Ketika Gangguan Pikiran Memengaruhi Tubuh  

Peserta tes CPNS yang mengalami gangguan psikosomatik diperiksa di Posko Kesehatan, kompleks GOR Diponegoro Sragen, Rabu (31/10 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
12 November 2018 21:00 WIB Arif Fajar Setiadi Lifestyle Share :

solopos.com, SOLO--Wajah temanku terlihat kesal, sepertinya ada masalah. Namun, saya tak ingin kepo dengan mengajukan sejumlah pertanyaan terkait wajahnya yang tampak lagi tak gembira. Biarlah dia yang memulai cerita, apa yang terjadi setelah mengantar temannya ke dokter.

Ya, dia baru saja dimintakan tolong sama teman satu kantor untuk mengantar ke dokter. Sang teman mengeluh kepalanya pening dan badannya merasa tidak enak. Tidak hanya itu, sang teman juga mengeluh rasa tak nyaman pada perutnya. Lalu kenapa setelah niat baiknya menolong teman dengan mengantarnya ke dokter berakhir dengan rasa jengkel.

Ternyata, dari cerita dia ke saya, temannya itu saat diperiksa ke dokter dijawab penyakitnya tidak terlalu berat. Namun, sang teman malah menyalahkan dokter yang memeriksanya, dan dia berkukuh dirinya sakit dan butuh perawatan medis lebih bahkan harus opname.

Sang teman memaksa dokter untuk membuat rujukan, padahal dokter memastikan kondisi tubuhnya akan baik-baik saja. Tidak puas dengan dokter tersebut, sang teman mengajak pindah ke dokter lainnya. Tujuannya sama memastikan bahwa dia sedang sakit dan butuh opname.

Hasilnya, tetap saja dokter itu mengatakan hal yang sama dengan dokter sebelumnya. Teman saya kesal, karena sepanjang perjalanan pulang sang teman tetap ngeyel dan menyalahkan dokter yang seakan-akan tidak becus memeriksa kondisi fisiknya. Kesal karena sang teman tidak percaya dengan dokter namun ngeyel periksa ke dokter. “Buat apa periksa ke dokter kalau tidak percaya apa yang disampaikan dokter. Aneh banget tuh anak,” ujar teman saya mengakhiri ceritanya.

Mengherankan juga, kenapa bisa sampai demikian. Jangan-jangan sang teman yang minta diantar ke dokter dengan keluhan sakit kepala migrain dan rasa tak nyaman di perutnya mengalami psikosomatik. Karena dia juga beberapa kali mengeluhkan hal serupa ke teman saya sebelum kejadian terakhir itu.

Apa itu gangguan psikosomatik, apa penyakit baru. Menurut dr. Dwi Murhayanto Sp.KJ., M.Kes., dokter jiwa di Rumah Sakit (RS) Indriati, Solo Baru, Sukoharjo, psikomatik adalah keluhan fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor psikologis (pikiran).

Hal ini sesuai dengan kata psikosomatik itu sendiri yang berasal dari kata pyscho yang berarti pikiran dan soma yang berarti tubuh atau fisik. Jadi keluhan muncul ketika seseorang memiliki beban pikiran, stres, cemas, dan depresi. “Jadi ketika diperiksa kondisi tubuhnya sesuai keluhan penderita psikomatik, dokter menyatakan sehat,” terang dr. Dwi Murhayanto ketika ditemui Solopos.com, di RS Indriati, Solo Baru, Sukoharjo, Rabu (7/11/2018).

Memang keluhan fisik pada penderita psikosomatik selalu berulang-ulang. Keluhan fisik tersebut disertai permintaan penderitanya untuk dilakukan pemeriksaan secara medis. Ketika pemeriksaan medis salah satu keluhan selesai, penderita akan meminta pemeriksaan yang lain, bahkan sering disertai pemeriksaan laboratorium juga.

“Ketika dijelaskan bahwa kondisinya sehat terkadang sampai beberapa kali, penderita tetap tidak percaya kalau dirinya sehat. Dia tetap merasa sakit dan perlu pemeriksaan medis, sehingga perlu pindah ke dokter yang lain. Itulah ciri psikosomatik,” ujar dr. Dwi Murhayanto.