Owner Sharing, Jurus Tak Biasa Regar Sport Indonesia

Jumariyanto, bos Regar Sport Indonesia (Istimewa)
24 Desember 2018 13:30 WIB Cahyadi Kurniawan Lifestyle Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Perkembangan bisnis Regar Sport yang pesat menuntut terobosan-terobosan untuk mengikuti permintaan pasar. Regar Sport lalu menciptakan amunisi baru bernama owner sharing concept atau konsep berbagi kepemilikan.

Konsep ini bergerak dengan prinsip pemberdayaan #temanitusuksesbareng. Realisasinya adalah pembagian peran ke unit badan hukum CV di bawah Regar Sport Indonesia.

Badan hukum ini merupakan agen-agen yang “naik kelas” berdasarkan wilayah. “Ini merupakan tangan panjang Regar Sport. Sederhananya, omzet yang selama ini dihimpun induk, dibagi kepada CV-CV di bawahnya. Sistemnya sama. Menurut rencana, konsep ini kami luncurkan Januari mendatang,” kata owner Regar Sport Indonesia, Jumariyanto, saat berbincang dengan Espos beberapa waktu yang lalu.

Tak sekadar naik kelas, SDM di level agen ini pun dipersiapkan menjadi CV. Regar Sport melakukan sejumlah pelatihan guna peningkatan kapasitas soal teknik hingga kepemimpinan. Jika dinilai layak, agen mendapatkan hak usaha secara gratis.

“Target tahun depan kami bisa memiliki 48 CV. Kebutuhannya mungkin bisa 50 – 100 CV. Kami bikin bertahap,” imbuh pria alumnus IPDN Angkatan XI.

Konsep sharing ini pun diperluas termasuk menyasar UMKM di Wonogiri. Semua perubahan yang dilakukan Regar Sport harus berbasis IT. Aplikasi dibuat sendiri oleh komunitas Regar Sport yang rata-rata SMA/SMK dan terus dipacu kapasitasnya melalui berbagai pelatihan.

“Konsep owner sharing ini adalah bagaimana menyukseskan dari bawah, baru otomatis atasnya sukses. Kebanyakan, orang berpikir yang di atas harus sukses dulu. Kami tidak, #temanitusuksesbareng,” beber Jumariyanto.

Bangun Market Place

Aktivitas Regar Sport Indonesia

Foto: Aktivitas Regar Sport Indonesia di Wonogiri (Solopos-Cahyadi Kurniawan)

Dari konsep owner sharing berkembang menjadi market place. Produk yang dijual tak sekadar jersey, tetapi semua produk unggulan UMKM Wonogiri seperti mete, batik, singkong, dan lainnya. Menurut analisis Jumariyanto, di Indonesia setidaknya butuh 50-100 gerai dengan minimal satu di setiap provinsi atau satu di tiap kota besar.

“Isinya bukan hanya one stop sandang, melainkan produk UMKM juga ada di sana. Market place ini kami didik orang-orangnya, kebutuhannya. Kami latih mulai dari pelatihan produksi, CSR, dan lainnya,” kata dia.

Ia menilai kendala utama pengembangan UMKM di Wonogiri bukan di produksi melainkan pasar. Keberadaan gerai membantu mengatasi persoalan pasar bagi UMKM. Dengan begitu, produksi UMKM akan mengikuti permintaan pasar.

Di gerai, lanjut Jumariyanto, penyedia bisa jagongan dengan pelanggan termasuk pesan jersey dan produk UMKM. Sedangkan, di level UMKM, Regar Sport menambah kapasitas pelaku UMKM dengan pelatihan membuat Harga Pokok Produksi (HPP), menyusun Rencana Anggaran Bisnis (RAB), hingga penyusunan SOP untuk penjaminan mutu produk.

“Kelemahan UMKM biasanya itu murah karena yang penting laku. Kebanyakan mereka enggak memasukkan komponen tenaga dalam HPP. Akibatnya, sepertinya laku keras tapi rugi,” terang Jumariyanto.

Pembentukan gerai bukan pepesan kosong semata. Alasan utama adalah tingginya pelanggan yang melakukan repeat order di setiap kota. Regar Sport mengembangkannya menjadi pelanggan tak sekadar membeli jersey melainkan produk unggulan UMKM.

“Era disruption puncaknya pada 2025. Gerai-gerai banyak yang tumbang karena tidak punya basis dalam jaringan. Regar Sport punya,” tutur Jumariyanto.

Hal senada disampaikan Direktur I Regar Sport Indonesia, Anton Tyas Harjanto. Anton menambahkan letak geografis Wonogiri terbilang unik. Wonogiri menjadi satu-satunya daerah yang berbatasan langsung dengan tiga provinsi. Di sebelah timur berbatasan dengan Jawa Timur, di sebelah barat dengan DIY.

“Kalau melektakkan basis bukan daring, kami kalah dengan Solo, Semarang, Jogja. Mereka diam saja sudah dapat [pasar],” kata Anton.

Jumariyanto meyakini sistem ini bisa menggenjot omzet Regar Sport dari Rp4,7 miliar menjadi Rp16 miliar per bulan. Implementasinya adalah pada tahun 2019 Regar Sport memproyeksikan memiliki 48 gerai. Sistem ini dijalankan oleh anak-anak muda kreatif asli Wonogiri.

“Kreativitas bukan didorong atas kualifikasi pendidikan melainkan bagaimana mereka bekerja sehingga menghasilkan inisiatif yang tinggi,” tutur pria kelahiran Wonogiri, 9 Juni 1981.

Omzet itu dinilai bisa memberdayakan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dampaknya bisa menyasar ke UMKM bahkan BUM Desa. Dampak lain juga akan terasa di sektor pariwisata. Regar Sport berhasil mengidentifikasi potensi wisata di 25 kecamatan.

“Intinya bagaimana uang masuk ke Wonogiri bukan keluar dari Wonogiri. Misi secara umum demi kemakmuran Wonogiri. Paling tidak, kami bisa mewarnai dinamika ekonomi Wonogiri,” ujarnya.