Lifestyle
Senin, 27 Februari 2023 - 09:43 WIB

Menikah di Bulan Syakban, Cari Tahu Hukumnya Menurut Pandangan NU

Nugroho Meidinata  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ilustrasi menikah. (Freepik.com)

Solopos.com, SOLO — Menikah di bulan Syakban banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Terkait hal tersebut, banyak yang penasaran tentang keistimewaan dan hukum menikah menjelang bulan Ramadan tersebut dalam ajaran Islam.

Dalam Islam, terdapat dua bulan yang disunahkan untuk menikah, yakni Syawal dan Safar. Anjuran menikah di bulan Syawal diperoleh dari hadis Sayyidah Aisyah berikut ini.

Advertisement

“Dari Asiyah berkata, aku dinikahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Syawal, dan beliau berhubungan denganku di bulan Syawal.” (HR. Muslim).

Sementara untuk anjuran menikah di bulan Safar didasari dari hadis berikut. “Sesungguhnya Rasulullah menikahkan putrinya, Fathimah dengan Ali di bulan Shafar pada 12 bulan awal sejak hijrah menuju Madinah.” (HR. al-Zuhri).

Lalu, bagaimana hukum menikah di bulan Syakban?

Advertisement

Mengutip penjelasan Nahdlatul Ulama dalam situs resminya, NU online, menikah di bulan kedelapan dalam kalender Hijriah ini banyak alasannya. Mulai dari mengharapkan keberkahan Syakban, bekal menuju Ramadan untuk menambah pundi-pundi pahala, momen akhir tahun bagi kalangan santri, kesepakatan keluarga atau kebetulan sesuai dengan kemampuan finansial, dan lain sebagainya.

Salah satu ulama Syafi’iyyah, Syekh Bahnasi, menyebut anjuran menikah di bulan Syawal dan Shfar berlaku apabila memungkinkan menikah di kedua bulan tersebut. Bila tidak memungkinkan, maka anjuran pelaksanaan menikah disesuaikan dengan waktu yang paling memungkinkan, misalnya saja di bulan Syakban.

“Dan Syekh Bahnasi, semoga Allah mengasihinya, juga menulis, sunah menikah di bulan Syawal, maksudnya bila memungkinkan menikah di bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya secara seimbang. Maka bila ditemukan sebab menikah di selain bulan Syawal, maka hendaknya dilakukan di bulan tersebut,” bunyi keterangan Syekh Ali Syibramalisi dalam kitab Hasyiyah ‘Ala Nihayah al-Muhtaj.

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif