Bahaya! Jumlah Satwa di Dunia Turun 60% Akibat Ulah Manusia

Ilustrasi satwa liar. (Reuters/Baz Ratner)
31 Oktober 2018 21:05 WIB Ginanjar Saputra Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLOTahukah Anda jika jumlah satwa di dunia turun 60% dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun akibat ulah manusia? Hal itu terungkap dalam laporan World Wide Fund (WWF) yang melibatkan 59 ilmuwan dari seluruh dunia.

Direktur Eksekutif Sains dan Konservasi WWF, Mike Barrett, menjelaskan penurunan jumlah satwa yang terdiri atas mamalia, unggas, ikan, dan reptil di seluruh dunia dari 1970 hingga 2018 mencapai angka 60%.

Ia menjelaskan penurunan jumlah satwa itu merupakan suatu bahaya bagi peradaban manusia.

"Ini jauh lebih dari sekadar kehilangan kekayaan alam, ini sebenarnya merupakan bahaya bagi masa depan manusia. Alam bukan untuk dimiliki, alam liar adalah sistem pendukung kehidupan kita," ungkap Barrett seperti dikutip pada The Guardian, Selasa (30/10/2018).

Penurunan jumlah satwa dengan angka yang sangat besar itu terjadi karena beberapa sebab. Faktor ulah manusia yang terus-menerus membasmi habitat satwa liar disebut menjadi faktor terbesar. Selain itu, faktor konsumsi dan pencemaran lingkungan juga memiliki andil besar dalam penurunan jumlah tersebut.

Tahukah Anda satwa di habitat mana yang paling besar mengalami penurunan?

Barrett menjelaskan habitat yang mengalami kerusakan terbesar adalah sungai dan danau. Di dua habitat tersebut, penurunan jumlah satwa liar mencapai angka 83%. Pembukaan lahan pertanian dan pembuatan bendungan menjadi faktor penyebab rusaknya habitat satwa liar di sungai dan danau.

"Sekali lagi ada hubungan langsung antara sistem pangan dan penipisan satwa liar. Mengurangi konsumsi daging merupakan solusi untuk mengembalikan jumlah satwa," kata Barrett.

Solusi

Kini, negara-negara di dunia sedang bekerja keras untuk mencari solusi atas masalah penurunan jumlah satwa itu dan membicarakannya dalam Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati pada 2020 mendatang.

Barrett menyebut Konvensi PBB itu adalah kesempatan terakhir untuk mengembalikan keseimbangan alam di Bumi.

"Kami membutuhkan kesepakatan global baru untuk alam dan manusia. Kami memiliki waktu sempit karena kurang dari dua tahun kesepakatan itu akan dibuat. Ini benar-benar kesempatan terakhir. Kami harus melakukannya dengan benar kali ini," tutup direktur eksekutif sains dan konservasi WWF tersebut.