Tahukah Anda? Ini Senyawa Kimia Berbahaya dalam Pembalut

Ilustrasi pembalut (Youtube)
09 November 2018 08:00 WIB Chelin Indra Sushmita Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Perilaku aneh sekaligus menyimpang dengan minum air rebusan pembalut baru tengah marak dilakukan sejumlah anak muda di wilayah Jawa Tengah. Air rebusan pembalut tersebut diminum sebagai pengganti narkoba jenis sabu, lem, atau pil koplo.

Diberitakan sebelumnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menemukan fakta tentang perilaku menyimpang tersebut. Mereka tak lagi mengonsumsi obat-obatan terlarang dan narkotika yang harganya mahal. Para remaja itu merebus pembalut untuk dikonsumsi airnya agar mendapat sensasi mabuk.

Air rebusan pembalut itu dinilai berbahaya bagi tubuh karena mengandung berbagai bahan yang semestinya tidak dikonsumsi. Dihimpun dari berbagai sumber, Kamis (8/11/2018), pembalut dibuat dari bahan kimia yang menimbulkan berbagai penyakit, mulai dari iritasi hingga kanker.

Bahkan, ada sejumlah pembalut yang memiliki kandungan klorin tinggi yang cukup berbahaya. Senyawa klorin bersifat korosif yang mengikis organ dan menyebabkan iritasi pada kulit saat memakai pembalut tersebut. Lantas, bagaimana efeknya jika senyawa itu dikonsumsi oleh tubuh?

Dilansir dari laman resmi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), klorin merupakan salah satu bahan kimia yang paling sering diproduksi di Amerika Serikat. Bahan kimia ini banyak digunakan dalam industri dan ditemukan di beberapa produk rumah tangga. Namun, klorin kadang-kadang ditemukan dalam bentuk gas beracun.

Klorin juga sering dipakai untuk membunuh bakteri berbahaya. Klorin juga dipakai sebagai proses sanitasi limbah industri. Namun, jika dikonsumsi bahan kimia tersebut menimbulkan berbagai bahaya untuk kesahatan.

Fenomena minum air rebusan pembalut memang telah marak terjadi di kalangan remaja sejak beberapa tahun belakangan. Menurut Kepala Bidang Pemberantasan (Kabidbrantas) Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Tengah, AKBP Suprinarto, menyebutkan perilaku remaja itu didorong karena tak mampu membeli narkoba yang harganya mahal.

Sebagai gantinya, mereka banyak yang meminum air rebus pembalut, mengonsumsi jamur kotoran sapi, atau mengisap lem, agar mendapat sensasi mabuk,” tutur Suprinarto.