Lifestyle
Sabtu, 2 Mei 2020 - 03:00 WIB

Mengintip Kebun di Atap Rumah lewat Akuaponik Veltikultur

Mariyana Ricky P.d  /  Danang Nur Ihsan  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ilustrasi berkebun di atap rumah (Mariyana Ricky P.D.)

Solopos.com, SOLO — Tren urban farming kian diminati masyarakat. Ketika lahan tidak lagi tersisa, berkebun di atap rumah bisa menjadi salah satu cara. Ada banyak cara yang bisa dilakukan saat ingin punya kebun di atap rumah.

Misalnya Heni Wardatur Rohmah, pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Mata Aksara, ini punya kebun di atap rumahnya. Di atap rumahnya di Jalan Kaliurang Km 14 No. 15A, Tegalmanding, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Heni bersama pamannya, Badrudin, membuat kebun di atap rumah.

Advertisement

Kebun di atap rumah tersebut merupakan hasil terapan ilmu pertanian. Misalnya, teknik akuaponik yang perpaduan antara pertanian dan perikanan.

Teknik akuaponik mengkombinasikan akuakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik. Singkatnya, teknik ini memanfaatkan kotoran ikan yang dialirkan ke tabung media tanam menggunakan pompa.

Advertisement

Teknik akuaponik mengkombinasikan akuakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik. Singkatnya, teknik ini memanfaatkan kotoran ikan yang dialirkan ke tabung media tanam menggunakan pompa.

Dua Beruang Madu Lepas di Jogja, Sempat Masuk Pekarangan Warga

Air kolam yang mengandung kotoran ikan dimanfaatkan oleh tanaman sebagai nutrisi. Air kemudian disaring lagi dan dikembalikan ke kolam ikan di bawahnya. Perempuan 39 tahun itu menyebut tak semua tanaman dapat beradaptasi dengan sistem akuaponik.

Advertisement

Punya kebun di atap rumah sudah dilakoni Heni sejak beberapa tahun lalu. Heni mulai menanam sejak 2013 lalu. Kali pertama ia menjajal berbagai jenis sayur seperti sawi, terong, kacang panjang, dan pare.

Agar Tetap Aman Dikonsumsi, Ini Tips Menyimpan Makanan Saat Ramadan

Kemudian sejak 2015, Heni hanya menanam kangkung. “Kami membikin rak vertikultur dari pralon, botol air mineral bekas, bambu, tempat cat dan sebagainya. Luas dak sekira 6×9 m, yang di bawah modul akuaponik sekitar 1×1,5 m. Ikan yang kami pelihara adalah jenis lele,” ungkap Heni.

Advertisement

Sumber Ekonomi

Selama ini hasil panen dari kebun itu dimanfaatkan untuk kebutuhan relawan dan yang berkegiatan di Taman Bacaan Mata Aksara.

Namun ke depan, pihaknya berkeinginan memanfaatkan kebun di atap rumah sebagai salah satu sumber ekonomi.

Di Mlese Klaten, Warga Bisa Ambil Bantuan Sembako dengan Cara Pokwe

Advertisement

“Niat utamanya adalah mengajak warga sekitar untuk bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan yang ada. Bagi kami ini menarik karena bisa mengajak masyarakat untuk kembali bercocok tanam di dekat rumah dan bertanam yang sehat lewat pertanian organik,” kata Heni.

Ia mengurai biaya yang dikeluarkan untuk perawatan saat berkebun di atap rumah adalah biaya listrik pompa air. Di samping itu modal awal pembuatan vertikultur dan akuaponik, serta biaya pembuatan kolam ikan dan pembibitan tanaman.

Wali Kota Semarang Punya Anti Lapar-Lapar Club

“Hama yang menyerang paling semut dan kutu putih. Kami mengatasinya dengan efektif mikroorganisme kreasi sendiri. Sering saja melakukan pengamatan dan pengecekan. Membuat perlindungan paranet agar sinar matahari tidak langsung kena tanaman,” tandasnya.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif