SOLOPOS.COM - Barongsai merupakan salah satu atraksi di perayaan Cap Go Meh. (Ilustrasi/Freepik)

Solopos.com, SOLO-Perayaan Cap Go Meh merupakan tradiri yang diadakan 15 hari setelah Imlek. Istilah Cap Go Meh sendiri berasal dari bahasa Hokkien yakni Chap Goh Meh  dimana memiliki arti malam kelima belas.

Penyebutan perayaan Cap Go Meh ini hanya digunakan oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia dan Malaysia, lho. Di Tiongkok sendiri namanya adalah festival lampion.

Promosi BRI Cetak Laba Rp15,98 Triliun, ke Depan Lebih Fokus Hadapi Tantangan Domestik

Mengutip dari Wikipedia, Jumat (4/2/2022), perayaan Cap Go Meh sudah dilakukan sejak abad ke-17 Masehi pada masa Dinasti Han di Tiongkok, terutama ketika adanya migrasi masyarakat Tionghoa ke wilayah bagian selatan Tiongkok.

Baik raja mau pun masyarakat, mereka akan beramai-ramai merayakan di malam ke-15 bulan pertama penanggalan Tionghoa. Masyarakat kemudian akan memasang lampion dengan ragam warna untuk menakuti binatang perusak tanaman dan juga membuat pemandangan menjadi lebih indah.

Baca Juga:  Meriahkan Imlek 2022, Solo Grand Mall Gelar Pertunjukan Barongsai

Untuk memeriahkan perayaan tersebut, diadakan pula pertunjukan musik dengan barongsai yang turut menari. Dari sinilah kemudian perayaan Cap Go Meh dilakukan turun temurun oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Setiap daerah di Tiongkok memiliki tradisi perayaan Cap Go Meh yang berbeda-beda. Namun secara umum, tradisi Cap Go Meh akan dimulai dengan berdoa di wihara, lalu menyantap hidangan yang menjadi ciri khas perayaan tersebut yakni kue keranjang atau ti kwe, di mana makanan ini menyerupai dodol atau disebut sebagai dodol China.

Selanjutnya ada pula tradisi lainnya yang biasa ditemukan saat perayaan Cap Go Meh yakni pertunjukan tarian Barongsai yang disebutkan sebagai kuda berkepala naga atau Ma Lung Tze kemudian menjadi Barongsai di Indonesia. Adanya barongsai disebutkan sebagai lambang kebijakan umur panjang, kepatuhan dan rasa hormat kepada orangtua, keturunan yang cemerlang dan pemerintahan yang baik.

Tak hanya Barongsai, ada pula tarian Liong yang diisi oleh lebih banyak penari di dalamnya. Sesuai dengan namanya yang dalam bahasa Tiongkok berarti naga, tarian atraksi ini menggunakan banyak orang dan membentuk meliuk selayaknya naga yang sedang bergerak atau terbang.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa nama Cap Go Meh hanya populer di masyarakat Tionghoa Indonesia atau Malaysia, sementara di negara asalnya biasanya dikenal dengan festival lampion.

Baca Juga: Menengok Tradisi Tahun Baru Imlek di Negara-Negara Asia

Sesuai dengan namanya, masyarakat yang merayakan biasanya turut melangsungkan parade lampion yang begitu indah dan meriah. Sebagai informasi, di Indonesia sendiri juga turut melangsungkan festival lampion yang cukup meriah, meski memang tidak semeriah masyarakat Tionghoa sana.

Singkawang, Kalimantan Barat jadi pusat perayaan Cap Go Meh terbaik versi Indonesia. Selain penuh dengan lampion, pertunjukan barongsai dan replika naga yang begitu indah, festival Cap Go Meh di Singkawang juga menampilkan Tatung atau orang-orang pilihan yang dimasuki roh baik.

Baca Juga: Imlek 2022 Sudah di Depan Mata, Ini Karakteristik Shio Macan Air

Tak sekadar dimasuki roh, nantinya mereka akan ikut berkeliling daerah Singkawang sambil melukai tubuhnya sendiri. Inilah yang menjadi ritual unik dari Cap Go Meh, tujuannya adalah untuk menolak bala dna mengusir roh jahat.

Uniknya tradisi Tatung pada acara Cap Go Meh ini kemudian diakui oleh UNESCO sebagai tradisi yang patut dilestarikan. Itulah mengapa perayaan Cap Go Meh dilangsungkan secara besar-besaran di daerah Singkawang ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya