Ubah Koleksi Barang Branded Bekas Jadi Uang Lewat Bisnis Preloved

Seorang wanita memotret koleksi makeup dan produk fashion untuk dijual lewat bisnis preloved online di Gentan, Baki, Sukoharjo, Minggu (6/1/2019). (Solopos - M. Ferri Setiawan)
07 Januari 2019 13:15 WIB Farida Trisnaningtyas Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO -- Dulu barang second dicap sebagai sesuatu yang tak menarik lagi, karena sudah bekas dipakai orang lain. Namun, kini jual beli barang second telah berkembang bahkan sampai ke dunia fashion.

Belakangan bisnis preloved shop yang kini menjamur makin mendongkrak reputasi barang second. Preloved shopping adalah istilah untuk menggantikan definisi barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi.

Preloved shop untuk barang-barang fashion bermerek menjadi alternatif bagi sebagian kalangan menengah-atas untuk memonetisasi barang-barang berharga mereka yang sudah tidak dipakai lagi. Sebaliknya, meskipun berstatus barang bekas, barang high-end fashion semakin diminati khususnya untuk kalangan menengah ke bawah yang selalu ingin tampil trendi dengan bujet terbatas.

Bisnis di bidang ini semakin hari tidak bisa dipandang sebelah mata. Bisnis preloved semakin diminati dan banyak diburu konsumen lantaran cukup menjanjikan. Menjamurnya bisnis preloved ini juga menjalar ke Soloraya.

Mulanya para pebisnis preloved menawarkan koleksi milik pribadi kemudian merembet jadi menjual barang titipan dari teman-teman. Salah satunya pebisnis preloved Maya Nugroho awalnya merintis bisnisnya sendiri dengan menjual aneka makanan secara online beberapa tahun lalu.

Perempuan asal Kelurahan Sumber, Solo, ini kemudian melebarkan sayap berbisnis preloved dengan rekannya pada 2016 lalu. Kini, ia membuka bisnis preloved sendiri melalui Instagram dengan akun Newprelovedpink.

Ia biasanya menjual baju, sepatu, tas, alat make up, kosmetik, dan parfum. Aneka barang fashion ini adalah koleksi pribadinya. Soal harga ia tidak ada patokan, tergantung kondisi barang.

Namun begitu, untuk preloved ini ia pasti banting harga sampai 50%. “Kalau dibilang untung, rasanya kurang pas karena saya menjual barang-barang yang sudah tidak saya pakai. Ini lebih cocok kalau dibilang biar balik modal,” tuturnya kepada Solopos.com, Sabtu (5/1/2019).

Misalnya, saat ini lewat akun Instagramnya ia menawarkan produk kosmetik second yakni foundation Loreal bekas 85% dijual Rp100.000, maskara Revlon Rp50.000, dan cream Bath & Body Rp85.000. Ada pula sepatu Hush Puppies yang pernah dibelinya seharga Rp1,2 juta dia tawarkan hanya Rp300.000.

Rekomendasi Teman

Pebisnis preloved lainnya, Berlian Yunita Margiati, baru empat bulan menggeluti bisnis ini. Awalnya ia biasa membeli aneka barang preloved dari preloved shopp online atas rekomendasi teman.

“Saya lalu berpikir kenapa enggak ikutan jualan dan akhirnya saya bikin akun Instagram khusus untuk preloved. Awalnya followernya nol, sekarang sudah 800-an,” tutur mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Solo ini.

Lewat akun @preloved_mutia ia menjual preloved khusus tas, sepatu, dan baju. Sementara untuk barang-barang yang ditawarkan ada koleksi pribadi hingga titipan teman.

Soal keuntungan, tergantung barang yang ditawarkan. Ada barang tertentu ia bisa mengambil untung Rp100.000, tapi ada pula yang penting dijual daripada tidak terpakai. Meskipun begitu, ia mengaku hasilnya bisa dipakai untuk membeli barang branded baru.

Sejumlah baju bermerek ia jual, mulai dari Zara, HnM, Uniqlo, Stradivarius, dan P&B. Blazer corduroy Zara dia jual hanya Rp85.000, ada pula dompet Michael Kors hanya Rp150.000.

Satna Dhinta juga mencoba membuat hobinya berbelanja menjadi penghasilan baru untuknya lewat preloved sale via Instagram. Beberapa barang yang dijualnya berupa tas merek Torch, Tory Burch, Long Champ hingga Marc Jacobs.

“Suami saya bilang, kalau kamu mau beli barang baru, barang yang lama harus dikeluarkan dulu. Jadi salah satu caranya ya ikut preloved sale begini. Meski dijualnya 50% dari harga asli enggak masalah, daripada barang-barang ini enggak kepakai,” tuturnya.

Perempuan yang bekerja sebagai karyawan bank di Jogja ini mengaku gemar belanja tas dan sepatu. Sejauh ini barang yang paling mahal berupa tas merek Torch seharga Rp5 juta. Bahkan, ada beberapa tas branded yang belum pernah dipakainya lalu dia jual kembali.

“Tas ini belum pernah saya pakai. Setelah saya beli baru sadar, mau dipakai buat apa ya,” kelakarnya.

Hobi berbelanja yang jadi penghasilan tambahan juga dialami Aurora Yeni. Manajer salah satu mal di Soloraya ini mengaku gemar berbelanja barang branded. Alasannya adalah barang premium ini awet dan bisa dijual kembali.

Belakangan ia suka mengoleksi tas keluaran Michael Kors dan Coach. Produk premium ini ia dapatkan baik belanja langsung di mal atau pun menggunakan jasa titip (jastip).

Jika bosan dengan barang tertentu, ia kemudian membuka preloved. Bahkan, ia sendiri juga pernah membeli barang preloved. Pertimbangannya adalah barang yang dijual edisi khusus dan susah didapat.

Sekarang, hobi shopping ini mendatangkan untung lantaran kini ia membuka jastip, tapi brand Eropa khususnya Jerman bekerja sama dengan sang sepupu yang sedang menempuh pendidikan di sana. Ini khusus sepatu, tas, make up, dan skin care.

“Jumlah barang branded saya ada puluhan. Paling mahal ada tas keluaran Dior harganya Rp35 juta, tapi itu pemberian mantan [pacar],” kelakarnya.

Make up artist (MUA) asal Solo, Fahmi Irawan, juga pernah membeli preloved kosmetik. Akan tetapi, barang yang dibelinya dengan pertimbangan harga barang barunya mahal dan susah dicari. Biasanya ia membeli make up di mal atau toko khusus kosmetik dan kadang memanfaatkan jastip.

“Saya memilih make up berdasarkan kualitas dan kebutuhan, bukan brand. Brand lokal pun banyak yang bagus kok. Dulu pernah beli preloved dari teman sesama MUA,” jelasnya.