di Inggris, Jerman, Perancis, Italia, dan Swiss. Mereka juga mulai menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah.

Apa yang dilakukan oleh Govberg adalah menjadi penjual dan bengkel reparasi resmi dan bergaransi. Mereka bersedia membeli jam tangan bekas dan menjual jam tangan baru kepada pelanggan.

Cara kerjanya mudah, jika Anda ingin menukar jam tangan Anda dengan jam tangan baru mereka akan langsung menghubungkan Anda dengan spesialis untuk menakar nilai jam tnagan lama dengan jam tangan baru. Anda tinggal mengirim jam tangan bekas, dan akan menerima jam tangan baru yang diinginkan dalam waktu kurang dari 48 jam.

Di Indonesia tren trading jam tangan ini pun kian menggeliat. Terbukti dengan hadirnya jasa dan institusi serupa Govberg di kota-kota besar seperti Jakarta. Salah satu contohnya adalah Preowned Watch yang membuka gerai di Blok M dan Kelapa Gading, Jakarta. Sementara itu, dari kalangan pemain lama seperti Goodwill Watch dan Harmoni Watch and Jewerly tren ini juga tampaknya membawa angin segar.

Perencana investasi dari OneShildt Finansial Budi Raharjo mewanti-wanti bahwa tak semua jam tangan mahal bisa jadi investasi, tetapi hanya barang yang memiliki reputasi saja. “Karena jam bermerek mahal itu tidak hanya ada satu atau dua, tetapi ada banyak dan belum tentu semua memiliki nilai yang sama.”

Selain reputasi, produk edisi terbatas adalah incaran yang patut dipertimbangkan lantaran nilainya jadi tinggi.

Budi menyebut kolektor menyukai jam-jam klasik yang memiliki nilai sejarah, diproduksi pada zaman tertentu, misalnya pada masa Perang Dunia II dan banyak digunakan oleh pilot dan militer.

Sebagai investasi, jam tangan mewah perlu diperlakukan berbeda, karena sewaktu-waktu akan dijual untuk mencari keuntungan. Perawatan yang benar jadi kunci untuk menjaga nilainya.

“Seni dan karakter itu yang membuat barang menjadi long lasting sehingga semakin lama akan semakin berharga. Jam mewah ini bisa saja dijual dengan harga yang lebih tinggi daripada harga beli.”

Pakar investasi sekaligus konsultan aktuaria, Risza Bambang, tidak merekomendasikan jam tangan mewah sebagai invesatasi masyarakat umum, walaupun tetap bisa menghasilkan keuntungan. Dia cenderung melihatnya sebagai koleksi kalangan atas.

“Bukan berarti koleksi itu tidak bisa memberikan keuntungan. Jadi bisa saja kolektor mendapatkan keuntungan dari barang yang dikoleksi,” katanya. (M. Taufikul Basari)

Sumber : Bisnis Indonesia