Diet Rendah Garam Tingkatkan Risiko Hipertensi

Ilustrasi garam (Pictagram)
02 November 2018 09:10 WIB Chelin Indra Sushmita Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Rasa makanan yang gurih dan asin sangat digemari masyarakat Indonesia. Berbagai makanan berasa asin dan gurih memang menimbulkan sensasi ketagihan. Namun, kebanyakan pelaku diet biasanya membatasi konsumsi makanan asin dan gurih karena dianggap mengikat lemak penyebab bobot tubuh membengkak.

Sodium yang terkandung di dalam garam memang berperan penting menjaga keseimbangan cairan tubuh. Namun, masalahnya kebanyakan orang mengonsumsinya dalam jumlah berlebihan yang akhirnya menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Sebenarnya, batas aman konsumsi garam per hari tidak boleh lebih dari lima gram atau sekitar satu sendok teh.

Tetapi, kebanyakan orang tidak sadar jumlah garam yang masuk ke dalam tubuh lebih dari ambang batas wajar. Sebab, hampir semua makanan, khususnya gorengan yang disantap mengandung garam. Dengan demikian, tubuh akan menahan air ketika jumlah konsumsi garam berlebihan. Hal ini memicu peningkatan tekanan darah.

Meski demikian, bukan berarti mengurangi atau sama sekali tidak mengonsumsi garam baik untuk tubuh. Dikutip dari BBC, Kamis (1/11/2018), sejumlah ilmuwan menyebut diet rendah garam berisiko memicu tekanan darah tinggi. Seorang ahli gizi dari McMaster University di Ontario, Amerika Serikat, menyebut, mengurangi asupan garam meningkatkan risiko hipertensi.

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa mengonsumsi garam dalam jumlah berlebih memang memicu berbagai penyakit, khususnya yang berhubungan dengan kardiovaskular. Meski demikian, bukan berarti Anda boleh mengeliminasi garam dalam makanan yang dikonsumsi.

Tubuh tetap butuh asupan garam. Namun, Anda harus memperhatikan jumlah garam yang dikonsumsi. Sebab, hampir semua makanan mengandung garam. Karena garam merupakan bahan penting yang menambah cita rasa suatu makanan.